Tampilkan postingan dengan label Catatan Kalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kalbu. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Desember 2010

Apakah Film Laskar Pelangi Akan Sukses Seperti Film Ayat-Ayat Cinta?

Novel Laskar Pelangi benar-benar menggemparkan dunia sastra Indonesia, novel itu laris dimana-mana bak kacang goreng.  Penulisnya pun sempat mengutarakan bahwa ia pernah mendapatkan  satu kontainer Laskar Pelangi bajakan, sungguh luar biasa.  Banyak hal yang membuat novel Laskar Pelangi begitu sukses, tapi menurut  saya pribadi faktor terbesar itu adalah keikhlasan.   Andrea Hirata sang penulis tak menyangka novel itu bakal laris, awalnya ia membuat novel itu untuk didedikasikan kepada gurunya, ibu guru Muslimah.

Keikhlasan memang punya nilai tersendiri, seoarang ulama yang bernama Sayyid Djamaluddin Al Akbar berangkat dari Hadramaut, Yaman menuju Desa Tosora Kabupaten Wajo Sulawesi  Selatan untuk menyebarkan islam disana, akhirnya semua penduduk disana memeluk islam.  Kalau kita kunjungi makan beliau yang ada di Desa Tosora saat ini, kondisi sekitar makam belaiu masih seperti hutan lebat, kalau sekarang masih seperti hutan lebat kondisinya, bagaimana dengan keadaan desa itu ratusan tahun silam ? betapa keikhlasan beliau di dalam menyebarkan islam.  Bagi saya pribadi, kunci utama di dalam mengerjakan sesuatu itu adalah keikhlasan dan itu terjadi dalam penulisan novel Laskar Pelangi .

Kini novel itu difilmkan, apakah ia akan sukses, seperti suksesnya film ayat-ayat cinta? Itu tergantung dari niat film makernya, jika mereka memang merasa bahwa novel itu mempunyai banyak nilai positif yang dapat diambil oleh kita semua sehingga perlu untuk difilmkan insya Allah bakal laris, tapi kalau niatnya misalnya ingin menyamai bahkan melebihi kesuksesan film ayat-ayat cinta saya rasa sukses film Laskar Pelangi itu dibawah film ayat-ayat cinta

Selain faktor keihlasan sebenarya banyak faktor lain yang membuat sukses tidaknya kita dalam mengerjakan sesuatu, misalnya para Wali Songo disamping  keikhlasan mereka  di dalam dakwahnya, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah mereka tidak langsung memberangus budaya dan tradisi  lokal setempat yang tidak islami , tetapi memodifikasi dan mengakulkturasi budaya dan tradisi masyarakat setempat sesuai dengan nilai-nilai islam, misalnya saja tradisi wayang kulit, beliau mengganti cerita agama Hindu  dan digantikan dengan cerita Agama Islam.

Begitupun dalam kasus sukses tidaknya  sebuah film, salah satu faktor yang menurut saya tidak kalah pentingnya adalah moment yang tepat di dalam pemutaran perdananya.  Hari ini, Kamis 25 september 2008, film Laskar Pelangi mulai tayang di bioskop Indonesia, sebenarnya ada semacam keraguan di dalam diri ini akan kesuksesan film itu jika dibandingkan dengan sukses film ayat-ayat cinta sebelumnya. Bukan apa-apa soalnya film itu ditayangkan menjelang lebaran, bukankah menjelang lebaran mesjid-mesjid mulai sepi jika dibandingkan dengan awal ramadhan, dimana sebagian besar kaum muslim beralih untuk mejeng dan “thawaf” di mall serta pusat perbelanjaan dan ibu-ibu makin sibuk dengan urusan dapurnya?.  Ini menandakan bahwa orang lebih fokus menggunakan uangnya untuk keperluan lebaran semisal baju baru dibanding untuk “hanya” menonton film Laskar Pelangi, jadi menurut saya pribadi adalah kurang tepat moment tayang perdana film itu menjelang lebaran.  Hal ini berbeda dengan film ayat-ayat cinta yang sukses itu, setelah film itu selesai dibuat, film maker ayat-ayat cinta menunggu moment yang tepat untuk meluncurkan film tersebut, muncul sebuah tanya, apakah hal yang sama juga dilakukan film maker Laskar Pelangi ?.  Terlepas dari itu semua, kita tunggu saja reaksi masyarakat terhadap pemutaran perdana film Laskar Pelangi, menurut saya pribadi ini merupakan indikasi awal sukses atau tidaknya film tersebut.

Makassar,  25 September 2008

Senin, 20 Desember 2010

Ternyata Ada 2 KIMA di Makassar




Siang itu jam dinding rumahku menunjukkan angka 2:30. Saya segera menuju kamar untuk merebahkan diri dari padatnya aktivitas disiang hari.  Belum semenit tiba-tiba handphoneku berdering, “sir kuliah orang sekarang” kata Nanang diujung handphone, “tapi baruji masuk to”? kataku padanya dengan sedikit panik, “ia, di ruang 102 kita kuliah” jawabnya.  Saya bergegas menuju kampus yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, kurang lebih 10 menit saya tiba dikampus,  ruangan kelas telah penuh sesak.

