Kamis, 03 Mei 2012

Keharmonisan Hubungan Antara Sahabat Dan Ahlul Bait Nabi

Syubhat 

Dalam Syiah, Sahabat dan Ahlul Bait Nabi digambarkan sebagai dua pihak yang saling memusuhi. Sahabat Nabi digambarkan sebagai penindas hak-hak Ahlul Bait, mereka selalu berbuat  dzalim pada Ahlul Bait, merampas hak kekhalifahan, merampas harta waris, bahkan berusaha membakar Rumah Keluarga Nabi. Sedangkan Ahlul Bait hanya bisa bertaqiyah (menyembunyikan kebencian mereka) sambil sesekali memprotes walau tidak ditanggapi. Benarkah demikian hubungan antara mereka ?

Kami Menjawab

Setiap orang bebas untuk berpendapat dan mereka-reka sejarah, tetapi kenyataan yang akan menilai apakah pendapat itu benar atau salah. Fakta yang tertera dalam literatur-literatur sejarah menunjukkan hubungan yang sangat harmonis antara Sahabat dan Ahlul Bait, sesekali memang terdapat perselisihan, dan itu adalah hal yang wajar, sebab persahabatan yang paling akrab sekalipun pasti sesekali diwarnai bumbu perselisihan. Tetapi secara garis besar hubungan mereka sangat akrab, harmonis dan saling memberi. Mereka saling memberi nama putra-putri mereka, dan saling menikahkan keturunan–keturunan mereka. Marilah kita lihat fakta berbicara.

Masalah Nama

Dalam Islam Nama merupakan hal yang urgen, Nama mengandung doa, harapan, dan wujud kecintaan orang tua atas anaknya. Seorang muslim yang baik akan menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang paling baik, dan tidak mungkin merelakan anaknya untuk memiliki nama yang sama dengan nama musuh-musuh Islam.

Jika kita melihat nama-nama keturunan Ahlul Bait, jangan heran jika disitu terdapat nama-nama sahabat yang “konon” adalah musuh-musuh islam menurut Syiah. Sebab sebenarnya tidak ada permusuhan antara para Ahlul Bait dan sahabat Nabi.

Mari kita perhatikan sejenak sebagian nama-nama keturunan Ahlul Bait Nabi

Ahlul Bait yang bernama Abu Bakar :

Abu Bakar Bin Ali Bin Abi Thalib (1)
Abu Bakar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib(2)
Abu Bakar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(3)
Abu Bakar Bin Abdullah Bin ja`far Bin Abu Thalib(4)
Abu Bakar juga adalah salah satu Nama Kunyah (Panggilan), Ali Bin Musa Al Kadzim(5)

Ahlul Bait yang bernama Umar :

Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib (6)
Umar Bin Muhammad bin Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib(7)
Umar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (8)
Umar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib  (9)
Umar Bin Ali Ashghor bin Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (10)
Umar Bin Hasan Al Aqthos Bin Ali Ashghor Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (11)
Umar Bin Husain Bin Zaid Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Yahya Bin Husain Bin Zaid Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(12)
Umar Bin Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq

Ahlul Bait Yang bernama Utsman :

Utsman Bin Ali Bin Abi Thalib (13)
Utsman Bin Aqil Bin Abi Thalib (14)

Ahlul Bait yang bernama Aisyah :

Aisyah Binti Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq (15)
Aisyah Binti Ja`far Bin Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq (16)
Aisyah Binti Ali Ridha Bin Musa AL Kadzim (17)
Aisyah Binti Ali Al Hadi Bin Muhammad Al Jawad Bin Ali Ridha (18)

Ahlul Bait yang bernama Thalhah

Thalhah Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. (19)

Penamaan keturunan Ahlul Bait dengan Nama-nama ini tentu bukan tanpa dasar dan tanpa makna. Tetapi Ini Adalah Bukti keharmonisan yang terjadi antara Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi. Telah biasa seorang menamakan keturunannya dengan tokoh yang mereka kagumi atau cintai. Jika Ahlul Bait memusuhi Para sahabat tidak mungkin mereka menamai anak-anak mereka dengan nama musuh-musuhnya sebagaimana kita lihat kaum Syiah sekarang yang sangat jarang menamai putra-putrinya dengan nama sahabat di atas.
Mungkin sebagian kaum Syiah akan berusaha menyangkal hal ini dan berkata, Nama Abu, Bakar, Utsman dan Umar adalah nama umum, jadi tidak bisa langsung direpresentasikan sebagai Abu Bakar Ashidiq, Umar Bin khatab atau Utsman Bin Affan.

Untuk menjawab hal ini perhatikanlah kisah berikut :

أبي سعيد قال مررت بغلام له ذؤابة وجمة إلى جنب علي بن أبي طالب فقلت ما هذا الصبي إلى جانبك قال هذا عثمان بن علي سميته بعثمان بن عفان وقد سميته بعمر بن الخطاب وسميت بعباس عم النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وسميت بخير البرية محمد ( صلى الله عليه وسلم ) فأما حسن وحسين ومحسن فإنما سماهم رسول الله
Dari Abu Said, beliau berkata “ Aku melewati seorang anak kecil yang rambutnya diikat sampai pundak berada di samping Ali bin Abi Thalib, Aku bertanya, “Siapa anak yang ada di sampingmu ?”, Dia (Ali bin Abi Thalib) menjawab, “ Ini adalah Utsman, aku menamainya (sama) dengan nama Utsman bin Affan, dan aku juga menamai (anak yang lain) dengan Umar bin Khathab, aku menamai (anak yang lain) dengan Abbas paman Nabi saw, dan Aku juga menamai (anak yang lain)  dengan nama makhluk terbaik Muhammad saw..” (20)

Jika Hal ini masih belum cukup untuk meyakinkan kita mengenai cinta-kasih yang ada di antara mereka, ada bukti lain yang sangat jelas dan tak dapat lagi dibantah, yaitu hubungan pernikahan antara Ahlul Bait dan keturunan para Sahabat.

Sekarang marilah kita simak hubungan perbesanan antara Rasulullah, ahlul baitnya dan para sahabat :

Pernikahan Rasulullah

Rasulullah menikahi Aisyah putri Abu Bakar, dan juga Hafshah Putri Umar(21). Keduanya termasuk putri-putri yang mulia. Sebagian kaum syiah sering menuduh yang bukan-bukan kepada keduanya tetapi, cukuplah ayat ini sebagai bukti kekeliruan mereka  :

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ [النور: 3[
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin (QS An Nur : 3)
Jadi, Menuduh yang tidak-tidak pada salah satu dari keduanya sama dengan tuduhan serius kepada kesucian Rasulullah.

Sebagian ulama syiah mempertanyakan nasab Umar dengan berita-berita yang tidak dapat bertanggung jawab, mereka tidak sadar, bahwa tuduhan ini sama dengan menuduh Rasulullah menikah dengan wanita yang keturunannya tidak jelas.

Ada pula yang menyamakan Aisyah dan Hafshah dengan istri Nabi luth yang kafir, tetapi mereka lupa bahwa Allah telah berfirman pada Nabi Muhammad :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ يَتَذَكَّرُونَ [البقرة : 221[

 “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu (Al Baqarah : 221)
Apakah Rasulullah melanggar perintah Allah dengan menikahi keduanya ?

Pernikahan Putri-Putri Rasulullah 

Rasulullah menikahkan dua putrinya Ruqoyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan(22), sehingga Utsman diberi julukan Dzu Nur`aini (pemilik dua cahaya). Dan Rasulullah menikahkan FatimahAli bin Abi Thalib(23). kepada

Mereka yang menuduh Utsman atau Ali sebagai seorang fasiq pada dasarnya menuduh Rasulullah memutus tali silaturahmi dengan putri-putrinya. Menikahkan putri dengan orang fasiq bukanlah sikap yang patut bagi seorang lelaki muslim biasa apalagi bagi seorang panutan kaum muslimin.

