Tampilkan postingan dengan label Pesan Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Spiritual. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

Perjalanan Ruhani Para Pencari Tuhan

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan bahwa Nabi Saw. diriwayatkan telah bersabda: “Dalam setiap keahilan khusus, engkau harus mencari bantuan dari ahlinya yang memenuhi syarat.”
Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Ibadah adalah keahlian khusus, dan ahli-ahlinya yang memenuhi syarat adalah mereka yang tulus (mukhlishîn) berkenaan dengan pekerjaan mereka, mereka yang berilmu tentang hukum dan yang mempraktikkannya, mereka yang mengucapkan selamat tinggal kepada makhluk-makhluk setelah maʽrifah mereka tentang-Nya, mereka yang lari dari diri mereka sendiri, dari harta dan anak-anak mereka dan dari segala sesuatu selain Tuhan mereka, yang lari dengan kaki hati mereka dan wujud terdalam mereka (asrâr) menuju hadirat Rabb Al-Haqq. Allah SWT telah berfirman:

وَإِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ. [ص: ٤٧ ]
“Dan sesungguhnya mereka di mata Kami termasuk orang-orang pilihan yang paling baik,” (QS Shâd (38) : 47)

Seorang yang beriman tak pernah berhenti merasa takut sampai jaminan kemanan (kitâb al-amân) diberikan kepada wujud terdalamnya (sirr), yang kemudian menyembunyikannya dari hatinya dan tidak membiarkannya menjadi sadar akannya. Tetapi ini hanya diberikan kepada segelintir individu saja.”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Celakalah engkau, wahai orang yang musyrik terhadap makhluk! Seberapa sering engkau akan mengetuk pintu-pintu yang tak dimiliki rumah-rumahmu sendiri di belakangnya? Seberapa sering engkau akan menempa besi tanpa api (untuk melelehkannya)? Engkau tidak punya akal sehat; engkau tidak punya fakultas nalar; engkau tidak punya kesadaran akan ketertiban dan arah. Celakalah engkau! Mendekatlah kepadaku, dan makanlah makanan yang bukan milikku (tapi milik Allah). Jika engkau pernah mencicipi makanan Sang Pencipta, maka hati dan wujud terdalammu (sirr) pasti akan menghindari makanan makhluk.

Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dialami dalam hati di belakang pakaian, bukan oleh daging dan bukan oleh kulit. Tetapi hati ini tidak cocok untuk apa pun selama ia masih terikat kepada makhluk. Keyakinan masih belum pasti selama hati masih mengandung satu zarah pun dari rasa cinta kepada dunia ini. Manakala iman telah menjadi keyakinan, keyakinan telah menjadi maʽrifah dan maʽrifah telah menjadi pengetahuan (‘ilm), maka engkau akan menjadi seorang ahli (jahbadz), demi Allah.

Engkau akan mengambil dari tangan orang-orang kaya dan memberi kepada orang-orang miskin. Engkau akan menjadi pemilik rumah makan, memberikan makanan bergizi dengan tanganmu, hatimu dan wujud terdalammu (sirr). Engkau tak layak mendapat penghormatan sama sekali, wahai munafik, sampai engkau seperti ini. Aduhai engkau! Engkau belum menerima pengajaran dari seorang syaikh yang takwa dan zuhud, yang berilmu dalam syariat Allah.

Aduhai engkau! Engkau menginginkan sesuatu dengan gratis. Itu tidak akan jatuh ke tanganmu. Jika hal-hal duniawi tidak bisa diperoleh tanpa upaya yang keras, bagaimana dengan sesuatu yang berada di hadirat Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung? Di mana engkau berdiri berkenaan dengan mereka yang telah dipuji oleh Allah dengan kata-kata yang tepat dalam kitab-Nya, karena mereka begitu sering beribadah kepada-Nya?

Mengenai mereka Allah SWT berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ الَّيلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالۡاَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ. [الذاريات :١٧ـ١٨]
“Mereka biasa tidur hanya sedikit di malam hari, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan,” (QS Adz-Dzariyat [51]:17-18)

Apabila Dia melihat ketulusan (shidq) pengabdian mereka kepada-Nya, maka Dia lalu menunjuk seorang perantara untuk membangunkan mereka dari tempat tidur mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw.: “Allah akan berkata: ‘Wahai Jibril, bangunkanlah si fulan, dan biarkanlah orang lainnya tidur.”

Mengenai manusia-manusia (pilihan Tuhan), manakala langkah-langkah kaki dari hati-hati mereka akhirnya telah membawa mereka kepada Tuhan mereka, maka mereka akan melihat dalam mimpi apa yang tidak pernah mereka lihat dalam keadaan jaga. Hati dan wujud terdalam mereka akan melihat sesuatu yang tidak mereka lihat ketika mereka dalam keadaan bangun.

Mereka telah berpuasa dan shalat, mereka telah menerangi diri rendah mereka dengan mengenakan kepadanya rasa lapar dan kehinaan, dan mereka telah bekerja keras siang dan malam untuk melaksanakan segala macam ibadah, sampai surga menjadi milik mereka. Tetapi setelah ia menjadi milik mereka, kepada mereka akan dikatakan: “Jalan itu bukanlah ini. Ia adalah pencarian kepada yang Maha Benar.” Kerja mereka harus dilakukan dalam ranah hati mereka. Maka apabila kerja itu mencapai-Nya, maka ia akan dikukuhkan dan diotentikkan dalam pandangan-Nya.

Apabila seseorang tahu apa yang dicarinya, maka dia akan menganggap kurang penting energi dan upaya yang dicurahkannya untuk mengabdi dan melayani Tuhannya. Seorang mukmin tidak akan pernah berhenti bekerja keras sampai dia bertemu dengan Tuhannya.
Nabi SAW telah bersabda:
“Apabila seorang manusia mati dan memasuki kuburnya, dan manakala dia sudah ditanyai oleh dua orang malaikat yang bernama Munkar dan Nakir, dan manakala dia telah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, maka ruhnya akan diizinkan naik kepada Allah dan bersujud di hadapan-Nya, bersama kumpulan malaikat. Dengan demikian ruh-Nya akan berjumpa dengan-Nya, dan untuknya akan dibuka semua yang sebelumnya ditabiri dari penglihatannya. Kemudian ruh itu akan dibawa ke Surga, untuk bergabung dengan ruh-ruh orang-orang yang saleh. Berbagai ruh akan maju ke depan dan mengucapkan selamat datang kepadanya. Mereka akan menanyakan kepadanya tentang situasi dan kondisinya dan tentang urusan-urusan dunia di bawah sana. Maka, ia akan menceritakan kepada mereka segala sesuatu yang diketahuinya. Kemudian mereka akan bertanya kepada ruh yang baru tiba itu: ‘Apa yang dilakukan si fulan?’ dan ruh itu akan menjawab: ‘Dia mati sebelum aku.’ Mendengar jawaban itu, ruh-ruh itu akan berkata: ‘Dia tidak pernah mencapai kami. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang tentunya sudah mengirimnya langsung kepada ibunya, Neraka Hawiyah.”

Kemudian ruh-ruh itu akan ditempatkan di tembolok salah seekor burung hijau yang makan dari tanam-tanaman di surga, dan yang mengungsi ke sebuah lampu yang tergantung di bawah Arasy.
Sebuah penuturan yang lebih lengkap mengenai burung-burung hijau dari Surga telah diberikan oleh Syaikh Abdul Qâdir dalam kitab Al-Ghuniyah Tharîq al-Haqq, di mana beliau menulis:

“Kami juga tahu bahwa ruh-ruh para syuhada dan semua orang beriman akan ditempatkan di dalam tembolok-tembolok burung-burung hujau, yang terbang bebas di Surga, dan mereka akan mengungsi ke lampu-lampu yang terang benderang di bawah Arasy. Kemudian, manakala tiupan sangkakala yang kedua terdengar, mereka akan kembali bergabung dengan jasad-jasad mereka di bumi, untuk menghadapi hisab dan perhitungan pada Hari Kebangkitan.