Hari itu Kamis 30 Oktober 2008 merupakan kuliah perdana mata kuliah Perencanaan Sistem yang dibawakan oleh Pak Kaimuddin.  Dari slide presentasi yang ada di dinding ruangan, terlihat beliau masih menjelaskan bagian-bagian awal dari mata kuliah itu. Alhamdulillah saya tidak terlalu ketinggalan, aku membatin.  Menurut Pak kaimuddin, pendekatan sistem dalam hal ini pemodelan sistem pada awalnya digunakan untuk kepentingan militer amerika. Tiba-tiba ingatanku tertuju pada alat yang bernama GPS (Global Positioning Satellite).  GPS pada awalnya digunakan dikalangan militer amerika, tetapi karena sudah ada teknologi yang lebih baru dan canggih maka barulah teknologi gps itu dilempar kemasyarakat umum.  Saya berpikir jangan-jangan masih banyak teknologi canggih yang digunakan oleh militer amerika dan ketika teknologi itu sudah usang dengan teknologi yang baru dan lebih canggih maka baru barulah teknologi yang sudah usang itu dilempar kemasyarakat umum dan bagi mereka teknologi-teknologi adalah teknologi baru dan canggih.

Pak Kaimuddin masih terus memberikan penjelasan, kali ini beliau menjelaskan mengenai input terkontrol dan tak terkontrol, mengenai output yang diinginkan dan yang tak diinginkan dari diagram kotak gelap pada sebuah sistem.  Tiba- tiba beliau berkata “
ada dua KIMA di Makassar”. Saya begitu kaget mendengarnya, sepengetahuanku KIMA (Kawasan Industri Makassar) itu  hanya ada satu, yaitu yang berada di daerah Daya.  Saya benar-benar  kurang informasi, pikirku sambil menyalahkan diri sendiri.  “KIMA yang pertama yaitu kawasan industri makassar terletak di daerah daya......”, kalau KIMA yang ini saya sudah tahu, tapi KIMA yang kedua dimanakah ia berada ?,saya tidak sabar lagi mengetahuinya, .....“KIMA yang kedua yaitu Kawasan industri Maksiat  yang terletak di jalan N.....,” tiba-tiba kelas menjadi ribut akibat gelak tawa teman-teman.  Belum reda kegaduhan itu, Pak Kaimuddin melanjutkan perkataanya “KIMA yang pertama limbahnya dapat dikontrol tetapi KIMA yang kedua limbahnya tidak dapat dikontrol”, hehe lagi-lagi kami tertawa.  Apa yang dikatakan Pak Kaimuddin itu memang benar, untuk limbah industri, jumlahnyan dapat dikontrol dengan menambah kapasitas intalasi pengolah limbah cair, tapi untuk limbah KIMA yang kedua yaitu penyakit AIDS, sangat berat untuk mengontrolnya.  Selain karena belum ditemukannya obat mampu menghancurkan HIV (obat yang ada sekarang masih pada taraf menghambat pertumbuhan virus), terkadang para korban HIV AIDS dengan sengaja mewariskan penyakitnya ke orang lain maka jadilah limbah KIMA kedua itu makin sulit terkontrol. Mungkin cara yang paling ekstrem adalah menutup KIMA kedua itu, tapi apakah pemerintah kota Makassar berani melakukannya ?

Sekitar pukul 4:30 sore kuliah berakhir, langit mendung, saya bergegas pulang kerumah, pulang dengan tambahan informasi baru bahwa ternyata ada 2 KIMA Makassar.  Mudah-mudah jenis KIMA kedua itu tidak bertambah di kota ini dan alangkah indahnya jika KIMA kedua yang terletak di jalan N....... itu suatu saat ditutup, semoga.


Makassar, 29 Januari 2009

Selasa, 14 Desember 2010

Menghibur diri sendiri

Setelah mendaftar lewat website hari itu juga aku ke kantor MetroTV biro Makassar. Kantor itu berada di jalan Lamadukelleng, tidak jauh dari kediaman bapak Wakil Presiden HM Yusuf Kalla. Setibanya di sana kulihat dua orang gadis berjilbab keluar dari kantor itu dengan wajah ceria, , masing-masing membawa tiket bergambar Andi F Noya. Aku semakin bersemangat, kuayunkah langkahku dengan cepat menuju kerumunan orang diteras kantor itu. Pasti disini tempat ambil tiket, pikirku, dan betul disitu memang tempat pengambilan tiket.

“Siapa namanya Pak”
kata orang yang bertugas disitu

“Muhammay Yasir”
jawabku

Ia memperhatikan dengan seksama nama-nama yang ada dilembaran kertas, diatas mejanya

“Tidak ada nama Muhammad Yasir, kapan bapak mendaftar ?”


“Hari ini (Kamis)” Jawabku

“Maaf pak, pendaftaran lewat website, sudah ditutup, bahkan mulai Jum`at yang lalu”
katanya padaku

Maka kutinggalkan kantor Metro TV biro Makassar itu dengan perasaan kecewa. Niatku untuk menonton KickAndy di Baruga Andi Pangeran Petta Rani Universitas Hasanuddin pupus sudah. Memang saya terlambat mendaftar, yaitu sehari sebelum acara, tapi yang saya herankan kalau pendaftaran via website itu ditutup Jum`at yang lalu, mengapa informasinya masih ada di Surat Kabar 3 hari kemudian (Senin)?

Dalam perjalanan pulang kerumah rasa kecewa berkecamuk dalam dadaku, mengapa ketika berinternet saya tidak membuka website kick andy?. Seandainya saya buka websitenya mungkin saya akan menontonya, Pikirku dalam hati yang mulai menyalahkan diri sendiri dan tidak ridha menerima ketentuaNya.