Pernikahan yang dilakukan Rasulullah dan putri-putrinya merupakan bukti eratnya hubungan cinta dan kekerabatan antara Rasulullah dan sahabatnya khususnya Khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar , Utsman dan Ali.

Hubungan baik itu tidak terputus sampai disini, banyak dari keturunan mereka yang mengikuti jejak leluhurnya melalui hubungan pernikahan antara anak cucu mereka.
Berikut sebagian dari hubungan pernikahan antara Ahlul Bait dan keturunan sahabat yang tercatat dalam sejarah :

Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Abu Bakar dan Keturunannya
  1. Aisyah putri Abu Bakar menikah dengan Rasulullah SAW
  2. Hafshah putri Abdurrahman Bin Abu Bakar Menikah dengan Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (24)
  3. Ummu Hakim Putri Al Qasim Bin Muhammad Bin Abu Bakar menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib (25)
  4. Ummu Farwah menikah dengan Muhammad Al Baqir Bin Ali bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (26)
  5. Ummu Salamah putri Muhammad Bin Thalhah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar menikah dengan Musa Bin Abdullah Bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (27)
  6. Kaltsam putri Ismail Bin Abdurrahman Bin Al Qasim Bin Muhammad Bin Abi Bakar menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(28)
Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Umar dan Keturunannya
  1. Hafshah putri Umar Bin Khathab menikah dengan Rasulullah saw
  2. Ummu Kultsum putri Ali menikah dengan Umar Bin Khathab(29)
Pernikahan antara Ummu Kultsum dan Umar, membuktikan hubungan yang baik antara Ali dan Umar. Adalah tidak mungkin Ali memberikan putri Fatimah kepada musuh Allah, tentu Beliau akan memberikannya kepada orang shaleh dari keturunan baik-baik. Sebab putri merupakan amanah Allah dan memberikannya kepada orang fasik sama dengan memutus tali silaturahmi dengan putrinya.

Sebagian orang syiah karena tidak rela dengan kejadian ini, mengemukakan alasan yang menggelikan. Mereka mengatakan Ummi Kultsum yang diberikan kepada Umar adalah Syaithan yang menyamar, tak perlu kita dengarkan alasan mereka yang kehabisan hujjah sehingga melontarkan tuduhan menggelikan ini.
Ada juga yang berkata bahwa itu bentuk taqiyah, lalu kemanakah keberanian Ali yang terkenal itu, bagaimana mungkin dia merelakan putrinya dinikahi seorang fasik hanya untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya.
  1. Juwairiyah putri Khalid Bin Abu bakar Bin Abdullah Bin Umar menikah dengan Hasan bin Ali bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (30)
  2. Ummu Hakim Putri Muhammad Bin `Ashim Bin Umar Bin Khathab menikah dengan Yahya Bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (31)
  3. Aminah putri Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Abdullah bin Umar Bin Khathab menikah dengan Abdullah Bin Muhammad Bin Ali Bin Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib(32)
Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Utsman dan Keturunannya
  1. Utsman Menikah dengan Ruqoyah dan Ummu Kultsum kedua putri Nabi
  2. Abban Bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum putri Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib(33)
  3. Marwan Bin Abban Bin Utsman menikah dengan Ummu Qosim putri Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib (34)
  4. Zaid Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Sukainah Putri Husain Ali Bin Abi Thalib (35)
  5. Abdullah Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Fatimah putri Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (36)
  6. Ruqoyyah putri Muhammad Bin Abdullah Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Ibrohim Bin Abdullah Bin Hasan Bin Hasan bin Ali Bin Abi Thalib(37)
  7. Aisyah putri Umar Bin `Ashim Bin Umar Bin Utsman menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(38)
Sebagian Pernikahan Antara Ahlul Bait Dan keturunan Sahabat Zubair Bin Awwam
  1. Abdullah bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Ummu Hasan Putri Hasan Bin Ali Bin Abu Thalib (39)
  2. Amr Bin Zubair Bin Awwam Menikah dengan Ruqoyah putri Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib
  3. Ummu Khalid putri Hamzah Bin Mus`ab Bin Zubair Menikah dengan Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (40)
  4. Mush`ab Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Sukainah putri Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (41)
  5. Ubaidah Putri Zubair Bin Hisyam Bin Urwah Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Musa Bin Umar Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (42)
  6. Ummu Amr Putri Amr Bin Zubair bin Amr Bin Amr Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Abdullah bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin ABi Thalib (43)
  7. Fatimah Putri Urwah Bin Hisyam Bin Urwah Bin Zubair menikah dengan Ja`far Bin Umar Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (44)
  8. Barikah Putri Ubaidillah Bin Muhammad Bin Mundzir Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Ibrahim bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (45)
Sebagian Pernikahan Antara Ahlul Bait Dan keturunan Sahabat Thahlhah Bin Ubaidillah
  1. Ummu Ishaq Putri Thalhah bin Ubaidillah menikah dengan Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib, kemudian setelah Hasan wafat menikah dengan Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (46)
  2. Nuh Bin Ibrahim Bin Muhammad bin Thalhah Bin Ubaidillah menikah dengan Abidah putri Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(47)
Demikianlah sebagian dari hubungan pernikahan yang terjadi di antara Ahlul Bait dan keturunan sahabat, dalam Al Qur`an Allah SWT berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang". ( QS Ar Rum : 21).

Tujuan pernikahan adalah untuk memupuk kasih sayang, Rasulullah telah mencontohkan hal itu dengan menikahi putri sebagian dari sahabat-sahabat yang dicintainya dan menikahkan putrinya kepada sahabat yang beliau cintai. Dan Para Ahlul Bait mengikuti jejak Rasulullah dengan menikahkan putra-putrinya kepada keturunan orang-orang yang mereka cintai.

Tidaklah mungkin mereka menikahkan putra-putri mereka tanpa alasan yang jelas, atau mengorbankan putra-putri mereka dengan alasan taqiyah, itu hanya khayalan orang yang tak dapat menerima kenyataan sejarah dengan mata terbuka dan berusaha untuk mereka-rekanya. Perhatikanlah bagaimana Al Imam Ja`far As Shadiq menunjukkan dengan tegas siapa kakeknya, beliau berkata  :

ولدني أبو بكر الصديق مرتين
Aku dilahirkan Abu Bakar dua kali

Hal ini karena ibu beliau bernama Ummu Farwah putri Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar dan ibu dari ibu beliau bernama Asma` putri Abdurrahman Bin Abu Bakar. (48)
Setelah melihat semua fakta ini, masihkah kita menganggap ada permusuhan di antara mereka ?