Kami mengetahui semua ini dari hadis yang telah sampai kepada kita melalui riwayat Ibn ‘Abbâs r.a., yang menurutnya Rasulullah Saw. pernah berkata: “Manakala saudara-saudaramu (yang beriman) dibunuh oleh seseorang (dari pihak kaum kafir), maka Allah akan menempatkan ruh-ruh mereka di dalam tembolok burung-burung hijau, yang terbang bebas di Surga, dan mereka akan mengungsi ke lampu-lampu yang terbuat dari emas dalam bayang-bayang ‘Arsyi. Kemudian, ketika mereka menemukan kualitas kenikmatan makanan, minuman dan tempat tinggal mereka, mereka akan berkata: ‘Siapa yang akan memberitahukan kepada saudara-saudara kita bahwa kita sebenarnya hidup, menikmati rezeki di Surga, sehingga mereka tidak menghindari jihad, sehingga mereka tidak lari dari peperangan suci?’ Maka Allah (Yang Maha Kuasa dan Maha Agung) akan mengatakan kepada mereka, sebab Dia adalah Yang Maha Benar di antara orang-orang yang berkata (Huwa ashdaqyl qâ’ilîn): ‘Aku akan memberitahu mereka!”

Di sini kita mendapatkan gambaran tentang perjumpaan seperti yang akan dialami oleh kebanyakan orang beriman. Semoga kedamaian Allah dilimpahkan kepada mereka semua, dan juga sambutan selamat datang dari-Nya! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan mereka! Hidupkanlah kami dengan kehidupan yang mereka jalani, dan matikanlah kami dengan kematian seperti yang mereka alami! Amin.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Sabtu, 05 April 2014

Nasehat untuk Istri

Wanita sebagai istri, memiliki pintu di rumahnya. Pintu itu bisa mengantarkan dia ke surga atau melemparkannya menuju ke neraka. Pintu itu hanya satu, SUAMI. Istri yang taat kepada suaminya, kelak memiliki kedudukan seperti lelaki yang mati syahid dalam peperangan di jalan Allah.

Setiap istri melayani suaminya, maka perbuatannya akan meninggikan derajatnya di sisi Allah.  Amal ibadah yang paling utama bagi seorang istri adalah melayani suami dan anak2nya.  Lebih utama dari ibadah sunnah apa pun.  Sebab itu merugi sekali wanita yang sibuk dengan zikir, tetapi suaminya terlantar tak dipikir.
 

Sibuk dengan al-Quran tapi suaminya tak pernah disediakan makan.
Sibuk dengan majelis maulud, tapi dengan suaminya selalu perang mulut.
Mendebat, bicara kasar, menyakitinya, memandangnya dengan pandangan rendah, meninggikan suara .....
Laa haula wa laa quwwata illa billaaaah
 

Wahai para istri .....
Tiada guna shalatmu
Tiada guna majelis yang kau hadiri
Tiada guna puasamu
Tiada guna zikirmu
Tiada guna hajimu
Tiada guna bacaan al-Quranmu
Tiada guna sedekahmu
Sebelum kau meminta maaf kepada suamimu
 

Jangan sakiti dia.  Walaupun terkadang dia memiliki kelemahan di sana-sini. Nabi telah menjelaskan, wanita yang menjadikan wajah suaminya berubah, maka tak akan diterima shalatnya walau sejengkal.
 

Dalam riwayat, wanita yang tak mau melayani suaminya di malam hari, dilaknat malaikat hingga pagi hari.  Selagi ada kesempatan, rubahlah sikap menjadi baik.  Selagi ada kesempatan minta maaf
 

Jadilah istri yang baik.  Tak perlu banyak ibadah selain itu.  Jika memang yg kau tuju surga.  Itulah jalannya
 

Carilah ridha suamimu.  Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari perbuatan yang bisa mendatangkan murka-Nya. Baik yang kita sadari atau tidak kita sadari.





By Habib Husin Nabil

Minggu, 14 Agustus 2011

Sudah Berapa Juz Alqur`an yang dibaca...???

Pahala mengamalkan satu sunnah pada bulan Ramadhan sama dengan pahala beramal wajib di luar Ramadhan. Dan pahala menunaikan satu amalan wajib pada bulan Ramadhan sama dengan pahala menunaikan tujuh puluh amalan wajib di luar bulan Ramadhan. Berkenaan dengan hal ini, kita hendaknya memikirkan keadaan ibadah kita. Dalam bulan keberkahan ini hendaknya kita berpikir, sejauh manakah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan suhnah. Perhatian kita terhadap amalan fardhu pada saat ini adalah demikian : Kebanyakan di antara kita meneruskan tidur setelah sahur, sehIngga mengqadha’ shalat Shubuh, setidak-tidaknya tertinggal shalat berjamaah. Seolah-olah inilah syukur kita, ibadah wajib yang sangat perlu diperhatikan malah kita qadha’ atau paling tidak kita menguranginya.

Padahal, para ahi ushul berpendapat bahwa shalat tanpa berjamaah adalah suatu kekurangan, bahkan Nabi saw. bersabda bahwa seolah-olah tidak sah shalat mereka yang tinggal di sekitar masjid, kecuali di masjid. Tertulis di dalam Mazhahiril-Haq bahwa barangsiapa shalat tanpa berjamaah tanpa udzur, maka kewajiban shalatnya sudah terpenuhi, namun pahala shalatnya tidak ia dapatkan. Demikian juga dengan shalat Maghrib. Biasanya, ketika itu orang sedang sibuk berbuka puasa, sehingga tidak perlu dibicarakan lagi tentang orang-orang yang tertinggal rakaat pertama atau takbir pertama. Mengenai shalat Isya, karena beranggapan untuk mengganti kebaikan-kebaikan pada shalat Tarawih, banyak yang shalat Isya sebelum waktunya.

Demikianlah amalan kita pada bulan Ramadhan. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, tiga amalan wajib lainnya dilalaikan. Inilah yang paling sering terjadi. Sedangkan shalat Zhuhur, karena tidur sebelum Zhuhur (qailulah), kita tertinggal shalat berjamaah Zhuhur. Begitu juga dengan shalat Ashar. Karena sibuk mempersiapkan makanan ifthar, maka tertinggallah shalat berjamaah Ashar.

Itulah yang semestinya kita pikirkan, sejauh manakah kita menunaikan kewajiban-kewajiban pada buan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika yang wajib saja begitu sulit untuk diamalkan, bagaimana dapat mengamalkan yang sunnah? Shalat Isyraq dan Dhuha pada bulan Ramadhan sering kita tinggalkan karena tidur. Apalagi shalat Awwabin, karena sibuk berbuka dan khawatir dengan shalat Tarawih yang panjang, akhirnya shalat Awwabin ditinggalkan, dan waktu shalat Tahajjud kita juga habis karena digunakan untuk sahur. Apabila demikian, kapankah ada kesempatan untuk melakukan shalat sunnah. Semua ini terjadi karena orang-orang tidak memperhatikan atau tidak ingin mengamalkannya.