Sungguh perkataan syeikh Abdul Qadir Jaelani yang berbunyi “ Menentang Al-Haq Azza wa Jalla atas takdir yang telah ditentukan-NYa berarti kematian agama, kematian tauhid bahkan kematian tawakkal dan keikhlasan. Hati seortang mukmin itu tidak mengenal kata mengapa dan bagaimana, tetapi ia hanya berkata, “Baik.” Nafsu memang mempunyai watak untu suka menentang. Barang siapa ingin memperbaikinya ia harus melatihnya hingga aman dari kejahatannya…” tidak mempan lagi kepadaku.

Aku teringat dengan dua gadis berjilbab yang keluar dari kantor itu dengan membawa tiket Kick Andy, “sungguh betapa beruntungnya mereka”, gumamku dalam hati. Aku mencoba menghilangkan rasa kecewaku dan menghibur diri sendiri, Aku berkata kepada diriku sendiri, "Betapa banyak detik-detik dari hidupku yang berlalu begitu saja tanpa menyebut namaNya dan bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mengapa aku tidak bersedih, mengapa aku tidak kecewa. Padahal hal itulah yang lebih patut untuk kita bersedih dan kecewa". Aku mulai menyebut namaNya dan bershalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW. Alhamdulillah rasa kecewaku mulai berkurang, setiap rasa kecewa itu muncul lagi, aku coba melawannya dengan berkata kepada diriku sendiri seperti perkataan diatas. Begitulah pergulatan batinku selama dalam perjalanan pulang menuju rumah.

Hari itu hari Kamis, Menjelang Maghrib aku menuju Majelis Habib Mahmud, seperti biasa sesudah shalat Maghrib kami membaca Ratib Al Haddad, maulid Ad diba`I dan tausiyah, setelah keluar dari majis habib mahmud rasa kecewaku benar-benar sudah hilang .

Kita memang sering bersedih ketika hal-hal yang bersifat materi dan keduniawian luput dari diri kita dan senang ketika hal yang bersifat materi dan keduniawian itu bertambah pada diri kita. Tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk hal yang bersifat keakhiratan. Sama halnya ketika rasa iri sering kita tujukan kepada orang yang secara materi dan keduniawian lebih sukses dari kita, tapi pernahkan kita iri kepada orang yang melawan rasa kantuknya untuk berduaan dengaNya di tengah malam, karena ia tidak tahu bagaimana nasibnya diakhirat kelak, pernahkah kita iri kepada orang yang lidahnya sering menyebut namaNya dan selalu hadir hati padaNya, pernahkah kita iri kepada seorang pendosa yang bertobat dan dengan tobatnya itu ia memperoleh “loncatan spiritual” yaitu mata yang sering menangis dibanding orang-orang yang jarang berbuat dosa, pernahkah kita iri kepada orang-orang yang benar-benar menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia maupun asbab, bukan hamba dunia, kesenangan, dan syaitan dan bukan pula hamba cinta dan kedudukan di sisi manusia yang terpengaruh oleh penerimaan dan penolakan mereka, dengan pujian dan celaan mereka?


Makassar, 6 Agustus 2008

Minggu, 12 Desember 2010

Sejarah....Seberapa Penting Sih?, Sebuah Catatan dari Kopi Darat Blogger Peduli Sejarah

Kesan tak terawat langsung tertancap di batok memoriku ini ketika saya tiba di depan  Museum kota Makassar, Senin 18 Agusutus 2008. Gedung itu catnya telah tua dan di beberapa sudut bangunannya terdapat kerusakan.  Belum ada keramaian Blogger disana, hanya tampak seorang wanita berjilbab, “Mungkin ia juga peserta” kataku dalam hati .  Kuambil Handpone di kantong celanaku.  Jam Handphone menunjukkan pukul 8:16 Wita. “pantas belum ada orang” aku membatin.

Di halaman  depan Museum kota itu, tepatnya pukul 8:30, seharusnya semua Blogger yang ikut dalam acara kumpul Blogger yang diadakan Komunitas Blogger Makassar Angingmammiri.org  sudah terkumpul. Tapi sampai waktu yang telah ditentukan, para Blogger belum seluruhnya terkumpul.  “Ini Indonesia bung” pikirku, dimana selain korupsi, sogok menyogok dan uang pelicin, kebiasaan tidak tepat waktu alias “jam karet” telah membudaya di negeri yang baru saja merayakan kemerdekaannya ini.  Anehnya aku tetap saja menggeber motorku  dengan kecepatan tinggi ketika aku berangkat menuju Museum kota itu karena takut terlambat. Budaya “jam karet” memantik memoriku mengingat perkataan Syaikh Muhammad Abduh, seorang ulama modernis diawal abad 20.  Beliau berujar “di barat kutemukan islam walaupun tidak ada muslim disana, di timur (negeri islam) tidak kutemukan islam walaupun disana banyak muslim”.  Pernyataan Syaikh Muhammad Abduh itu tidak sepenuhnya benar, tapi untuk urusan disiplin waktu, antri, kasih sayang terhadap binatang kita masih kalah sama orang-orang di barat sana.  Padahal islam adalah agama universal yang juga mengajarkan hal-hal tersebut.

Pukul 9:30 teman-teman Blogger semua telah terkumpul.  Panitia mengucapkan banyak terima kasih kepada kami karena tidak menyangka jumlah peserta yang lebih banyak dibanding acara sebelumnya.  Kami kemudian dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok diberi secarik kertas berisi pertanyaan mengenai tempat-tempat bersejarah yang akan kami  kunjungi dan panitia telah menyiapkan hadiah kepada kelompok yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan benar.