Referensi 

 (1)مقاتل الطالبيين (ص: 23، بترقيم الشاملة آليا) 
أبو بكر بن علي بن أبي طالب لم يعرف اسمه؛ وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم، وأم ليلى بنت مسعود عميرة بنت قيس بن عاصم بن سنان بن خالد بن منقر سيد أهل الوبر بن عبيد بن الحارث، وهو مقاعس؛ وأمها عناق بنت عصام بن سنان بن خالد بين منقر؛ وأمها بنت أعبد بن أسعد بن منقر، وأمها بنت سفيان بن خالد بن عبيد بن مقاعس بن عمرو بن كعب بن سعد، بن زيد مناة بن تميم.
 (2)مقاتل الطالبيين (ص: 23، بترقيم الشاملة آليا)
أبو بكر بن الحسن بن علي بن أبي طالب وأمه أم ولد، ولا تعرف أمه. ذكر المدائني في إسنادنا عنه، عن أبي مخنف، عن سليمان بن أبي راشد أن عبد الله بن عقبة الغنوي قتله. وفي حديث عمرو بن شمر عن جابر عن أبي جعفر: أن عقبة الغنوي قتله.
 (3)التنبيه والإشراف - المسعودي - الصفحة ٢٦٣
وقتل معه من ولد أبيه ستة وهم العباس وجعفر وعثمان ومحمد الأصغر وعبد الله وأبو بكر ومن ولده ثلاثة على الأكبر وعبد الله صبي وأبو بكر بنو الحسين بن علي، ومن ولد الحسن بن علي عبد الله  والقاسم، ومن ولد عبد الله بن جعفر بن أبي طالب عون ومحمد ومن ولد عقيل بن طالب خمسة مسلم وجعفر وعبد الرحمن وعبد الله بنو عقيل ومحمد بن أبي سعيد بن عقيل.
 (4)أنساب الأشراف (1/  271(
حدثني محمد زياد الأعرابي قال: ولد عبد الله بن جعفر: محمداً وبه كان يكنى، وأمه محشية من بني أسد. وعلياً، وعون الأكبر، وجعفر الأصغر، وعباساً، وأم كلثوم؛ أمهم زينب بنت علي بن أبي طالب، وأمها فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم. ومحمداً، وعبيد الله، وأبا بكر، قتل مع الحسين عليهم السلام، وأمهم الخوصاء من ربيعة، .....
 (5)مقاتل الطالبيين (ص: 146(
قال أبو الفرج: حدثني الحسن بن علي الخفاف، قال: حدثنا عيسى بن مهران، قال: حدثنا أبو الصلت الهروي، قال: سألني المأمون يوماً عن مسألة فقلت: قال فيها أبو بكر كذا وكذا. فقال: من هو أبو بكر؟ أبو بكرنا أو أبو بكر العامة. قلت: أبو بكرنا. قال عيسى: قلت لأبي الصلت: من أبو بكركم؟ فقال: علي بن موسى الرضا، كان يكنى بها، وأمه أم ولد.
 (6)الشجرة المباركة في الأنساب الطالبية (ص: 1(
بسم الله الرحمن الرحيم هذا مختصر في علم الأنساب المعقبون من أولاد أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ( خمسة: الحسن، والحسينمحمد وأمه خولة بنت قيس الحنفية، والعباس. المشهور بالسقاء وأمه أم البنين بنت حزام العامرية وعمر الأطرف وأمه الصهباء التغلبية. وأمهما فاطمة بنت رسول الله ، و
  (7)مقاتل الطالبيين (ص: 173)
أحمد بن الحسن وأحمد بن الحسن بن علي بن إبراهيم بن عمر بن محمد بن عمر بن علي بن أبي طالب.
 (8)تاريخ اليعقوبي - اليعقوبي - ج ٢ - الصفحة ٢٢٨
وكان للحسن من الولد ثمانية ذكور، وهم: الحسن بن الحسن، وأمه خولة بنت منظور الفزارية، وزيد بن الحسن، وأمه أم بشير بنت أبي مسعود الأنصاري الخزرجي، وعمر والقاسم وأبو بكر وعبد الرحمن لأمهات أولاد شتى، وطلحة وعبيد الله.
 (9)الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ١٥٥
باب ذكر أولاد علي بن الحسين عليهما السلام وولد علي بن الحسين عليهما السلام خمسة عشر ولدا: محمد المكنى أبا جعفر الباقر عليه السلام، أمه أم عبد الله بنت الحسن بن علي بن أبي طالب عليهم السلام. و عبد الله والحسن والحسين، أمهم أم ولد. وزيد وعمر، لأم ولد. والحسين الأصغر و عبد الرحمن وسليمان، لأم ولد. وعلي - وكان أصغر ولد علي بن الحسين - وخديجة، أمهما أم ولد. ومحمد الأصغر، أمه أم ولد. وفاطمة وعلية وأم كلثوم، أمهن أم ولد.
 (10)الفخري في أنساب الطالبيين (ص: 31)
من هذه الألقاب المنسوب إليها ما اشترك بين القبائل المشهورة وأنا أذكر هاهنا ستة من الاشهرين: منهم: الموسوية، هذه النسبة مشتركة بين بني الكاظم من الحسينيين، وبين موسى الثاني من الحسنيين.
والسيلقية الحسينيون، وهم ولد محمد السيلق ابن عبد الله بن الحسن الدكة ابن الحسين الأصغر. والحسنيون هم بنوا الحسن السيلق ابن علي بن محمد بن الحسين بن جعفر الخطيب. والشجرية من الحسينيين بنو محمد الأكبر بن عمر بن علي بن عمر الأشرف.
 (11)الفخري في أنساب الطالبيين (ص: 28)
بيت علي الأصغر بن علي زين العابدين عليه السلام وهم يعرفون بالافطسيين، منهم: بنو زبارة، وهو أبو جعفر أحمد بن محمد ابن عبد الله المفقود ابن الحسن بن الحسن الافطس. وبنو تزلج، وهو الحسين بن علي بن الحسن بن الحسن الافطس، وهو أبو عبد الله الأحول الشاعر. والخزريون، وهم بنو علي بن الحسن الافطس، وسبطه أبو جعفر محمد ابن علي بن علي الحوري يعرف بالخزري أيضا، واليه انتهى عقبه الصحيح. ومنهم بنو القصي، وهو أبو محمد الحسن بن زيد القصي ابن محمد بن علي ابن محمد الخزري. والسكران، وهو محمد بن عبد الله بن الحسين بن الحسن الافطس. بنو برطلة، وهو علي بن عمر بن الحسن الافطس، وهؤلاء مشاهير الحسينية الذين ينتسب أولادهم إليهم.
 (12)الشجرة المباركة في الأنساب الطالبية (ص: 36)
أما يحيى بن الحسين هذا، فله ابنان معقبان: عمر أبو علي الرئيس النقيب بالكوفة، وكان أمير الحاج. والحسن أبو محمد الفارس النقيب بالكوفة. أما عمر النقيب هذا فله من الأبناء المعقبين الذين لا خلاف فيهم ثمانية:
 (13) كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٢ - الصفحة ٦٧
ذكر أولاده الذكور والإناث عليه وعليهم السلام قال المفيد رحمه الله أولاد أمير المؤمنين عليه السلام سبعة وعشرون ولدا ذكرا وأنثى الحسن والحسين وزينب الكبرى وزينب الصغرى المكناة أم كلثوم أمهم فاطمة البتول سيدة نساء العالمين بنت سيد المرسلين محمد خاتم النبيين صلى الله عليه وآله وعليهم أجمعين ومحمد المكنى أبا القاسم أمه خولة بنت جعفر بن قيس الحنفية وعمر ورقية كانا توأمين وأمهما أم حبيبة بنت ربيعة والعباس وجعفر وعثمان وعبد الله الشهداء مع أخيهم الحسين صلوات الله عليه وعليهم السلام بطف كربلا أمهم أم البنين بنت حزام بن خالد بن دارم ومحمد الأصغر المكنى أبا بكر وعبيد الله الشهيدان مع أخيهما الحسين عليه السلام بالطف أمهما ليلى بنت مسعود الدارمية ويحيى وعون أمهما أسماء بنت عميس الخثعمية رضي الله عنها وأم الحسن ورملة أمهما أم مسعود بن عروة بن مسعود الثقفي ونفيسة وزينب الصغرى ورقية الصغرى وأم هاني وأم الكرام وجمانة المكناة بأم جعفر وأمامة وأم سلمة وميمونة وخديجة وفاطمة رحمة الله عليهن لأمهات أولاد شتى..
  (14)أنساب الأشراف (1/  272)