Sebuah syair berbunyi:
Jika tidak ada kemauan, beribu-ribu alasan dapat engkau kemukakan.

Namun demikian, betapa banyak hamba Allah yang sempat memanfaatkan kesempatan yang sangat bernilai ini. Saya melihat sendiri guru saya, Syaikh Khalil Ahmad (nawwarallahu marqadahu) dalam beberapa bulan Ramadhan, dalam keadaan lemah dan lanjut usia, ia biasa membaca dan memperdengarkan satu seperempat juz Al-Qur’an dalam shalat nafil setelah Maghrib. Kemudian selama setengah jam ia makan dan menunaikan beberapa keperluan. Biasanya ia shalat Tarawih dan Isya kurang Iebih dua atau dua seperempat jam ketika di India, dan tiga jam ketika tinggal di Madinah. Lalu ia tidur selama dua atau tiga jam, sesuai dengan musimnya. Setelah itu ia membaca Al-Qur’an di dalam Tahajjud. Setengah jam sebelum shalat Shubuh, ia akan makan sahur, kemudian sibuk membaca hafalan Al-Qur’an atau wirid hingga Shubuh. Setelah shalat Shubuh dilanjutkan dengan muraqabah sampai Isyraq. Setelah itu, ia beristirahat lebih kurang satu jam, lalu sibuk menulis Badzlul-Majhud dalam bahasa Arab (sebuah kitab syarah hadits Abu Dawud) sampai tengah hari. Setelah itu ia membaca surat-surat dan mendiktekan balasannya (jika musim panas) hingga pukul 13.00. Kemudian Ia beristirahat kembali hingga tiba shalat Zhuhur dan membaca Al-Qur’an dan Zhuhur sampai Ashar. Dan dari Ashar sampai Maghrib, ia sibuk bertasbih dan berbincang-bincang dengan tamu-tamunya.

Ketika penulisan Badzlul-Majhud selesai, ia mengisi waktunya dengan menelaah kitab-kitab agama dan membaca Al-Qur’an. Ketika itu ia sangat berkonsentrasi terhadap Badzlul-Majhud dan Wafaul- Wafa. Demikianlah kegiatan tetap kesehariannya pada bulan Ramadhan tanpa ada perubahan. Dan shalat-shalat sunnah tersebut adalah amal harian yang biasa ia kerjakan, namun pada bulan Ramadhan rakaatnya lebih diperpanjang.

Para masyaikh lainnya juga sangat memperhatikan bulan Ramadhan, bahkan lebih hebat lagi, sehingga kita sulit meneladaninya. Syaikhul-Hindi (Syaikh Mahmudul-Hasan rah.a.) biasa mengenjakan shalat nafil setelah shalat Tarawih hingga fajar dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beberapa orang hafidz secara bergantian. Syaikh Abdurrahim Raipuri sibuk membaca Al-Qur’an siang dan malam selama bulan Ramadhan, sehingga ia tidak sempat melakukan surat menyurat atau menerima tamu. Para khadim dekatnya saja yang diizinkan sejenak menemuinya, yaitu setelah shalat Tarawih pada waktu minum satu dua cangkir teh.

Maksud saya menceritakan amalan para masyaikh dalam menghabiskan bulan Ramadhan ini bukan sekadar untuk bahan bacaan atau menyebarkan pemikiran, tetapi bertujuan untuk mendorong kita agar mengikuti mereka sesuai kemampuan yang ada. Betapa beruntung orang yang tidak bergantung pada kesibukan dunia dan berusaha memperbaiki kehidupannya dalam bulan ini, setelah melewati sebelas bulan lainnya dengan sia-sia.

Bagi orang yang biasa bekerja dan jam 08.00 hingga 16.00, tentu tidak memberatkan jika pada bulan Ramadhan dari Shubuh sampai jam kerja waktunya digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Meskipun sibuk dengan urusan dunia, kita tetap memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an, bahkan pada jam kerja sekalipun. Bagi yang sibuk di pertanian yang tidak bekerja atas perintah orang lain, jelas tidak ada penghalang untuk membaca membaca Al Qur’an ketika bekerja di sawah. Ia bebas menggunakan waktu kerjanya. Sambil duduk-duduk, ia dapat membaca Al-Qur’an. Demikian pula dengan pedagang; pada bulan Ramadhan, setidaknya mereka dapat mempersingkat jam kerjanya atau paling tidak menunggu dagangannya sambil membaca Al-Qur’an. Bagaimanapun, ada hubungan yang erat antara Ramadhan dengan Al-Quran.

Oleh sebab itu, hampir semua Kitabullah diturunkan pada bulan ini. Begitu pula Al-Qur’an telah diturunkan dari Lauhul-Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan. Lalu diturunkan berangsur-angsur menurut kejadiannya dalam masa kurang lebih 23 tahun. Selain itu, Ibrahim a.s. telah menerima shuhufnya (kitab suci) pada tanggal 1 atau 3 Ramadhan. Dawud a.s. menerima Zabur pada tanggal 18 atau 12 Ramadhan. Musa as. menerima Taurat pada hari ke-6, Isa a.s. menerima Injil pada hari ke-13. Dari sini dapat diketahui adanya hubungan yang erat antara kitab Allah dengan Ramadhan. Oleh karena itu, hendaknya kita membaca Al-Qur’an sebanyak mungkin pada bulan ini. Demikianlah kebiasaa waliyullah. Jibril a.s. pun membacakan seluruh Al-Qur’an kepada Muhammad saw. pada bulan Ramadhan. Riwayat lain menyatakan Nabi saw. yang membaca dan Jibril a.s. mendengarkannya.

Dengan menggabungkan riwayat-riwayat tersebut, para ulama menyatakan bahwa mustahab (sangat dianjurkan) membaca Al dengan cara seperti itu (seorang membaca, yang lain mendengarkan secara bergantian). Bacalah Al-Qur’an kapan saja ada kesempatan, dan waktu yang lain jangan disia-siakan.

(Kitab "Fadhillah Amal" Fadhillah Ramadhan yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandalawi RA)

Rabu, 06 Juli 2011

Perbaiki Niat Kamu (Pesan Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad)

Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata :

Bekerjalah kamu sebesar kemauan kerasmu dan niatmu karena sesungguhnya besarnya pahala itu diberikan sebesar kemauan keras dan niat, bukan dilihat dari besarnya amal. Kalau seandainya khazanah pemberian Allah itu cuman dipenuhi oleh amalan ibadah, dan jika diambil satu saja dari Malaikat yang amalannya selalu bersujud (kepada Allah) semenjak dunia ini tercipta sampai hari kiamat, bahkan Malaikat yang lain (berbuat seperti itu) dalam satu rekaat, sedangkan Allah memberikan karunia kepada mereka para Malaikat untuk selalu mengingat-Nya sebagaimana yang telah dimaklumi dari keadaan-keadaan para Malaikat tersebut, maka sebesar apakahamalmu (dibandingkan mereka)?. Oleh karenanya, be ar tidaknya suatu pahala hanya dapat diukur dengan seberapa besar niatnya itu.

Adakalanya suatu
amalan yang kecil dapat bernilai besar karena niatnya
Adakalanya suatu
amalan yang besar dapat bernilai kecil karena niatnya

Barangsiapa yang mengaku bahwa niatnya itu baik, maka seharusnya ia melihat kepada amalnya, karena setiap amalan pasti akan merujuk kepada niatnya. Jika amalnya baik, maka hal itu menunjukkan bahwa niatnya juga baik. Jika amalnya jelek, maka hal itu menunjukkan bahwa niatnya juga jelek.