Kopi darat yang bertema “Blogger peduli sejarah itu” rencananya akan mengungjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.  Dimulai dari Museum kota Makassar, terus ke Museum Karaeng Pattingalloang. dan Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa serta berakhir di Benteng Fort Rotterdam.

Setelah pembagian kelompok di halaman depan, kami mulai memasuki Museum kota itu dan kesan tak terawat masih terus menancap di batok memoriku ini.  Pak Suhardi sang pemandu  membawa kami  memasuki ruangan yang berisi sisa peninggalan perang melawan Belanda di tahun 1600-an, salah satunya yaitu bola meriam sisa hasil peperangan.  Selain itu terdapat pula foto kota Makassar tempo dulu.  Disana juga terpampang lukisan Syaikh Yusuf al Makassari, salah satu penyebar Islam disulawesi selatan, selain Datuk Ribandang, Datuk Ditiro, Datuk Patimang, Sayyid Jamaluddin al Akbar dan Imam Lapeo.  Mengapa lukisan Syaikh Yusuf ada disini, padahal ruangan ini bertema perang melawan belanda dan sejarah kota Makassar” tanyaku dalam hati.  Untuk sementara kupendam dulu tanyaku.  kudengarkan penjelasan Pak Suhardi , ia tampak begitu bersemangat.  Barang peninggalan sejarah diruangan itu semuanya telah dijelaskan oleh Pak Suhardi kecuali lukisan syaikh Yusuf.  Ketika mendekati lukisan itu, pak Suhardi berujar “maaf semestinya lukisan ini berada di ruangan yang lain, tapi karena ruangannya rusak, ia dipindahkan disini.  Sebenarnya aku ingin menanyakan mengenai Syaikh Yusuf, dimanakah makam beliau sebenarnya?. Makam beliau terdapat di dua tempat yaitu, di Capetown Afrika Selatan dan di Ko`bang Kabupaten Gowa.  Menurut sebagian orang di daerah ini bahwa orang-orang Gowa berangkat ke Capetown mengambil jenazah Syaikh Yusuf. Tapi kupikir diakhir acara saja.

Pak Suhardi membawa kami keruang tengah, disana terdapat berbagai foto peristiwa seperti foto penyambutan PSM Makassar setelah menjuarai musim kompetisi 59/60, foto kepulangan tentara jepang dan yang lainnya.  Dilantai dasar Museum kota itu juga terdapat ruangan PDAM dan TVRI memorial yang berisi peralatan  awal yang dgunakan oleh  kedua instansi pemerintah tersebut.  Menurut Pak Suhardi sebenarnya barang peninggalan PDAM dan TVRI itu belum layak dimuseumkan, karena barang tersebut masih berumur 30 tahun sedangkan syarat barang itu dimuseumkan minimal 50 tahun.

Kami beranjak menuju lantai dua Museum itu, disana terdapat ruangan kerja dewan kota. Di dalam ruangan itu terdapat empat meja panjang yang membentuk formasi segiempat, di salah satu meja panjang itu berjejer 6 buah kursi yang berdiri dengan kokohnya, setelah itu kami pun turun. Pak Suhardi membawa kami ke dua buah ruangan yang cat temboknya sudah terlepas dan atapnya sudah rusak.  Benda di dua ruangan yang rusak itu dipindahkan keruangan lain sehingga ruangan di Museum itu tidak sesuai dengan tema yang kulihat pada brosur yang dibagikan oleh salah satu pegawai di Museum Kota itu.  Sebelumnya saya sempat ke halaman belakang, sama halnya dengan halaman depan beberapa bagian dari bangunan Museum itu tampak rusak, begitupun yang kutemukan dilantai dua. Ruangan yang rusak di lantai dasar itu merupakan akhir perjalanan kami menyusuri museum kota.  Kami kembali kehalaman depan, selanjutnya panitia memberikan kami games.

Menjelang pukul 11.00 Wita, kami menuju lokasi selanjutnya yaitu Museum Karaeng Pattingalloang dan Benteng Somba Opu.  Nama Karaeng Pattingalloang sendiri adalah nama sosok yang baru kudengar.  Dalam sejarah Sulawesi Selatan, saya hanya merekam nama-nama semisal Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, Syaikh Yusuf.  Begitupun ketika aku duduk di bangku sekolah, nama Karaeng Pattingalloang seingatku tidak pernah kudengar dari mulut guru-guruku.

Kami tiba di lokasi pukul 11.30 Wita, karena sudah dekat waktu Dhuhur kami memutuskan untuk istirahat dan shalat.  Sehabis istirahat kamipun memasuki Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di kompleks Benteng Somba Opu, sayangnya tanpa disertai pemandu, karena salah satu keluarga pemandu meninggal dunia.  Tanpa pemandu kami tidak banyak memperoleh informasi sejarah dilokasi ini.  Mengenai Karaeng Pattingalloang sendiri, saya hanya mengetahui bahwa beliau adalah Raja kerajaan Tallo yang sangat yang sangat fasih dalam bahasa asing, itu saja.  Hal itu kuketahui setelah membaca sekilas tentang beliau di Museum ini. Ketidakhadiran sang pemandu membuatku agak kurang bersemangat mengambil gambar di dalam museum itu.  Museum yang bercat hijau yang dindingnya terbuat dari kayu itu di dalamnya terdapat koleksi batu bata, pakaian adat, lukisan dan yang lainnya.  Setelah dari Museum Karaeng Pattingalloang, kami bergerak menuju Benteng Somba Opu.