وأما عقيل بن أبي طالب ابن عبد المطلب فكان يكنى أبا يزيد - باسم ابن له - وكان من نساب قريش وعلمائها بها، وكان سريع الجواب لا يبالي من بده به. وأسر يوم بدر مع قريش، ففداه عمّه العباس بأربعة آلاف درهم. وكان إسلامه بعد الفتح. وولد عقيل: مسلماً، وعبد الله الأصغر، وعبيد الله وأم عبد الله ومحمداً، ورملة لأم ولد يقال لها: حُليّة. وعبد الرحمن، وحمزة، وعلياً وجعفر الأصغر، وعثمان، وزينب، وفاطمة، تزوجها علي بن يزيد بن ركانة من بني عبد المطلب بن عبد مناف.
 (15)كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٣ - الصفحة ٢٩
وكان لأبي الحسن عليه السلام سبعه وثلاثون ولدا ذكرا وأنثى منهم الإمام علي بن موسى الرضا عليه السلام وإبراهيم والعباس والقاسم لأمهات أولاد شتى وإسماعيل وجعفر وهارون والحسن لام ولد واحمد ومحمد وحمزة لام ولد عبد الله وإسحاق وعبيد الله وزيد والحسن والفضل وسليمان لأمهات أولاد وفاطمة الكبرى وفاطمة الصغرى ورقية وحكيمة وأم أبيها ورقية الصغرى وكلثوم وأم جعفر ولبابة وزينب وخديجة وعلية وآمنة وحسنة وبريهة وعايشة وأم سلمة وميمونة وأم كلثوم.
 (16)سر السلسلة العلوية ص 41 الهامش الذي كتبه المحقق
ولد جعفر بن موسى الكاظم بن جعفر الصادق يقال له الخواري، وهو لأم ولد ثماني نسوة وهي: حسنة وعباسة و عائشة وفاطمة الكبرى وفاطمة ( أي الصغرى ) وأسماء وزينب وأم جعفر....
 (17)كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٣ - الصفحة ٦٠
واما أولاده فكانوا ستة خمسة ذكور وبنت واحدة وأسماء أولاده محمد القانع الحسن جعفر إبراهيم الحسن (خ ل) وعايشة واما عمره فإنه مات في سنة مأتين وثلث وقيل مأتين وسنتين من الهجرة في خلافة المأمون وقد تقدم ذكر مولده في سنة ثلاث وخمسين ومأة فيكون عمرة تسعا وأربعين سنة وقبره بطوس من خراسان بالمشهد المعروف به عليه السلام وكانت مدة أبيه موسى عليه السلام أربعا وعشرين سنة وأشهرا وبقائه بعد أبيه خمسا وعشرين سنه آخر كلامه.
 (18)الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ٣١١
وتوفي أبو الحسن عليه السلام في رجب سنة أربع وخمسين ومائتين، ودفن في داره بسر من رأى، وخلف من الولد أبا محمد الحسن ابنه وهو الإمام من بعده، والحسين، ومحمدا، وجعفرا، وابنته عائشة.
 (19)أنساب الأشراف (1/  391)
قال أبو اليقظان وغيره: ولد الحسن بن علي عليهما السلام: حسناً، ......وأبا بكر وعبد الرحمن. والقاسم، أمهم أم ولد ولا بقية لهم. وطلحة بن الحسن أمه أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله، وأمها ابنة قسامة طائية. وعمرو بن الحسن، أمه ثقفية، ويقال أم ولد. وأم عبد الله لأم ولد، تزوجها علي بن الحسين.
 (20)تاريخ دمشق (45/  304)
أخبرنا أبو عبد الله محمد بن إبراهيم النشابي أنا أبو الفضل أحمد بن عبد المنعم بن أحمد بن بندار أنا أبو الحسن العتيقي أنا أبو الحسن الدارقطني نا أبو بكر الشافعي نا عبد الله بن ناجية نا عباد بن أحمد العرزمي نا عمي عن أبيه عن عمرو بن قيس عن عطية عن أبي سعيد قال مررت بغلام له ذؤابة وجمة إلى جنب علي بن أبي طالب فقلت ما هذا الصبي إلى جانبك قال هذا عثمان بن علي سميته بعثمان بن عفان وقد سميته بعمر بن الخطاب وسميت بعباس عم النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وسميت بخير البرية محمد ( صلى الله عليه وسلم ) فأما حسن وحسين ومحسن فإنما سماهم رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) ....
 (21)أنساب الأشراف (1/  181)
تزوج عائشة بنت أبي بكر الصديق رضي الله تعالى عنه. وأمها أم رُومان بنت عمير، من بني كنانة، وأمها كنانية أيضاً. وقال بعضهم: أم رومان بنت الحارث بن الحويرث. وذلك خطأ. وكانت عائشة مسماة لجبير بن مطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف، فسلها أبو بكر سلاّ وزوّجها رسولَ الله صلى الله عليه وسلم. والثبت أنها لم تُسَمَّ لأحد قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم. ولم يتزوّج رسولُ الله ببكر غيرها، وكان أبا عُذرها. وتزوّجها بمكة وهي ابنة ستّ، ويقال سبع. وابنى بها وهي ابنة تسع في شوال سنة إحدى من الهجرة. وكانت أحب نسائه إليه.
أنساب الأشراف (1/  187)
وتزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم حفصة بنت عمر بن الخطاب بن نُفيل بن عبيد العزى، رضي الله تعالى عنها في شعبان، سنة ثلاث قبل أحد بشهرين. وأم حفصة: زينب بنت مظعون بن حبيب بن وهب بن حذافة، أخت عثمان بن مظعون. وأمها خزاعية. وكانت حفصة عند هنيس بن حذافة بن قيس بن عدي بن سعد بن سهم بن عمرو بن هُصيص بن كعب بن لؤي، فمرض والنبي صلى الله عليه وسلم ببدر وهو معه. ومات مقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدر. فخلف عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك.
 (22)نسب قريش (ص: 35 )
هاجر عثمان بن عفان الهجرتين إلى أرض الحبشة، مع رقية بنت النبي صلى الله عليه وسلم. وخلفه رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابنته حين خرج إلى بدر؛ وكانت رقية مريضة؛ فماتت يوم قدم يوم زيد بن حارثة المدينة بشيراً بفتح بدر. وضرب له رسول الله صلى الله عليه وسلم بسهمه وأجره، وزوجه أم كلثوم بعد رقية، واستخلفه في غزوه إلى غطفان بذي أمر، بنجد.
 (23)الطبقات الكبرى لابن سعد (8/  22)
أخبرنا محمد بن عمر، حدثني عبد الله بن محمد بن عمر بن علي عن أبيه قال: تزوج علي بن أبي طالب فاطمة بنت رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في رجب بعد مقدم النبي، صلى الله عليه وسلم، المدينة بخمسة أشهر وبنى بها مرجعه من بدر، وفاطمة يوم بنى بها علي بنت ثماني عشر سنة.
 (24)مختصر تاريخ دمشق (ص: 3409)
تزوج الحسن بن علي حفصة ابنة عبد الرحمن بن أبي بكر وكان المنذر بن الزبير قد هو بها فأبلغ الحسن عنها شيئا فطلقها الحسن فخطبها المنذر فأبت أن تزوجه وقالت : شهر بي . فخطبها عاصم بن عمر بن الخطاب فتزوجها
الطبقات الكبرى (8/  468)
حفصة بنت عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق بن أبي قحافة بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم وأمها قرينة الصغرى بنت أبي أمية بن المغيرة بن عبد الله بن عمر بن مخزوم كانت عائشة أم المؤمنين زوجتها المنذر بن الزبير بن العوام وكان أبوها عبد الرحمن بن أبي بكر غائبا فلما قدم لم يجز ذلك ورده فلما صير الأمر إليه زوجها إياه فولدت له عبد الرحمن وإبراهيم وقرينة ثم خلف عليها بعد المنذر حسين بن علي بن أبي طالب وقد روت حفصة عن أبيها وعن عمتها عائشة وعن خالتها أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم سماعا