Jika kamu berbuat suatu kebaikan, maka niatkanlah untuk bisa berbuat lagi seperti itu. Jikapun kamu tidak bisa berbuat lagi seperti itu, maka kamu sudah diganjar atas niatmu. Begitu juga jika kamu tidak bisa berbuat (suatu kebaikan), maka niatkanlah (untuk bisa berbuat}...

semoga bermanfaat amin

Minggu, 05 Juni 2011

Pesan Habib Ali Al Habsyi Shahib Maulid Simthud Durar

Perhatikanlah ibadah-ibadah sunnah, peliharalah ia dengan sempurna, dan berpegang teguhlah dengan sekuat kuatnya, terutama yang berupa ratib-ratib.  Berhati-hatilah, jangan sampai anda meninggalkan hal itu.

Hidupkanlah malam anda dengan bangun malam, hidupkanlah siang anda dengan berpuasa, dan perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah dengan sebanyak banyaknya, karena ia merupakan jaringan kecintaan, berdasarkan sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits qudsi, `Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya, (Di akhir hadits itu dikatakan, `Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya dimana ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya dimana ia melihat dengannya-dan seterusnya hingga akhir hadits tersebut).

Maka hiruplah dari sumber yang jernih.  Jadilah anda termasuk orang yang berlomba-lomba dalam hal itu sehingga memperoleh kedudukan tersebut, dan teguklah air hujannya.  Berjuanglah dengan sungguh sungguh untuk menolak keinginan keinginan lain yang datang di dalamnya dan kotoran kotorannya yang mencegah masuknya anda dalam lembaran lembaran penerimaan, dan berjalanlah menuju Tuhanmu dengan perasaan hina dan kurang, tanpa melihat amal amal yang telah dilakukan, dan berlepas dirilah dari perbudakan kotoran kotoran dan keinginan keinginan lain itu dengan berkata melalui lisan dan hati anda “Bukan diriku, bukan pula perbuatanku” (Maksudnya, semuanya itu berkat anugerah Allah, bukan karena kemampuan diri sendiri)

Barang siapa masuk pada wilayah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat “dan tidaklah ia melainkan seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya”, ia akan selamat dari keinginan keinginan itu, akan beristirahat dari dorongan dorongan tersebut, dan akan mengetahu bahwa, seandainya tidak ada limpahan kemurahan dari Allah, seseorang tidak akan mendapatkan tujuannya.  Amal amal yang dilakukan seseorang hanyalah untuk menunjukkan ubudiyyah (penghambaan), sedangkan pemberian pemberian dan anugerah itu semata mata merupakan pemberian dan kemurahan dari Allah SWT.

Wahai pecintaku, perhatikanlah kekurangan dalam  hal ihwal anda yang tertinggi, dan senantiasalah berbuat pengakuan.  Jadilah anda hamba bagi Allah, bukan bagi keuntungan keuntungan, dan perbanyaklah wirid wirid bacaan Al qur`an, wirid para salaf dan amalan hati.  Karena, anugerah yang datang dari Allah tergantung wirid yang dilakukan

Tidak melalaikan kematian (Pesan Imam Ali bin Abi Thalib)

Saya menasehatimu wahai manusia untuk bertakwa kepada Allah dan memujiNya sebanyak banyakNya karena nikmat nikmatNya kepadamu dan ganjaranNya bagimu serta hak-haknya atasmu.  Lihatlah betapa banyak Dia (Allah) telah memilihmu untuk nikmatNya dan memperlakukanmu dengan belas kasihan.  Kamu berbuat dosa secara terbuka, Dia terus menutupimu.  Kamu melakukan perbuatan yang mengundang hukumanNya, tetapi dia memberikan banyak waktu kepadamu untuk bertobat

Saya menasehatimu juga agar mengingat kematian dan mengurangi kelalaianmu atasnya.  Bagaimana kamu mengabaikan Dia yang tidak mengabaikanmu? Mengapa mengharapkan dari dia (malaikat pencabut nyawa) yang tidak akan memberi kesempatan kepadamu? Orang mati yang kamu lihat cukuplah sebagai penasehat.

Mereka dibawa ke kuburnya, tidak menunggang sendiri, dan di tempatkan kedalamnnya, tetapi bukan atas kemauan mereka sendiri.  Seakan-akan mereka tidak pernah hidup di dunia ini dan seakan akan akhirat telah merupakan kediaman mereka.  Mereka telah membuat sunyi tempat dimana mereka dulu hidup dan sekarang sedang hidup dimana dahulu mereka merasa sunyi.

Mereka dulu sibuk tentang apa yang mereka akan tinggalkan dan tidak peduli kemana mereka harus pergi.  Sekarang mereka tidak dapat melepaskan diri dari keburukan, tidak dapat pula menambah kebajikan mereka.  Mereka dilalaikan oleh dunia dan dunia itu menipunya.  Mereka mempercayainya dan menjungkirkan mereka

Semoga Allah menaruh belas kasihan kepadamu.  Maka dari itu, kamu harus bersegera kearah untuk mempersiapkan rumahmu, yang telah diperintahkan untuk diisi dan kemana kamu telah dipanggil dan diundang.  Carilah penyempurnaan nikmat Allah atasmu dengan sabar dengan ketaatan kepadaNya dan menahan diri dari pelanggaran karena hari besok dekat pada hari ini.  Begitu cepatnya saat-saat hari, begitu cepatnya hari-harinya bulan, betapa cepatnya bulan-bulannya tahun, dan betapa cepatnya tahun-tahunnya kehidupan.

Senin, 06 Desember 2010

Tidak Boleh Menentang Takdir Allah 2

Lanjutan Sebelumnya
 
Pada Ahad Pagi, 3 Syawal 545 H. Syaikh Abdul-Qadir AL-Jailani berceramah sebagai berikut :


……..Wahai ghulam, tidurlah di dalam pelukan takdir berbantalkan sabar, berselimut pasrah, sambil beribadah menantikan pertolongan Allah swt. Jika kamu berbuat demikian, Allah swt. akan melimpahkan karunia yang tidak kamu duga. Menyerahlah kepada ketentuan Allah swt., terimalah pesan ini. Kepasrahanku kepada takdir telah membuatku semakin dekat dengan Dzat Yang Maha menentukan. Kemarilah, kita bersimpuh di hadapan Allah swt., dan bersimpuh kepada takdir dan perbuatan-Nya. Kita tundukkan zhahir dan batin kita. Kita menerima takdir dan berjalan di atasnya. Kita memuliakan utusan raja karena melihat yang mengutusnya. Jika kita bersikap demikian terhadap-Nya, sikap itu akan mengantarkan kita untuk bershuhbah kepada-Nya.

“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak.“ {Q.s. Al-Kahfi: 4}.