Sebagai seorang blogger, narsis itu perlu” ujar salah seorang teman ketika ketika teman yang lain asyik berfoto ria setibanya di benteng itu. Selanjutnya kami menuju sebuah makam yang masih di area Benteng Somba Opu, entah makam siapa, sekali lagi ketidakhadiran sang pemandu membuatku enggan bertanya kepada bapak tua yang mungkin ia penjaga atau juru kunci makam tersebut.  Kami hanya mengambil gambar Benteng itu dari berbagai sudut, tanpa informasi apa-apa.  Selanjutnya panitia memberikan kami games, setelah itu kami meninggalkan Benteng yang didirikan pada awal abad ke-16 itu menuju  Benteng Fort Rotterdam.

Pukul 2.30 kami tiba di Benteng Fort Rotterdam, pemandu membawa kami ke sebuah ruangan di dominasi koleksi keramik berbagai dinasti China dan juga keramik dari Vietnam. Sang pemandu memberikan penjelasan begitu singkat sehingga kami berpindah dengan cepat dari satu ruangan keruangan lainnya.  “Pak Suhardi, pemandu di Museum kota lebih baik, ia memberikan penjelasan dengan detail mengenai benda atau objek sejarah dan ia begitu bersemangat” aku membatin.  Kami beralih ke Museum Lagaligo, ternyata di museum ini terdiri banyak ruangan semisal ruangan warisan budaya kerajaan Luwu, Bone, Gowa dan ruangan-runan lainnya, diruang lainnya terdapat miniatur perahu pinisi, baju perang Mamasa dan masih banyak lagi.  “mungkin ini yang membuat pemandu memberikan penjelasan yang singkat,butuh waktu yang lama jika ingin dijelaskan secara mendetail”, pikirku.

Diantara ruangan di museum Lagaligo itu, yang membuatku tercengang sekaligus bahagia yaitu ruangan yang di dalamnya terdapat foto-foto ulama besar di Sulawesi Selatan semisal K.H Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan sebutan imam Lapeo.  Imam Lapeo adalah ulama kharismatik  di tanah mandar, beliau adalah seorang waliullah yang harus berhadapan dengan penganut ilmu hitam yang banyak di daerah itu diawal dakwahnya.  Terdapat pula foto K.H. Muhammad A`sad pendiri pesantren A`saddiyah di Sengkang dan beberapa ulama lainnya.  “Muhtar Lutfhi ternyata seorang ulama” aku membatin ketika retinaku ini membaca keterangan dibawah foto beliau.  Nama beliau diabadikan sebagai nama jalan disalah satu sudut kota makassar, tanpa embel-embel gelar KH. Jadi awalnya kukira beliau seorang pahlawan.  Teman Blogger mulai meninggalkan ruangan itu.  Aku terus memuaskan hasratku memandang wajah-wajah ulama di ruangan itu, aku memotret mereka satu per satu, tanpa terasa tinggal aku sendirian di ruangan itu.

Ruangan itu merupakan ruangan terakhir yang kami kunjungi, tidak jauh dari ruang tahanan pangeran diponegoro kami semua berkumpul, setelah foto bareng , panitia meminta kami mengumpulkan secarik kertas yang dibagikan kepada masing-masing kelompok diawal acara tadi, panitia mengumumkan kelompok yang menjadi pemenangnya, ternyata bukan kelompokku, tapi tak apalah, bagiku kegiatan ini sudah cukup menghibur.

Di depan Benteng Fort Rotterdam, kami semua berpisah, sebelumnya panitia memberikan ucapan terima kasih atas keikutrsertaan kami dalam acara ini.  Maka berakhirlah kopi darat Blogger makassar yang bertemakan Blogger Peduli Sejarah ini.

“Sejarah, seberapa penting sih di untuk penduduk negeri ini, aku membatin”.  Sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Thomas C.O Guinn, bahwa masyarakat abad 21 segalanya mengenai selebriti.  Selebriti memang sosok nomor wahid di negeri ini, berita-berita tentang selebriti tiap hari berseliweran di statiun TV. Model rambut, model pakaian menjadi ikutan anak-anak muda di negeri ini. Kita-kita ini memang lebih banyak tahu mengenai kehidupan pribadi artis dibanding informasi-informasi  mengenai kemiskinan, kemelaratan negeri ini.  Apalagi soal sejarah, sejarah seberapa penting sih di negeri?.

Sebenarnya kontroversi mengenai lokasi makam Syaikh Yusuf, mengenai masih hidup atau meninggalnya Kahar Muzakkar maupun kisah Arung Palakka yang bersama penjajah Belanda  melawan Sultan Hasanuddin, apakah ia penghianat atau pahlawan sebagaimana yang ia telah terima tidak lama ini dapat memantik keingingan kita untuk lebih banyak belajar mengenai sejarah dan mudah-mudahan itu akan bermuara kepada kepedulian kita kepada sejarah itu sendiri.  Tapi kilauan pesona dunia selebriti yang didakwahkan oleh berbagai media, membuat kita ogah untuk mengenal kantong-kangtong kemiskinan di negeri ini, apalagi soal sejarah.