 (25)أنساب الأشراف (1/  272)
فولد إسحاق القاسم؛ أمه أم حكيم بن القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق، وأمها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر، وله عقب. وقال غير ابن الأعرابي: كان لعلي بن عبد الله بن جعفر عقب أيضاً.
 (26)الجوهرة في نسب النبي وأصحابه العشرة (ص: 288)
وولد محمد الباقر جعفرا وهو الصادق: ولده أبو بكر الصديق، رضي الله عنه مرتين. أمُّه أمُّ فروة بنت القاسم بن محمد بن أبي بكر، وأمُّها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر. وكان من ساكني المدينة. وبها مات في خلافة أبي جعفر في قول المدائني والواقدي. قال الواقديُّ: لمَّا خرج محمد بن عبد الله بن حسن بن حسن بالمدينة على أبي جعفر هرب جعفر بن محمد إلى ماله بالفُرُع. فلم يزل هنالك مقيما متنحِّيا عما كانوا فيه، حتى قُتل محمد فلما قُتل محمد واطمأنَّ الناس وأمِنوا رجع إلى المدينة، فلم يزل بها حتى تُوفي سنة ثمان وأربعين ومئة. وهو يومئذ ابن إحدى وسبعين سنة. وكان فاضلا، وتكذِب عليه الشيعة كثيرا، وكان من شيوخ مالك وسفيان الثوريِّ. ولمالك عنه في الموطأ تسعة أحاديث، منها خمسة متصلة مسندة، أصلها حديث واحد وهو حديث جابر الطويل في الحج، والأربعة منقطعة، وكان يُكنى أبا عبد الله.
 (27)نسب قريش (ص: 20)
وولد موسى بن عبد الله: عبد الله بن موسى، المتغيب اليوم بالمدينة؛ وأمه وإخوته: أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق.
 (28)نسب قريش (ص: 24، بترقيم الشاملة آليا)
وولد إسحاق بن عبد الله بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: يحيى، وأمه: عائشة بنت عمر بن عاصم بن عمر بن عثمان بن عفان، وأمها: كلثم بنت وهب بن عبد الرحمن بن وهب ابن عبد الله الأكبر بن زمعة بن الأسود، ولأم ولد؛ وخديجة بنت إسحاق، أمها: كلثم بنت إسماعيل بن عبد الرحمن بن القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق، وأخوها لأمها: القاسم بن إبراهيم بن الوليد بن محمد بن هشام بن إسماعيل المخزومي
 (29)جمهرة أنساب العرب (ص: 15)
وتزوج أم كلثوم بنت علي بن أبي طالب، بنت بنت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عمر بن الخطاب، فولدت له زيداً لم يعقب، ورقية؛ ثم خلف عليها بعد عمر - رضي الله عنه - عون بن جعفر بن أبي طالب؛ ثم خلف عليها بعده محمد بن جعفر بن أبي طالب؛ ثم خلف عليها بعده عبد الله بن جعفر ابن أبي طالب، بعد طلاقه لأختها زينب.
 (30)نسب قريش (ص: 25، بترقيم الشاملة آليا)
فولد الحسن، وهو الأفطس، ابن علي بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: زيداً؛ ومحمداً؛ وعلياً، كان يلقب " خزرى " ؛ وعمر؛ وحسناً؛ وحسنة؛ وكلثم: وخديجة؛ وفاطمة، لأم ولد؛ وحسيناً، وهو الذي غلب على مكة أيام أبي السرايا، حتى أخرجه منها ورقاء، وجهه إليه الجلودي، وأمه: جويرية بنت خالد بن أبي بكر بن عبيد الله بن عبد الله بن عمر بن الخطاب؛ وعبد الله، كان في سجن أمير المؤمنين هارون عند جعفر بن يحيى؛ فزعموا أن جعفر بن يحيى قتله بغير أمر هارون؛ وزينب، ابني حسن؛ أمهما: أم سعيد بنت سعيد بن محمد بن جبير بن مطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف.
 (31)نسب قريش (ص: 26 )
وولد يحيى بن الحسين بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: محمداً، درج؛ ومريم، أمهما: فاطمة بنت هشام بن إبراهيم بن إبراهيم بن عبد بن الأسود بن هشام بن عمرو، من عامر بن لؤي؛ وسليمان بن يحيى، لأم ولد؛ وعبدة بنت يحيى، أمها: أم حكيم بنت محمد بن سليمان بن عاصم بن عمر بن الخطاب.
 (32)نسب قريش (ص: 119، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت لعبد العزيز أيضاً بنت يقال لها: آمنة الكبرى، وتزوجها محمد بن عبد الله بن عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، ثم خلف عليها عبد الله أبو الكرام بن محمد بن علي بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب، وأمها: أم سلمة بنت معقل بن نوفل بن مساحق بن عبد الله بن مخرمة بن عبد العزى بن أبي قيس بن عبد ود بن نصر بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي بن كعب.
ومن ولد محمد بن عبد العزيز بن عبد الله بن عبد الله بن عمر: محمد...
 (33)الجوهرة في نسب النبي وأصحابه العشرة (ص: 274، بترقيم الشاملة آليا)
وأما أبان بن عثمان فهو من فقهاء التابعين وأفاضلهم. وروى عن أبيه عثمان وغيره من الصحابة. وحضر الجمل مع عائشة، وكان الثاني من المنهزمين وكانت أُمُّه وأمُّ عمرو أخيه أمُّ جنيدب بنت عمرو بن خممة الدَّوسيُّ.وكانت حمقاء تجعل الخنفساء في فمها، وتقول: حاجيتك ما في فمي. وكان أبان أبرص وأحول. يلقَّب نفيعا. وأصابه الفالج، وكانت عنده أمُّ كلثوم بنت عبد الله بن جعفر. وخلف عليها بعد الحجاج. وكان له عقب كثير منهم: عبد الرحمن بن أبان: كان عابدا مجتهدا. روي عنه الحديث.
موالي عثمان حمران وكيسان وذكوان.
 (34)نسب قريش (ص: 19، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت أم القاسم بنت الحسن عند مروان بن أبان بن عثمان بن عفان؛ فولدت له محمد بن مروان؛ ثم خلف عليها حسين بن عبد الله بن عبيد الله بن العباس بن عبد المطلب؛ فتوفيت عنده، وليس لها منه ولد.
جمهرة أنساب العرب (ص: 17، بترقيم الشاملة آليا)
وأم القاسم بنت الحسن بن الحسن، شقيقة مليكة، تزوجها مروان بن أبان بن عثمان بن عفان، فولدت له محمداً؛ ثم خلف عليها ابن عمها علي بن الحسين.
 (35)أنساب الأشراف (1/  297، بترقيم الشاملة آليا)
قال: فولدت المحياة لعلي أم يعلى، وكانت تخرج إلى المسجد في إزار فيقال: لها: من أخوالك؟ فتقول أو أو.
ولم تلد زينب للحسن، وولدت الرباب للحسين سكينة بنت الحسين تزوجها عبد الله بن الحسن بن علي بن أبي طالب وكان أبا عذرها فمات عنها؛ ثم خلّف عليها مصعب بن الزبير فولدت له فاطمة. ماتت صغيرة، وأرملتموني كبيرة. وَخطبها عبد الملك بن مَروان فأبته؛ فتزوجها عبد الله بن عثمان بن عبد الله بن حكيم بن حزام بن خويلد، ثم الأصبغ بن عبد العزيز بن مروان ففارقها ولم يدخل بها وذلك أن عبد الملك نهاه عنها. ويقال: بل حملت إلى مصر، فلما قدمتها وجدته قد مات، فتزوجها زيد بن عمرو بن عثمان، ثم إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، لم يدخل عليها ولم ترض به اختارت نفسها.