Engkau akan minum dari lautan Ilmu-Nya, memakan dari gugusan karunia-Nya, dan berbahagia dengan sentuhan rahmat-Nya. Sungguh, keadaan ini hanya diberikan kepada satu di antara sejuta orang. Wahai ghulam, engkau harus selalu bertakwa, janganlah mengikuti nafsu dan kawan-kawan yang jahat. Seorang mukmin tidak boleh lelah dalam memerangi mereka. Janganlah memasukkan pedang ke dalam sarungnya, bahkan jangan turun dari keduanya. Dia tidur seperti para wali, makan ketika telah lapar, yang dibicarakan dan diam telah menjadi perangai mereka. Hanya ketentuan Allah dan perbuatan Allah yang membuat mereka berbicara. Allah swt. yang menggerakkan lidah mereka untuk berbicara sebagaimana Allah akan menggerakkan anggota badan mereka untuk berbicara kelak pada Hari Kiamat. Allah swt. yang menjadikan sesuatu dapat berbicara sebagaimana menjadikan benda-benda dapat berbicara. Dia menyediakan sebab berbicara sehingga mereka dapat berbicara. Jika Allah swt. menghendaki itu semua untuk mereka, maka Allah akan menyediakannya. Allah swt. telah menghendaki agar berita gembira dan peringatan itu sampai kepada manusia. Agar kelak dapat meminta pertanggungjawaban ke atas mereka, maka Allah swt. telah mengutus para nabi dan rasul a.s.. Manakala Allah swt. telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut, maka Allah swt. telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut dan membangun umat manusia. Nabi saw. telah bersabda, "Ulama adalah pewaris para nabi."
Bersyukurlah kepada Allah swt. atas segala nikmat-Nya dan pandanglah bahwa kenikmatan itu datang dari-Nya, sebagaimana Dia telah berfirman:

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)." {Q.s. An-Nahl: 531}.

Di manakah rasa syukurmu wahai orang-orang yang bergelimang dalam kenikmatan-Nya? Wahai orang yang menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Terkadang engkau menganggap kenikmatan itu datang dari selain¬ya, terkadang engkau meremehkannya, terkadang engkau memandang pada sesuatu yang tidak ada padamu, bahkan terkadang engkau menggunakannya untuk mendurhakai-Nya.

Wahai ghulam, dalam kesunyianmu, engkau memerlukan sifat wara' untuk mengeluarkan dirimu dari kemaksiatan dan kesalahan. Engkau juga perlu bermuraqabah supaya menyadarkanmu mengenai pandangan-Nya kepadamu. Dalam kesunyianmu, engkau memerlukan hal itu. Kemudian engkau harus memerangi nafsu keinginan dan syaitan. Kebanyakan manusia binasa disebabkan oleh dosa. Kebanyakan ahli zuhud binasa, disebabkan oleh syahwat, dan kebanyakan wali binasa disebabkan oleh pikiran mereka pada waktu khalwat. Sedangkan para shiddiqin terkadang binasa karena kelengahan sekejap. Jadi, kesibukan mereka adalah menjaga hatinya. Karena mereka tertidur di pintu raja, mereka bangkit untuk berdakwah menyeru manusia agar mengenal Allah swt.. Tidak henti-hentinya mereka menyeru hati manusia. Mereka berkata, "Wahai hati, wahai ruh, wahai manusia dan jin, wahai yang menghendaki Allah, marilah menuju pintu Allah swt.. Berlarilah kemari dengan langkah-langkah hatimu, dengan langkah-langkah takwa dan Tauhidmu. Ma'rifat, wara', dan zuhud dari sesuatu selain-Nya lalah kesibukan para wali. Cita-cita mereka adalah kebaikan umat. Cita-cita mereka adalah memenuhi langit dan bumi.

Wahai ghulam, tinggalkan nafsu dan keinginanmu. Jadilah bumi di bawah telapak kaki para wali itu dan tanah di depan mereka. Al-Haq Azza wa Jalla telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia mengeluarkan Nabi Ibrahim a.s. dari kedua ibu bapaknya yang mati dalam kekufuran. Orang mukmin itu ibarat hidup sedang orang kafir itu ibarat mati. Orang yang bertauhid itu hidup, sedangkan orang musyrik itu mati. Oleh karena itu Allah Swt. berfirman dalam hadits Qudsi:

"Orang yang pertama kali mati di antara makhluk-Ku adalah Iblis "

Yakni dia telah mendurhakai Allah swt. sehingga mati dengan sebab kemaksiatannya. Sekarang adalah zaman akhir, pada zaman ini telah muncul pasar kemunafikan dan kebohongan. Janganlah engkau duduk bersama orang-orang munafik, para pendusta dan pembohong. Celaka engkau; nafsumu pendusta, munafik, dan kufur, bahkan durhaka dan musyrik. Bagaimana engkau duduk dengannya? Tinggalkan ia dan jangan engkau ikuti bisikannya. Penjarakan ia. Berikan haknya saja, jangan lebih dari itu. Tahanlah ia dengan mujahadah. Adapun keinginan, tunggangilah ia agar jangan sampai menunggangimu. Juga watak, jangan temani ia. la seperti anak kecil yang belum berakal. Bagaimana mungkin engkau bisa belajar dari anak kecil? Syaitan adalah musuhmu dan,musuh ayahmu (Adam as). Bagaimana mungkin engkau dapat berdampingan dengannya? Engkau tidak akan selamat. Dia telah membunuh ayah dan ibumu. Jika engkau lengah sedikit saja, ia pasti akan membunuhmu. Jadikanlah takwa sebagai senjatamu. Kemudian tauhid, muraqabah, wara', shidiq, dan memohon pertolongan Allah swt. sebagai pasukanmu. Pedang dan pasukan itu akan menghancurkan syaitan dan tentaranya. Setelah itu engkau akan menang karena Allah swt. bersamamu.


Bersambung, Insya Allah

Selasa, 02 November 2010

Tidak Boleh Menentang Takdir Allah (Part 1)

PADA ahad pagi, 3 syawal 545 H. Syaikh Abdul-Qadir Al-­Jailani rah.a. berceramah sebagai berikut :

Menentang Al-Haq Azza wa Jalla atas takdir yang telah ditentukan-Nya berarti kematian agama, kematian tauhid, bahkan kematian tawakkal  dan keikhlasan. Hati seorang mukmin tidak mengenal kata mengapa dan begaimana, tetapi ia hanya berkata,"Baik." Nafsu memang mempunyai waktu untuk suka menentang. Barang siapa ingin memperbaikinya, ia harus melatihnya hingga aman dari kejahatanya. Semua nafsu itu amat jahat. Bila dilatih dan menjadi jinak, maka ia menjadi sangat baik. la akan setia menjalankan seluruh ibadah dan meninggalkan semua kemaksiatan. Maka ketika itu akan dikatakan kepadanya:

"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. {Q.s. Al - Fajr: 27-281}.

Pada saat itu nafsu telah tenang, hilang kejahatannya, dan tidak berhubungan dengan makhluk. Bahkan ia akan bertemu nasabnya dengan ayahnya, Nabi Ibrahim a.s.. Jika ia telah keluar dari kungkungan nafsunya, ia berjalan tanpa keinginan dan hatinva menjadi tenang. Meski datang banyak tawaran dari makhluk, ia hanya mengatakan, "Aku tidak memerlukan pertolonganmu." Pengetahuannya terhadap keadaannya menjadikan dirinya tak perlu meminta. Ketika telah sempurna kepasrahan dan ketawakalannya, maka dikatakan kepada api,

"Wahai api, dinginlah, dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (Q.s. Az.-Zumar: 10).

Tidak ada sesuatu yang Samar dalam pandangan Allah swt. Bersabarlah bersama-Nya sesaat saja, sungguh setelah itu akan melihat kelembutan dan kasih sayang-Nya selama bertahun­-tahun. Pemberani yang sesungguhnya adalah orang yang mau bersabar sesaat. "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah: 153).

Bersabarlah dalam menunggu pertolongan dan kemenangan. Bersabarlah bersama-Nya. Sadarlah kepada-Nya, dan jangan melupakan-Nya. Janganlah engkau sadar setelah mati, karena sadar setelah mati itu tidak berguna bagimu. Sadarlah sebelum mati. Bangunlah sebelum kamu dibangunkan, supaya kamu tidak menyesal pada hari penyesalanmu yang tidak berguna dan perbaikilah hatimu, sesungguhnya jika hatimu baik, maka seluruh keadaanmu akan menjadi baik. Nabi saw. bersabda:

“Dalam diri anak Adam ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh jasadnya dan bila is buruk, akan buruklah seluruh jasadnya. Ingat ia adalah hati."