Terlepas dari itu semua, kegiatan kopi darat yang digagas Komunitas Blogger Angingmammiri.org  yang bertemakan “Blogger peduli sejarah” itu, merupakan serpihan kenangan indah yang tidak akan pernah kulupakan dan akan kusimpan di dalam laci rindu kehidupanku. Kerinduan akan kopi darat selanjutnya telah menyusup bahkan ketika kenangan indah Kopi Darat ini belum jua sirna.  Kutunggu kopi darat selanjutnya.

Makassar 28 Agustus 2008

Kamis, 04 November 2010

Sujud Syukur Yang Aneh

“Koran Pak” kata seorang anak yang menghampiriku disebuah lampu merah sebulan yang lalu. Aku mengarahkan pandanganku kearah koran yang ia tawarkan. Sungguh aku terkejut melihat halaman depan Koran tersebut. Disana terpampang gambar seseorang yang tidak asing lagi bagiku sedang melakukan sujud syukur. Ia adalah dosenku, pembimbing laporan Pu ku dan juga warga yang seperumahan denganku. Beliau melakukan sujud syukur karena berdasarkan hasil Quick Count lembaga survey, beliau memenangkan pilkada di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan dengan perolehan suara sebesar 40%. Sebagai seorang mahasiswa, anak bimbingan dan warga yang seperumahan dengan beliau, rasa bangga menyelimuti hatiku. Tapi rasa itu tidak berlangsung lama. Seingatku, para salafush saleh ketika mereka diangkat maupun ditunjuk menjadi pemimpin mereka tidak melakukan sujud syukur seperti itu, malah mereka menangis karena beratnya beban amanah yang harus mereka pikul.

Aku mengembara dalam sejarah, dengan mesin waktu membawa perhatianku ke zaman Umar bin khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Umar bin khattab adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia dijuluki Al Faruq karena beliau merupakan pemisah antara kebenaran dan kebatilan, beliau juga dijuluki Abu Hafshin (Bapaknya Singa) karena keberaniannya.

Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, “Pada suatu hari Umar bin Khattab .ra memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.”
 
Umar pernah berkata kepada sahabat Mu’awiyah Bin Khadij-yang heran karena melihat dirinya jarang tidur: “Jika aku tidur siang hari maka aku akan menelantarkan rakyatku, dan jika aku tidur di malam hari aku menelantarkan diriku. Bagaimana aku bisa tidur dengan dua keadaan ini?”.

Abdullah, puteranya berkata, “Umar bin Khattab .ra berkata, “Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”

Kini perhatianku tertuju pada khalifah umar bin abdul Aziz, beliau adalah salah satu khalifah di zaman dinasti bani Umayyah. Beliau adalah sosok yang saleh, bertakwa, ahli ibadah, wara’, dan zuhud. Ia juga seorang pemimpin yang adil, lurus, dan cerdas, mencintai dan mengasihi rakyatnya, sayang dan baik kepada mereka. Ibadahnya kepada Allah tidak menyita perhatiannya untuk memperhatikan rakyatnya. Tak ada pembatas antara dia dan hal yang menjadi kepentingan rakyatnya sampai yang paling kecil dan sepele sekalipun.

Menjelang wafatnya Sulaiman (khalifah sebelum Umar bin abdul Aziz), penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?”. Jawab Khalifah Sulaiman, “Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz“.

Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan dari kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.

Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, “Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini”.

Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki”.

Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Diujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi setelah Muhammad saw dan tiada kitab setelah alQuran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa disisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis “Alangkah besarnya ujian Allah kepadak” sambung Umar Ibn Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya banyak, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab pertanyaan- pertanyaan mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw” Isterinya juga turut mengalir air mata.

Kisah dua Umar diatas semakin menambah keyakinanku bahwa menjadi seorang pemimpin adalah hal yang berat dimana ia akan dimintai pertanggunjawaban terhadap yang dipimpinnya diakhirat kelak. Bagiku sujud syukur yang dilakukan oleh dosenku itu adalah sebuah keanehan. Sujud syukur seperti itu juga dilakukan oleh Gubernur baru Sulsel ketika ia terpilih beberapa waktu yang lalu. Apakah sujud syukur yang aneh itu juga akan dilakukan oleh gubernur jatim yang baru, walikota Makassar yang baru dan Presiden Indonesia yang baru ?. Kita tunggu.

Dari keanehan sujud syukur itu, aku menghirup aroma keanehan yang lain. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Prie GS, bahwa di dalam dunia pemulung tidak pernah kita kenakan istilah “Oknum” . Oknum itu cuma kita kenakan kepada profesi yang menurut kita hebat-hebat dan terhormat. Seperti misalnya Polisi, Tentara, Hakim, Pengacara, wartawan dan sebagainya. Tetapi karena kita tidak ingin berperkara dengan mereka, kita selalu menyebutnya oknum jika kita dapati ada seorang polisi menjadi tukang palak pada orang yang tengah berperkara, ada tentara yang mengamuk dipanti pijat, ada hakim berjualan perkara, ada pengacara Cuma mengulur-ngulur perkara. Orang-orang itu bukan polisi lagi, bukan tentara lagi, bukan hakim bukan pengacara tetapi oknum. Kita bisa mengerti bahwa penyimpangan kelakuan itu kita sebut sebagai ulah oknum. Tapi Kenapa ketika ada diantara pemulung yang mencuri,kita tidak pernah kenakan kata yang sama?
Ternyata di negeriku ini banyak juga keanehan-keanehan. Di bidang kehutanan, dalam hal negara pengeskpor kayu bulat, Indonesia berada dibawah Malaysia, padahal luas hutan Indonesia sangat besar dibanding Malaysia. Lagi-lagi sebuah keanehan.