 (36)أنساب الأشراف (1/  299، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت فاطمة بنت الحسين عند الحسن بن الحسن، فولدت له عبد الله بن الحسن بن الحسن، وحسن بن حسن بن حسن، وإبراهيم بن الحسن بن الحسن، ثم خلّف عليها عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، وعبد الله هو المطرف، فولدت له محمداً -        
 (37)جمهرة أنساب العرب (ص: 36، بترقيم الشاملة آليا)
ومحمد الأصغر بن عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، وهو المعروف بالديباج، قتله " أبو جعفر " المنصور، والقاسم بن عبد الله، وأمهما فاطمة بنت الحسين ابن علي بن أبي طالب. فولد محمد الديباج، وهو الأصغر: عبد العزيز؛ وخالد، وله عقب؛ ورقية الكبرى أمهم أم كلثوم بنت إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله؛ وعبيد الله؛ وعبد الله؛ وعثمان؛ والقاسم، لأم ولد؛ ورقية الصغرى: أمها حفصة بنت عمران بن إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله. تزوج رقية الكبرى محمد بن هشام بن عبد الملك بن مروان، وتزوج رقية الصغرى إبراهيم ابن عبد الله بن الحسن " بن الحسن " بن علي بن أبي طالب، فقتل قبل أن يدخل بها؛ فحلف عليها محمد بن إبراهيم الإمام بن محمد بن علي بن عبد الله بن العباس.
 (38)نسب قريش (ص: 24)
وولد إسحاق بن عبد الله بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: يحيى، وأمه: عائشة بنت عمر بن عاصم بن عمر بن عثمان بن عفان، وأمها: كلثم بنت وهب بن عبد الرحمن بن وهب ابن عبد الله الأكبر بن زمعة بن الأسود
 (39)أنساب الأشراف (2/  421، بترقيم الشاملة آليا)
وتزوج عبد الله بن الزبير أم الحسن بنت الحسن بن علي وعائشة بنت عثمان بن عفان، فولدت بكرا؛ وتزوج قهطم بنت منظور فولدت حمزة، وخبيباً، والزبير، ومنذرا، وثابتا، وعبادا؛ ثم خلف على أختها أم هاشم؛ وتزوج ريطة بنت عبد الرحمن بن الحارث بن هشام، فولدت له عبد الرحمن؛ وتزوج حنتمة بنت عبد الرحمن بن الحارث بن هشام، فولدت له موسى، وعامرا. وسودت أم الحسن وجواريها على عبد الله حين قتل.
 (40)نسب قريش (ص: 25 )
ولد حسين بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: عبد الله؛ وعبيد الله؛ وعلياً؛ وأمينة الكبرى؛ أمهم: أم خالد بنت حمزة بن مصعب بن الزبير؛ ومحمداً؛ وحسناً، ابني حسين، لأم ولد؛ ويحيى؛ وسليمان، أمهما: عبدة بنت داود بن أبي أمامة بن سهل بن  (41)حنيف الأنصاري؛ وإبراهيم؛ وأمينة الصغرى، لأم ولد.
أنساب الأشراف (1/  297، بترقيم الشاملة آليا)
ولدت الرباب للحسين سكينة بنت الحسين تزوجها عبد الله بن الحسن بن علي بن أبي طالب وكان أبا عذرها فمات عنها؛ ثم خلّف عليها مصعب بن الزبير فولدت له فاطمة. ماتت صغيرة، وأرملتموني كبيرة. وَخطبها عبد الملك بن مَروان فأبته؛ فتزوجها عبد الله بن عثمان بن عبد الله بن حكيم بن حزام بن خويلد، ثم الأصبغ بن عبد العزيز بن مروان ففارقها ولم يدخل بها وذلك أن عبد الملك نهاه عنها. ويقال: بل حملت إلى مصر، فلما قدمتها وجدته قد مات، فتزوجها زيد بن عمرو بن عثمان، ثم إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، لم يدخل عليها ولم ترض به اختارت نفسها.
 (42)نسب قريش (ص: 25)
فولد موسى بن عمر بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: عمر، درج؛ وصفية؛ وزينب؛ أمهم: عبيدة بنت الزبير بن هشام بن عروة بن الزبير بن العوام.
 (43)نسب قريش (ص: 25)
فولد عبد الله بن الحسين بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: بكراً؛ وقاسماً؛ وأم سلمة؛ وزينب، وهي تزوجها أمير المؤمنين هارون؛ فباتت عنده ليلةً، ثم طلقها؛ فلقبها أهل المدينة " زينب ليلة " ؛ وهم لأم ولد نوبية؛ وجعفراً؛ وفاطمة، أمها: أم عمرو بنت عمرو بن الزبير بن عمرو بن عمرو بن الزبير؛ وعبد الله بن عبد الله، يلقب أبا صعارة، لأم ولد.
 (44)نسب قريش (ص: 25)
وولد جعفر الأكبر بن عمر: علياً، أمه: فاطمة بنت عروة بن هشام بن عروة بن الزبير.
 (45)نسب قريش (ص: 26)
وولد إبراهيم بن حسين بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: حسيناً، درج؛ وعبد الله؛ وزينب؛ وفاطمة، أمهم: بريكة بنت عبيد الله بن محمد بن المنذر بن الزبير بن العوام.
 (46) جمهرة أنساب العرب (ص: 15)
ولد أمير المؤمنين الحسن علي - رضي الله عنه - الحسن بن الحسن، وفيه العدد والبيت، أمه " خولة " بنت منظور بن زبان الفزارية؛ وزيد بن الحسن، وله عقب كثير: أمه أم بشر بنت أبي مسعود الأنصاري البدري؛ وعمرو؛ والحسين؛ والقاسم؛ وأبو بكر؛ وطلحة؛ أمه أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله
جمهرة أنساب العرب (ص: 17)
ولد الحسن بن علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - : عبد الله، وفيه البيت والشرف والعدد؛ وإبراهيم، وله عدد جم؛ وجعفر؛ والحسن، وأمه وأم أخويه عبد الله وإبراهيم: فاطمة بنت الحسين بن علي بن أبي طالب، وأمها أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله، خلف عليها الحسين بعد الحسن؛
 (47)جمهرة أنساب العرب (ص: 22)
فولد علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب ستة رجال، كلهم أعقب، وهم: محمد، أمه أم عبد الله بنت الحسن بن علي بن أبي طالب؛ وزيد، لأم ولد؛ وعلي؛ والحسين؛ وعبد الله، شقيق محمد؛ وعمر، لأمهات أولاد؛ وبنات، وهن: خديجة، تزوجها محمد بن عمر بن علي بن أبي طالب؛ وعبدة؛ تزوجها محمد بن معاوية بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب، ثم خلف عليها بعده علي بن الحسن بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب، ثم خلف عليها بعده نوح بن إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله
 (48)أعيان الشيعة - السيد محسن الأمين - ج ١ - الصفحة ٦٥٩
أمه أم فروة وقيل أم القاسم واسمها قريبة أو فاطمة بنت القاسم بن محمد بن أبي بكر وأمها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر وهذا معنى قول الصادق ع ان أبا بكر ولدني مرتين،
تذكرة الحفاظ (1/  166(                                                       
162 - 9 / 5 م 4 - جعفر بن محمد بن على ابن الشهيد الحسين بن علي بن ابي طالب الهاشمي الامام أبو عبد الله العلوى المدني الصادق احد السادة الاعلام وابن بنت القاسم بن محمد وام امه هي اسماء بنت عبد الرحمن بن ابي بكر فلذلك كان يقول ولدني أبو بكر 
 الصديق مرتين حدث عن جده القاسم وعن ابيه ابي جعفر