Hati dikatakan baik bila diisi dengan takwa, tawakal, tauhid, dan ikhlas kepada-Nya dalam semua amalan. Bila tidak ada sifat-sifat tersebut, berarti hati dalam keadaan rusak. Hati ibarat burung dalam sangkar, ibarat biji dalam kelopak, dan ibarat harta dalam gudang.Yakni ia seperti burung bukan sangkar, seperti biji bukan kelopak, dan seperti harta bukan gudangnya. Ya Allah, sibukkan anggota badan kami untuk menaati-Mu dan sibukkan hati kami untuk mengenali-Mu sepanjang hidup kami Siang dan malam. Masukkan kami dalam golongan orang-orang shalih terdahulu, berilah kami rezeki dengan sesuatu yang telah Engkau berikan kepada mereka. Engkau untuk kami sebagaimana Engkau untuk mereka. Amin.

Engkau untuk Allah swt. sebagaimana orang-orang shalih untuk-Nya sehingga engkau mendapat sesuatu sebagaimana yang mereka dapatkan. Jika engkau menginginkan Allah Azza wa Jalla bersamamu, maka sibukkanlah dirimu dengan menaati-Nya, sabar bersama-Nya, serta ridha akan perbuatan-­Nya terhadapmu. Kaum itu telah zuhud pada dunia dan mengambil bagian mereka daripadanya dengan tangan takwa dan wara'. Kemudian mereka mencari akhirat dan melakukan amal-amal untuknya. Mereka mendurhakai nafsunya dan mentaati Tuhannya. Mereka menasihati nafsunya sendiri kemudian menasihati orang lain.

Wahai ghulam, nasihatilah dirimu terlebih dahulu, barulah kemudian menasihati orang lain. Engkau harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah engkau menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Celaka Engkau. Engkau ingin menyelamatkan orang lain sedangkan dirimu sendiri dalam keadaan buta. Bagaimana orang buta dapat menuntun orang lain? Yang bisa menuntun manusia hanyalah orang yang dapat melihat. Yang bisa menolong mereka dari tenggelam di lautan hanyalah orang yang tangkas berenang. Yang dapat menuntun manusia kepada Allah Azza wa Jalla hanyalah orang yang telah memiliki ma'rifat kepada-Nya. Adapun orang yang tidak mengenal-­Nya, bagaimana mungkin bisa dapat menunjukkan kepada­Nya? Engkau tidak mempunyai hak untuk berbicara tentang kebebasan perilaku Allah swt. Engkau harus mencintai-Nya dan beramal untuk-Nya, bukan untuk lainnya. Hanya takut kepada­Nya, bukan kepada yang lain-Nya. Ini merupakan ungkapan hati, bukan hanya di lidah. Ini adalah bisikan nurani, bukan gerakan lahir. Jika tauhid berada di pintu rumah sedangkan syirik berada di dalam rumah, itu kemunafikan namanya. Celaka engkau, lidahmu takut tetapi hatimu menentang. Lidahmu bersyukur sedangkan hatimu kufur. Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi: "Wahai anak Adam, kebaikan-Ku turun kepadamu sedang keburukanmu naik kepada-Ku."

Celaka, engkau mengaku menjadi hamba-Nya, tetapi me­naati selain Dia. Jika engkau benar-benar hamba-Nya, engkau tentu akan setia kepada-Nya. Seorang mukmin yang yakin tidak pernah mengikuti nafsu, syaitan, dan keinginannya. Ia tidak mengenal syaitan, apalagi menaatinya. Ia tidak mempedulikan dunia, apalagi tunduk kepadanya. Bahkan ia akan menghina­kan dunia dan mencari akhirat. Jika dia berhasil meninggalkan dunia dan.sampai kepada Tuhannya, maka dia akan murni beribadah kepada-Nya sepanjang hayatnya, sebagaimana yang dikehendaki Allah swt.,

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan Memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam {menjalankan} agama dengan lurus." {Q.s. Al-Bayyinah : 5}.

Tinggalkanlah bersekutu dengan makhluk. Tauhidkanlah Al-Haq Azza wa Jalla. Dialah pencipta segala benda. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya. Wahai pencari sesuatu selain Dia, sesungguhnva engkau tidak berakal. Adakah sesuatu yang tidak terdapat dalam khazanah Allah swt.?

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya.” {Q.s. Al-Hijr: 21}.

Bersambung, Insya Allah

Sabtu, 09 Oktober 2010

Nasehat Umar bin Abdul Aziz

"Sesuatu yang banyak di dunia ini sebenarnya sedikit, yang terhormat sebenarnya hina. yang kaya sebenarnya miskin, yang muda akan segera tua dan yang hidup akan segera mati. Bila kalian bisa berpaling darinya (dunia), lakukanlah secepatnya. Janganlah kalian tertipu melihat tampilannya, karena sudah banyak orang yang tertipu. Selain itu, janganlah kalian termasuk salah seorang di antara mereka."

Minggu, 26 September 2010

Dunia oh Dunia

Dunia Adalah Tempat Beramal

Abu Ubaidah Sa`id bin razin mendengar Hasan al-Bashri menasehati teman-temannya, Al-Hasan berkata, “ Sungguh dunia ini merupakan tempat beramal. barang siapa mengalami dunia dengan pandangan bahwa dunia ini penuh kekurangan dan ia berzuhud di dalamnya, tentu ia akan berbahagia, dan hubungannya dengan dunia ini memberi manfaat. Sedangkan orang yang mengalami dunia dengan penuh hasrat serta cinta padanya, tentu ia akan celaka, ia akan hanyut dari Allah Ta`ala bersama bagiannya, lalu dunia akan mengantarkan pada siksa Allah, siksa yang tidak akan mampu ia sabari dan tidak pula ia mampu menanggungnya.

URUSAN DUNIA ITU KECIL, PERHIASANNYA JUGA SEDIKIT DAN PASTI AKAN HANCUR BINASA. Allah Ta`ala adah penguasa warisan dunia. Semua penghuni dunia akan dipindahkan ke tempat yang tak lekang dan tak berubah. mereka akan dikeluarkan dari dunia.

“Maka waspadailah—kekuatan hanya ada karena pertolongan Allah—tempat tinggal itu, dan perbanyaklah mengingat tempat kembali. Wahai anak adam! putuskanlah hasrat berlebihmu terhadap dunia, jika tidak, tali dunia sungguh akan memotongmu, lalu ingatan—tentang sesuatu yang engkau diciptakan untuknya (kematian)—terputus dari dirimu, hatimu menyimpang dari kebenaran dan cenderung pada dunia, sehingga kemudian dunia menghancurkanmu. Dunia, itulah tempat buruk yang jelas bahayanya, manfaatnya akan terputus, dan—Demi Allah—ia akan menyeret hambanya menuju penyesalan abadi dan siksa yang amat pedih.