Keanehan yang satu ini lebih parah dibanding ketiga keanehan sebelumnya, yaitu sikap para pecinta Dunia. Demi untuk memperoleh dunia, para pecintanya itu rela melakukakan apa saja, mulai dari jual harga diri ,pamer aurat, kerja pagi sampai pagi, tidak peduli halal haram dan lain sebagainya. Tapi lihatlah kebaikan dunia kepada para pecintanya itu, ia hanya memberikan lubang ukuran 1×2 meter untuk kubur para pecintanya. Dunia memang pelit kepada pecintanya.

Pencarianku terhadap keanehan terus berlanjut, sehingga aku menemukan keanehan yang lebih dahsyat lagi dibanding keanehan-keanehan sebelumnya, dan ternyata itu ada di dalam diriku sendiri. Aku tahu betapa betapa pelitnya dunia, betapa singkat masanya, betapa banya godaanya namun sedikit manfaatnya, betapa buas penghuninya dan hebat bencananya namun hati ini masih condong kepadanya.

Maka kuangkat lagi kedua tangan yang berlumur dosa ini

Ya Allah, hambamu yang hina ini menghadap kepadamu, melupakan segala sesuatunya untuk memohon kepadaMU. Selamatkanlah kami dari tipudaya dunia.

Ya Allah, hambamu yang faqir ini menghadap kepadamu, melupakan segala sesuatunya untuk memohon kepadaMU. Selamatkanlah kami dari tipudaya dunia.

Ya Allah, hambamu yang dhaif ini menghadap kepadamu, melupakan segala sesuatunya untuk memohon kepadaMU. Selamatkanlah kami dari tipudaya dunia.
 
Kota Daeng, 27 juli2008

Selasa, 02 November 2010

Hilangnya Sebuah Rasa

Mungkin kita pernah melihat bangunan piramid yang ada di Mesir atau bahkan pernah mengunjunginya, rasa takjub dan kagum bisa jadi hinggap dalam diri kita setelah melihatnya ,tapi tahukah kita?, bahwa piramid itu dibangun dengan mengangkut 800 juta bongkah batu dari Aswan ke Kairo yang dibawa oleh budak-budak yang jumlahnya sekitar 30.000 orang. Beratus-ratus dari mereka remuk dilindas beban berat. Mereka meninggal pada usia muda (sekitar 30 tahun) karena mengalami cedera tulang belakang, sementara yang masih hidup mesti terus mengangkut beban-beban berat. Piramid itu diselesaikan dalam waktu 20-30 tahun, konon dalam pembangunan Tembok Besar Cina orang-orang yang tidak bisa mengangkut beban-beban dilindas dengan batu-batu besar dan dijadikan bahan pembangun dinding itu bersama dengan batuan. BEGINILAH CARANYA MONUMEN BESAR PERADABAN ITU DIBANGUN, DIBANGUN DIATAS TULANG BELULANG PARA PEKERJANYA, ATAS NAMA KEMEGAHAN, KEINDAHAN, KEBESARAN, MONUMEN BESAR PERADABAN ITU HARUS MENGORBANKAN NYAWA PARA PEKERJANYA. Tiba-tiba rasa takjub dan kagum terhadap monumen besar peradaban itu berangsur-angsur hilang dan kini berubah menjadi benci, marah dan lain sebagainya.
***
Seorang pemuda sedang asyik duduk di sebuah taman, tiba-tiba lewat seorang gadis cantik berpakaian sangat sexy. Pemuda itu memandang sang gadis dengan penuh hasrat, ia kagum dan takjub dibuatnya, tiba-tiba si pemuda teringat sebuah hadits Rasululloh SAW yang berbunyi :

Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Rasa kagum dan takjub si pemuda itu kini berubah menjadi rasa iba, di dalam hatinya ia merintih, “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ia menjadi hambamu yang tidak dapat mencium bau surgaMu, Ya Allah berikanlah ia hidayah”.

Terkadang rasa suka, kagum dan takjub muncul dari ketidaktahuan kita, setelah kita mengetahui hakekat sebenarnya, rasa itu hilang dan berubah menjadi benci, jengkel bahkan iba.


Ditulis di Makassar, 24 Mei 2008


Senin, 01 November 2010

Ramainya Pasar Kemunafikan dan Mall Kedustaan

Suatu hari Joko naik angkot menuju rumahnya, di tengah perjalanan ia terjebak kemacetan, ternyata di depan ada sekelompok mahasiswa yang melakukan demo mengenai kenaikan harga BBM.  Mereka menutup sebagian badan jalan dan membakar ban bekas (joko tidak dapat membayangkan, bagaimana jika ada mobil ambulance dimana di dalamnya ada seorang yang lagi sekarat  dan segera membutuhkan pertolongan atau seorang ibu yang sudah ingin melahirkan terjebak dalam kemacetan ini, haruskah demo dengan menutup jalan? tanya joko dalam hati).