Sumber : http://www.facebook.com/notes/muhammad-umar-alaydrus/keharmonisan-hubungan-antara-sahabat-dan-ahlul-bait-nabi/302513159823353

Jumat, 27 Januari 2012

Guru Sesungguhnya

Semasa hidup gus dur pernah bercerita dalam sebuah acara di Pondok al Hikam Malang, tentangseorang santri yang hobinya mencuri celana dalam santri putri. Begitu ketahuan, pengurus pondok memutuskan untuk mengeluarkan oknum itu dari pesantren. Mendengar ini, Kyai Abdul Fatah malah melarang dan bahkan malah memberi kamar khusus untuk oknum santri itu di ndalemnya. Kyai Fatah beralasan mereka datang ke pesantren untuk diperbaiki akhlaknya. Kalau sudah baik akhlaknya nda perlu lagi di pesantren.

Di Pesantren HM Lirboyo, suatu hari pengurus pondok memutuskan mengeluarkan  seorang santri yang ketahuan mencuri harta benda santri-santri lain. santri itu bahkan menyemir rambutnya dengan warna merah, dan berpenampilan layaknya seorang preman. Saat keputusan mengeluarkan itu didengar oleh Kyai Kafabihi, kyai menangisinya, seperti kyai fatah, kyai kafabihi menanyakan bagaimana kalau anak itu dikeluarkan dan menjadikannya berperilaku lebih parah? tapi berbeda dengan kyai fatah, kyai Kafabihi menghormati putusan pengurus pondok, "meski pengurus pondok itu santri2 kyai kafa sendiri".

Saat abah jalannya belum tertatih seperti sekarang ini, beliau dengan sabar setiap pagi membangunkan santri2 untuk bershalat subuh. suatu hari ada seorang santri yang tidak menyadari kalau yang membangunkan subuh itu abah, dia menarik tongkat abah... hingga hampir terjengkang. abah tertawa... besok harinya...santri yang sama yang memang sulit dibangunkan... saat dibangunkan abah, dia malah nungging dan mengentuti abah... abah tak pernah sakit hati

Lelah... sepulang kuliah dulu, membuat saya seringkali tertidur saat ngaji didepan Habib Shaleh Ibn Ahmad Ibn Salim Alaydrus... suatu hari saat terkantuk-kantuk, tiba-tiba Habib berkata: "wahai para ustadz, ketahuilah janganlah engkau mentang-mentang menjadi guru; jangan tergesa-gesa memvonis muridmu jelek saat mereka melakukan kesalahan, meski kesalahan sekecil apapun itu. termasuk juga saat muridmu mengantuk... sadarlah dan pikirkanlah, jangan-jangan mereka itu digerakkan oleh Allah untuk mengingatkanmu, karena kamu para ustadz lalai terhadap Allah."

Ustadz Ali Haidar yang pada waktu itu menjadi sekretaris Rabithah Maahidil Islam, dalam sebuah seminar dikritik oleh kalangan akademisi tentang kurikulum pesantren yang tidak mencerdaskan. Ustadz Ali Haidar menjawab: "pesantren memang tidak sedang mencetak orang pintar, tapi pesantren mencetak orang benar... orang yang berakhlak."

Saat pertama kali sowan kepada kyai Luthfi Ghozali, beliau berkali-kali menyitir al baqarah 134 "wa-aafi aninnaas" dan berpesan kepada saya bahwa seorang muttaqien, adalah seorang yang pemaaf. Orang-orang yang menyakiti itu pada hakekatnya diutus Allah untuk menguji seberapa pantas seseorang menyandang derajat ketaqwaan, atau bahkan sedang membuka hijab kita dengan Allah. "karenanya jangan terlalu membenci seorang yang berbuat buruk kepada kita." begitu pesan beliau.

Guru di pesantren... tidak seringan beban guru di dunia pendidikan formal, apalagi yang hanya mengedepankan parameter sukses pada angka-angka raport. Guru di pesantren lebih sebagai sosok yang merawat ruh muridnya, mengajarkan bagaimana mengenali kehidupan dengan sentuhan hati. Sentuhan hati yang dekat dengan RABB. karenanya pantaskah kita menyebut diri sebagai seorang guru saat memperlakukan murid-murid dengan hanya melihat fisik jasmani saja? mungkin mengeluarkan murid yang bermasalah bukan suatu problem didunia pendidikan umum, tapi bagi orang-orang pesantren, mengeluarkan murid bermasalah hanyalah menunjukkan ego dan ketidak sadaran "guru" bahwa dia telah menunjukkan kegagalannya dalam merawat ruh santri dan kedangkalan hubungannya dengan Allah....

waLLahu a'lam bissowab. mbuh bener mbuh ora... mung Pengeran sing Pirso.


Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150513038682899

Senin, 05 September 2011

LEBARAN DUA VERSI, MUHAMMADIYAH "BIANG KEKACAUAN" ?

Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli Hadis dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto. Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumm ighfir lahum.  

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain : Pertama, shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya. Kedua, talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?). Ketiga, baca doa qunut Shubuh. Keempat, sama-sama gemar membaca shalawat (diba'an).

Kelima, dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha. Keenam, tiga kali takbir, "Allah Akbar", dalam takbiran. Ketujuh, kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali, dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitaf Fikih Muhammadiayah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh : Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343an H.  Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya " harus beda " dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadis-hadis yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah : bahwa mayoritas Hadis-Hadis yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma'in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha'if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha'il al-a'mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Ygyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir, bagaimana praktiknya ?.

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk tarawih. Dan tiga rakaat untuk witir. Model witir tiga sekaligus ini vrsi madzahab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir. Ini versi al-Syafi'ie.

Tapi pada tahun 1987, praktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadis dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi  dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu pakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama  mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal.  

Oleh karena itu, tahun 90an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang  Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode  "wujud al-hilal". Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadis yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan " taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr " dibuang dan arergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.     

Populerkah metode "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuwan falak ?. Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.
Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah  hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya tak kan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?. 

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong moderen sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelamahan akademik pasti ada. Minal aidin al-faizin, mohon maaf lahir dan batin.


Oleh : Ahmad Musta'in Syafi'ie
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150268506916712


Catatan:
Penulis adalah Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Senin, 29 Agustus 2011

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

Oleh: Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi -Astrofisika, LAPAN
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan ) dan rukyat (pengamatan) , tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan.  Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010 . Idul Fitri 1432/ 2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012 , 1434/ 2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati” . Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.


Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/ 2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/ 2006 dan 1428/2007 , laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal . Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke- 26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’ i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog saya http:/ /tdjamaluddin. wordpress.com /2011/ 07/28/ hisab- dan-rukyat -setara -astronomi- menguak-isyarat-lengkap- dalam-al -quran-tentang -penentuan- awal-ramadhan- syawal-dan -dzulhijjah/ ). Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapakelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern) . Lalu berkembang hisab imkan rukyat (visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan ) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya.  Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurub dan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya . Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal , kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan ) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub , imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.

Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU , Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata dikalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan ) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.

Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang” . Semoga Muhammadiyah mau berubah!

Minggu, 14 Agustus 2011

Sudah Berapa Juz Alqur`an yang dibaca...???

Pahala mengamalkan satu sunnah pada bulan Ramadhan sama dengan pahala beramal wajib di luar Ramadhan. Dan pahala menunaikan satu amalan wajib pada bulan Ramadhan sama dengan pahala menunaikan tujuh puluh amalan wajib di luar bulan Ramadhan. Berkenaan dengan hal ini, kita hendaknya memikirkan keadaan ibadah kita. Dalam bulan keberkahan ini hendaknya kita berpikir, sejauh manakah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan suhnah. Perhatian kita terhadap amalan fardhu pada saat ini adalah demikian : Kebanyakan di antara kita meneruskan tidur setelah sahur, sehIngga mengqadha’ shalat Shubuh, setidak-tidaknya tertinggal shalat berjamaah. Seolah-olah inilah syukur kita, ibadah wajib yang sangat perlu diperhatikan malah kita qadha’ atau paling tidak kita menguranginya.