“Wahai anak adam, jangan tertipu! Engkau jangan merasa aman sebelum datang keamanan dari-Nya. Sungguh teror yang dahsyat dan urusan-urusan mengerikan ada di hadapanmu, dan sampai sekarang engkau belum terbebas darinya. Engkau mesti melaluinya dan menghadapi semua urusan itu:

“Mungkin Allah akan menegarkanmu menghadapi keburukannya dan menyelamatkanmu dari kengeriannya. Sedangkan jika kehancuran yang kau dapat, sungguh kehancuran itu merupakan wilayah yang mengerikan, men akutkan dan mengecutkan hati. Karena itu bersiap-siaplah! Larilah dari keburukannya. JANGAN SAMPAI PERHIASAN DUNIA YANG SEDIKIT DAN AKAN BINASA INI MEMBUATMU LALAI. Jangan berdiam diri dan menanti, usiamu cepat berkurang, dan ajalmu akan segera datang. Jangan katakan, `Besok, besok`, karena sungguh engkau tidak tahu kapan kembali kepada Allah.

“Ketahuilah, sungguh manusia menjadi tidak berguna dalam keindahan dunia, berebut dalam setiap keramaian untuk memperoleh segala sesuatu yang mengagumkannya. Ia senang mendapatkannya, bahkan berharap tambahan. Apapun semua itu yang bukan untuk Allah `Azza wa Jalla dan dalam rangka taat kepada-Nya maka pemiliknya akan merugi dan usahanya sia-sia.

“Sedangkan orang yang berusaha mendapatkannya karena Allah dan dalam rangka mentaati-Nya, berarti ia telah mendapatkannya dengan benar, dan ia akan mengambil bagian yang sekedar mencukupinya saja. Mereka berpegang pada kitab Allah dan janji-Nya, ingatan yang telah lalu dan yang masih tersisa serta kabar dari orang-orang yang telah mendahului mereka. Demikianlah ketentuan Allah pada hari ini, juga ketentuan-Nya pada orang yang telah lalu. Mereka semua akan menghadap Allah sambil membawa amal yang telah dilakukannya.

“Barang siapa telah ditentukan mendapat rahmat dan pahala dari-Nya, tentu baginya nikmat dan kemuliaan. Sedangkan yang telah ditentukan mendapat kemarahan dan siksa-Nya, tentu baginya kerugian dan penyesalan.

“Orang yang mendapat kejelasan dari Allah—bahwa ini adalah ketentuan-Nya dan inilah realitas—mesti memandang kecil apa yang kecil menurut Allah, mesti memandang agung apa yang agung menurut Allah.

“Bukankah Allah telah mengingatkan tentang sesuatu yang dibenci dan hina—setelah kematian—bagi ahli dunia. Tidaklah itu menentramkan jiwa seseorang dari kehidupan dunianya. Sungguh dunia akan segera lenyap, nikmatnya tidak akan abadi, sedangkan yang rakus terhadap dunia tidak mempercayainya. Yang baru dari dunia ini akan segera usang, yang sehat segera sakit, yang kaya jatuh fakir. Dunia akan menyesatkan pemburunya, mempermainkan mereka dalam setiap keadaan. Hanya orang yang mengambil pelajaran yang akan mendapatkan pelajaran dan kejelasan darinya. MAKA KENAPA ENGKAU MENUNGGU?

“Wahai anak adam, saat ini engkau ada di tempat yang akan segera mengusirmu, bahkan itu sudah dimulai. Semua yang masih ada akan menuju kematian, lalu diperlihatkanlah kepada ahli dunia berbagai urusan yang paling dahsyat dan berbahaya.

“Maka wahai anak adam, bertakwalah kepada Allah, jadikanlah usahamu di dunia untuk akhiratmu. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dari duniamu itu untukmu, selain yang engkau persembahkan. Jangan sampai hartamu membuat jiwamu hina. Jangan biarkan dirimu mengikuti sesuatu yang engkau tahu bahwa engkau akan meninggalkannya. Berbekallah untuk menempuh jalan panjangmu, persiapkan peralatanmu di hari-hari kehidupanmu sebelum datang kematian yang telah ditentukan Allah untukmu, lalu membawamu ke tempat yang engkau tidak inginkan. Sungguh engkau akan menyesal saat penyesalan tidak lagi berguna untukmu.

“Tanggalkanlah dunia dan tanggalkanlah keutamaannya, tentu jiwamu akan tenang menghadapinya. Sungguh jika melakukannya, engkau akan mendapat nilai yang lebih menguntungkan berupa nikmat yang tidak akan pernah lenyap, dan engkau akan selamat dari siksa yang amat pedih, siksa yang tak ada jeda dan istirah.

“Berjuanglah untuk akhirat yang niscaya menjadi tempatmu yang abadi, sebelum berbagai urusan tercerai darimu sehingga engkau kesulitan menghimpunnya kembali. Kawanilah dunia dengan tubuhmu dan pisahkanlah ia dari hatimu, agar engkau memperoleh manfaat dari usia yang telah berlalu di hadapanmu, yang telah menghalangi ahli dunia dari sesuatu yang sedang mereka alami. Sungguh ia akan segera binasa, dan akibat buiruknya sangat mengerikan.

“Hendaklah kekaguman ahli dunia terhadap dunia membuatmu bertambah zuhud dan waspada terhadap dunia, sungguh orang-orang saleh bersikap demikian.

“Wahai anak adam, ketahuilah bahwa engkau sedang berusaha mendapatkan hal besar, hanya hal-hal haram dan menghancurkan yang akan menguranginya. Jangan terjebak dalam tipu daya, sementara engkau melihat jalannya. Jangan tinggalkan bagian yang telah diserahkan kepadamu, engkau akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka murnikanlah amalmu. Jika engkau berada diwaktu pagi, maka tunggulah kematian, demikian juga di saat senja. Tidak ada daya dan upaya selain pertolongan Allah.

“Sesunggahnya orang yang paling selamat ia orang bertindak sesuai dengan perintah Allah, baik dalam waktu lapang maupun saat sulit, dan menyuruh para hamba untuk taat pada Allah dan rasul-Nya.

“Sungguh kalian sedang berada di tempat yang hina, tempat yang diciptakan sebagai fitnah, dan penghuninya dikenai ketentual ajal. Saat berakhir pada ajal, mereka binasa, lalu Allah mengeluarkan seluruh tanamannya dan mengubur semua binatang di dalamnya. Kemudian Dia memberitahu mereka tentang apa yang mereka kejar selama ini. Dia menyuruh hamba-hambanya untuk mentaati-Nya dalam segala urusan dunia yang dikeluarkan untuk mereka, lalu menjelaskan jalannya—yakni cara taat—dan menjanjikan surga bagi mereka. Mereka ada dalam kuasanya, tidak seorang pun diantara mereka dilemahkan. Tidak ada secuil amal pun tersembunyi dari-Nya. Usaha mereka di dalam dunia ini beragam. Ada yang maksiat dan ada yang taat, Allah akan membalas setiap orang setimpal dengan amal yang telah dilakukannya, dan bagi mereka bagian yang tidak pernah kurang.

“Aku tidak pernah mendengar bahwa Alah Ta`ala—tentang sesuatu yang dijanjikan bagi hamba-Nya dan yang diturunkan kepada mereka dalam kitab-Nya—menyuruh salah seorang mahluknya untuk mencintai dunia, tidak juga Dia merelakan hamba-Nya untuk bersantai dalam dunia, atau cenderung padanya. Bahkan Allah menurunkan ayat-ayat dan perumpaman bahwa dunia ini cacat, dan bahwa allah menyuruh hamba-Nya untuk menghindari dunia serta mencintai yang selain dunia(akhirat).