Padahal, para ahi ushul berpendapat bahwa shalat tanpa berjamaah adalah suatu kekurangan, bahkan Nabi saw. bersabda bahwa seolah-olah tidak sah shalat mereka yang tinggal di sekitar masjid, kecuali di masjid. Tertulis di dalam Mazhahiril-Haq bahwa barangsiapa shalat tanpa berjamaah tanpa udzur, maka kewajiban shalatnya sudah terpenuhi, namun pahala shalatnya tidak ia dapatkan. Demikian juga dengan shalat Maghrib. Biasanya, ketika itu orang sedang sibuk berbuka puasa, sehingga tidak perlu dibicarakan lagi tentang orang-orang yang tertinggal rakaat pertama atau takbir pertama. Mengenai shalat Isya, karena beranggapan untuk mengganti kebaikan-kebaikan pada shalat Tarawih, banyak yang shalat Isya sebelum waktunya.

Demikianlah amalan kita pada bulan Ramadhan. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, tiga amalan wajib lainnya dilalaikan. Inilah yang paling sering terjadi. Sedangkan shalat Zhuhur, karena tidur sebelum Zhuhur (qailulah), kita tertinggal shalat berjamaah Zhuhur. Begitu juga dengan shalat Ashar. Karena sibuk mempersiapkan makanan ifthar, maka tertinggallah shalat berjamaah Ashar.

Itulah yang semestinya kita pikirkan, sejauh manakah kita menunaikan kewajiban-kewajiban pada buan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika yang wajib saja begitu sulit untuk diamalkan, bagaimana dapat mengamalkan yang sunnah? Shalat Isyraq dan Dhuha pada bulan Ramadhan sering kita tinggalkan karena tidur. Apalagi shalat Awwabin, karena sibuk berbuka dan khawatir dengan shalat Tarawih yang panjang, akhirnya shalat Awwabin ditinggalkan, dan waktu shalat Tahajjud kita juga habis karena digunakan untuk sahur. Apabila demikian, kapankah ada kesempatan untuk melakukan shalat sunnah. Semua ini terjadi karena orang-orang tidak memperhatikan atau tidak ingin mengamalkannya.

Sebuah syair berbunyi:
Jika tidak ada kemauan, beribu-ribu alasan dapat engkau kemukakan.

Namun demikian, betapa banyak hamba Allah yang sempat memanfaatkan kesempatan yang sangat bernilai ini. Saya melihat sendiri guru saya, Syaikh Khalil Ahmad (nawwarallahu marqadahu) dalam beberapa bulan Ramadhan, dalam keadaan lemah dan lanjut usia, ia biasa membaca dan memperdengarkan satu seperempat juz Al-Qur’an dalam shalat nafil setelah Maghrib. Kemudian selama setengah jam ia makan dan menunaikan beberapa keperluan. Biasanya ia shalat Tarawih dan Isya kurang Iebih dua atau dua seperempat jam ketika di India, dan tiga jam ketika tinggal di Madinah. Lalu ia tidur selama dua atau tiga jam, sesuai dengan musimnya. Setelah itu ia membaca Al-Qur’an di dalam Tahajjud. Setengah jam sebelum shalat Shubuh, ia akan makan sahur, kemudian sibuk membaca hafalan Al-Qur’an atau wirid hingga Shubuh. Setelah shalat Shubuh dilanjutkan dengan muraqabah sampai Isyraq. Setelah itu, ia beristirahat lebih kurang satu jam, lalu sibuk menulis Badzlul-Majhud dalam bahasa Arab (sebuah kitab syarah hadits Abu Dawud) sampai tengah hari. Setelah itu ia membaca surat-surat dan mendiktekan balasannya (jika musim panas) hingga pukul 13.00. Kemudian Ia beristirahat kembali hingga tiba shalat Zhuhur dan membaca Al-Qur’an dan Zhuhur sampai Ashar. Dan dari Ashar sampai Maghrib, ia sibuk bertasbih dan berbincang-bincang dengan tamu-tamunya.

Ketika penulisan Badzlul-Majhud selesai, ia mengisi waktunya dengan menelaah kitab-kitab agama dan membaca Al-Qur’an. Ketika itu ia sangat berkonsentrasi terhadap Badzlul-Majhud dan Wafaul- Wafa. Demikianlah kegiatan tetap kesehariannya pada bulan Ramadhan tanpa ada perubahan. Dan shalat-shalat sunnah tersebut adalah amal harian yang biasa ia kerjakan, namun pada bulan Ramadhan rakaatnya lebih diperpanjang.

Para masyaikh lainnya juga sangat memperhatikan bulan Ramadhan, bahkan lebih hebat lagi, sehingga kita sulit meneladaninya. Syaikhul-Hindi (Syaikh Mahmudul-Hasan rah.a.) biasa mengenjakan shalat nafil setelah shalat Tarawih hingga fajar dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beberapa orang hafidz secara bergantian. Syaikh Abdurrahim Raipuri sibuk membaca Al-Qur’an siang dan malam selama bulan Ramadhan, sehingga ia tidak sempat melakukan surat menyurat atau menerima tamu. Para khadim dekatnya saja yang diizinkan sejenak menemuinya, yaitu setelah shalat Tarawih pada waktu minum satu dua cangkir teh.

Maksud saya menceritakan amalan para masyaikh dalam menghabiskan bulan Ramadhan ini bukan sekadar untuk bahan bacaan atau menyebarkan pemikiran, tetapi bertujuan untuk mendorong kita agar mengikuti mereka sesuai kemampuan yang ada. Betapa beruntung orang yang tidak bergantung pada kesibukan dunia dan berusaha memperbaiki kehidupannya dalam bulan ini, setelah melewati sebelas bulan lainnya dengan sia-sia.

Bagi orang yang biasa bekerja dan jam 08.00 hingga 16.00, tentu tidak memberatkan jika pada bulan Ramadhan dari Shubuh sampai jam kerja waktunya digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Meskipun sibuk dengan urusan dunia, kita tetap memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an, bahkan pada jam kerja sekalipun. Bagi yang sibuk di pertanian yang tidak bekerja atas perintah orang lain, jelas tidak ada penghalang untuk membaca membaca Al Qur’an ketika bekerja di sawah. Ia bebas menggunakan waktu kerjanya. Sambil duduk-duduk, ia dapat membaca Al-Qur’an. Demikian pula dengan pedagang; pada bulan Ramadhan, setidaknya mereka dapat mempersingkat jam kerjanya atau paling tidak menunggu dagangannya sambil membaca Al-Qur’an. Bagaimanapun, ada hubungan yang erat antara Ramadhan dengan Al-Quran.

Oleh sebab itu, hampir semua Kitabullah diturunkan pada bulan ini. Begitu pula Al-Qur’an telah diturunkan dari Lauhul-Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan. Lalu diturunkan berangsur-angsur menurut kejadiannya dalam masa kurang lebih 23 tahun. Selain itu, Ibrahim a.s. telah menerima shuhufnya (kitab suci) pada tanggal 1 atau 3 Ramadhan. Dawud a.s. menerima Zabur pada tanggal 18 atau 12 Ramadhan. Musa as. menerima Taurat pada hari ke-6, Isa a.s. menerima Injil pada hari ke-13. Dari sini dapat diketahui adanya hubungan yang erat antara kitab Allah dengan Ramadhan. Oleh karena itu, hendaknya kita membaca Al-Qur’an sebanyak mungkin pada bulan ini. Demikianlah kebiasaa waliyullah. Jibril a.s. pun membacakan seluruh Al-Qur’an kepada Muhammad saw. pada bulan Ramadhan. Riwayat lain menyatakan Nabi saw. yang membaca dan Jibril a.s. mendengarkannya.

Dengan menggabungkan riwayat-riwayat tersebut, para ulama menyatakan bahwa mustahab (sangat dianjurkan) membaca Al dengan cara seperti itu (seorang membaca, yang lain mendengarkan secara bergantian). Bacalah Al-Qur’an kapan saja ada kesempatan, dan waktu yang lain jangan disia-siakan.

(Kitab "Fadhillah Amal" Fadhillah Ramadhan yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandalawi RA)