“Allah telah menjelaskan para hamba-Nya bahwa masalah kehancuran —yang dunia dan penghuninya diciptakan untuk itu—merupakan masalah besar dan sangat menakutkan. Allah memindahkan mereka darinya menuju tempat yang pahala mereka tidak menyerupai pahala dan dosa mereka tidak menyerupai dosa, yakni tempat keabadian. Di tempat ini Allah menghisab dan membalas hamba-Nya sesuai perbuatan mereka. Kemudian menempatkan mereka pada tempat mereka masing-masing, dengan siksa atau nikmat yang tidak pernah berubah. Semoga Allah mengasihi hamba yang mengusahkan yang halal dengan sunguh-sungguh, sampai jika yang halal ini berada di tangannya, ia mendistribusikannya sesuai dengan perintah Allah, dalam amal-amal kebaikan dan ketaatan.


“Wahai anak adam, kesulitan-kesulitan dunia yang menimpamu tidak bisa membahayakanmu jika kebaikan akhirat memurnikanmu.

Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur (QS. 102:1-2). Ayat ini mengungkap kenyataan manusia yang senantiasa mengumpulkan kekayaan dunia dan bermewah-mewahan selama hidup. Bermegah-megahan melalaikan kalian dari surga, dari seruan Allah dan kemuliaan-Nya.

“Sungguh kami telah bersahabat dengan orang-orang yang berkata`kami tidak membutuhkan dunia, bukan untuk dunia kami diciptakan. Maka mereka pun mencari surga dengan berbagai amal: usaha mereka sejak pagi sampai sore, serta menjaga sepanjang malam untuk beribadah—ya, demi Allah—sampai darah mereka tumpah di dunia. Mereka senantiasa berharap kepada Allah, maka mereka pun menjadi orang yang beruntung dan selamat. Dan damai bagi mereka. Tidak seorang pun diantara mereka yang melipat pakaian (yakni, hanya memiliki pakaian yang dikenakannya), tidak tidur di atas kasur dan senantiasa berpuasa, tampak hina, sedih dan takut. Bahkan jika kembali ke rumah—setelah seharian berada di luar— mereka tidak bertanya tentang makanan apa ini atau itu, jika ada makanan yang disuguhkan kepadanya, ia makan, jika tidak, ia diam. (Hilyah, 2/140-142)

Diambil dari buku: Wasiat-wasiat sufistik Hasan al-Bashri, Pustaka Hidayah, 2003.

Sabtu, 25 September 2010

Nasehat syeikh Abdul Qadir al Jilani

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Pagi, Bulan Dzul Qa’dah, 545 H. di Madrasahnya

Ada yang bertanya, bagaimana caranya saya agar bisa mengeluarkan dunia dari hati saya? Caranya? lihatlah bagaimana mondar-mandirnya, problematisnya dunia melalui para pecinta dunia dan generasi duniawi, bagaimana dunia membuat mereka terpedaya dan terekayasa, membuat mereka alpa dan menyeret mereka di belakang dunia, hingga dunia menumpuk di punggung mereka, memamerkan keajaibannya, dan kemewahannya.
 

Diantara mereka ada yang gembira, menikmati fasilitas dunia, hidupnya penuh dengan kecukupan dan banyak orang yang menghambakan pada dunia. Dan pundit-pundi dunia seperti sesuatu yang terikat di atas leher dan kepala mereka, tiba-tiba runtuh, hancur dan luluh lantah seketika. Dunia hanya terkekeh-kekeh menertawai mereka, sedangkan Iblis ada di sisinya tertawa bersama-sama dengan dunia.  Inilah sebuah aktivitas yang dikerjakan para raja, para penguasa, orang-orang kaya sejak zaman Nabi Adam dulu sampai besok hari kiamat. Dunia yang membuat mereka melambung namanya, tetapi juga menyungkurkan derajatnya. Dunia yang membuat mereka maju tetapi sekaligus terpental mundur ke belakang. Dunia yang membuat mereka kaya sekaligus membuat mereka jadi sangat miskin.
 

Yang paling langka diantara mereka, justru yang selamat. Karena dia bias mengalahkan dunia bukan dikalahkan dunia. Mereka tertolong dan terselamatkan Dari kejahatan duniawi. Dan mereka tergolong sangat terhitung jari. Mereka selamat dan tertolong karena mereka mengenal watak dunia, dan sangat kuat dalam mewaspadai tipudayanya.
 

Wahai penanya, jika anda bias memandang dengan kedua matahatimu pada cacat-cacat dunia, engkau bias mengeluarkan dunia dari dalam hatimu. Namun bila engkau memandang dengan bola matamu engkau akan sibuk dengan pesonanya, dan segala cacat dunia akan tertutup, sehingga kamu tidak mampu mengeluarkan dunia dari hatimu, engkau tidak mampu zuhud dari dunia, dan engkau malah dibunuh dunia sebagaimana orang lain membunuhmu.
 

Perangilah dirimu sendiri sampai dirimu meraih ketentraman. Bila engkau meraih ketentraman, dunia akan tampak cacat-cacatnya dan anda pun zuhud dari dunia. Ketentramannya terletak pada sikap hati yang menerima, dan sikap berselaras pada sirr (rahasia hati), dan jiwamu patuh pada keduanya atas apa yang diperintah dan dilarang oleh hati dan sirr. Anda menerima pemberiaan atau halangannya sekali pun. Itulah jiwamu akan tenteram pada qalbumu. Engkau akan melihat mahkota ketaqwaan dan kedekatan kepadaNya.
 

Karena itu hendaknya anda tetap teguh beriman yang benar, meninggalkan kedustaan, dan meninggalkan kontra dengan para Sufi. Jangan sampai kalian menentangnya, karena para Sufi adalah para penguasa dunia dan akhirat, mereka adalah para penguasa kedekatan Ilahi, karena mereka menguasai segala hal selain Allah.
 

Allah ta'ala telah mencukupi kaum Sufi dengan memenuhi hatinya untuk dekat kepadaNya, bermesraaan dalam kegembiraan cinta, dengan kemuliaan dan cahayaNya, kaum Sufi tidak menghiraukan orang yang memiliki dan memakan dunia, tidak memandang generasinya awal dan akhirnya, bahkan kehancurannya. Mereka menjadikan Allah Ta'ala sebagai pandangan mata rahasia batinnya. Mereka beribadah bukan karena takut akan kehancuran, tidak pula karena harapan memiliki, karena mereka diciptakan hanya untukNya, abadi bersamaNya, karena Allah menciptakan mereka sesuatu yang tidak anda ketahui. Allah berbuat sekehendakNya.
 

Sementara orang munafik itu ketika bicara malah berdusta, ketika berjanji malah menipu, ketika diberi amanah malah khianat. Siapa yang bebas dari ketiga karakter ini - sebagaimana dalam hadits Nabi SAW - berarti bebas dari kemunafikan.
 

Pekerti inilah yang membedakan antara Mu'min dan Munafik, maka raihlah sebagai cermin apakah dirimu itu munafik atau m'min, apakah dirimu bertauhid apakah musyrik. Dunia secara keseluruhan adalah fitnah dan sangat menghabiskan kesibukan, kecuali jika anda punya niat pada dunia untuk kemashlahatan akhirat. Bila niat benar maka semuanya akan menjadi ukhrawi. Jangan sampai nikmat ini semua sunyi dari syukur kepada Allah. Karena itu ikatlah nikmat Allah dengan syukur kepadaNya. Syukur kepada Allah Ta'ala dengan berterimakasih kepadaNya. Syukur itu sendiri ada dua macam.
 

Pertama: memanfaatkan nikmat untuk ketaatan dan menolong orang miskin;
Kedua; mengakui penuh bahwa yang memberi nikmat adalah Allah Ta'ala, dan berterimakasih kepadaNya.