"Menaikkan harga BBM di tengah keterpurukan ekonomi saat ini adalah sebuah bentuk kedzaliman, lawan kedzaliman, hapuskan kedzaliman dari negeri ini," sayup-sayup terdengar suara dari kerumunan pendemo.  Joko mengangkat pandangannya menuju sumber suara itu, ternyata yang berbicara itu adalah kak Anton, seniornya di kampus.  Tiba-tiba tawanya meledak, seisi angkot menatapnya, ”kenapa adik tertawa?, apakah adik senang dengan kenaikan harga BBM ini,” tanya ibu berjilbab merah jambu yang duduk di depannya. ” Bu, di zaman sekarang ini yang namanya pasar kemunafikan dan mall kedustaan makin ramai saja," "Maksud anda?,"  tanya  si pemuda yang berpakaian junkies dengan rambut ala mohawk dan anting di telinga kirinya memotong penjelasan Joko (kata orang sich ini namaya anak gaul, tetapi kalau kita mau berpikir lebih dalam, sebenarnya ia adalah korban mode, jadi selanjutnya kita panggil saja si korban mode).

"Apakah anda mengenal lelaki yang mengenakan kaos merah bergambar Che Guevara itu, joko menunjuk salah seorang di antara pendemo itu."Si korban mode menggelengkan kepalanya," dia itu senior saya di kampus namanya kak Anton. Dialah yang tadi mengatakan ”Menaikkan harga BBM di tengah keterpurukan ekonomi saat ini adalah sebuah bentuk kedzaliman, lawan kedzaliman, hapuskan kedzaliman dari bumi Indonesia ini” dan perlu anda ketahui, seminggu yang lalu ia mengospek kami dengan begitu dzalim.  Tamparan, pukulan, tendangan, cacian, makian dan berbagai bentuk kekerasan fisik dan mental menjadi makanan kami sehari-sari selama menjalani OSPEK.  Hari ini ia berkoar-koar untuk melawan dan menghapus kedzaliman.  Apakah itu bukan suatu hal yang lucu, menggelikan sekaligus memuakkan?."  Joko berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan penjelasannya dengan nada tinggi.
"Inilah zaman dimana pasar kemunafikan dan mall kedustaan makin ramai saja

Banyak orang mengatakan LAA ILAHA ILLALLAH (tidak ada tuhan selain Allah), tetapi mereka menuhankan mahluk, harta, tahta dan wanita
Banyak orang mengatakan ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar), tetapi yang besar di hati mereka adalah mahluk, harta, tahta dan wanita.

Dan tentu saja, banyak orang yang berteriak-teriak melawan kedzaliman, sedang ia sendiri adalah pelaku kedzaliman." 

"Saya juga mahasiswa seperti anda dan mengalami apa yang anda alami," kata Si Korban Mode.  "Saya juga tidak habis pikir mengapa para senior  mengospek kami dengan begitu kejam, apakah mereka suka, senang dan bahagia ketika mereka diospek dulu.  Mengapa tidak ada ada yang berlapang dada dengan berprinsip cukup saya saja yang mengalaminya, dan saya akan menjadi senior yang menjadikan ospek tanpa adanya kekerasan baik fisik maupun mental.  Jadi apa yang yang anda istilahkan dengan ramainya pasar kemunafikan dan mall kedustaan itu benar adanya.  Kita membenci para koruptor kenapa bukan kita yang korupsi, kita membenci maling kenapa bukan kita yang maling, setelah ditindas kita mempersiapkan kekuatan untuk balik menindas, setelah dizalimi kita menyusun barisan untuk balik mendzalimi, setelah diperbudak menyatukan langkah untuk memperbudak”.

"Hehe, betul apa yang adik-adik katakan itu," kata pak tua yang duduk di samping Joko. Inilah potret negeri yang kita cintai ini, ramainya pasar kemunafikan dan mall kedustaan disebabkan karena kita-kita ini mengidap penyakit kronis.  "Penyakit apa itu pak?" tanya penumpang lainnya serempak. "Penyakit itu bernama kegersangan spiritual.  Sewaktu saya muda dulu, masih terdengar sayup-sayup suara orang membaca Al-Qur`an dari rumah mereka setelah waktu Magrhib.  Tapi sekarang, kita ini lebih suka menonton sinetron, lebih suka menonton kontes nyanyi dan berbagai macam acara di TV.  Setelah acara itu selesai barulah kita shalat maghrib, shalat maghrib mendekati waktu isya.  Bagi kita, Allah hanyalah waktu sisa."

"Saya setuju dengan bapak," kata pak sopir yang sedari tadi asyik mendengarkan perbincangan mereka. "Bagaimana di negeri ini orang-orang tidak mengalami kegersangan spiritual, orang-orang lebih mengidolakan artis dibanding Rasulullah Muhammad SAW, para ulama dan shalihin. Padahal artis itu belum jelas, apakah wajah mereka sering terkena air wudhu atau tidak, apakah mereka sering bersujud kepada Allah atau tidak.  Akibatnya kita jauh dari agama, jauh dari ulama, kurang mengenal Allah, kurang mengerti halal dan haram, tidak takut dan cinta kepadaNya."

”Bukan hanya itu, sambung joko.  Ada kecendrungan teman-teman saya di kampus lebih tertarik untuk mengkaji pemikiran Karl Max, Jean Paul Sastre, Heidegger, Hegel, Nietzche, Che Guevara dibanding ulama-ulama besar sekaliber Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Athaillah dan yang lainnya.  Apakah Jean Paul Sastre, Heidegger, Hegel, Nietzche dan yang lainnya itu lebih zuhud, lebih wara, lebih tawadhu, lebih ikhlas dan lebih takwa dibanding ulama-ulama semisal Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi dan Imam Ibnu Athaillah?.   Akibat dari sikap seperti ini, kita jauh dari pesan spiritual dan kalam hikmah para ulama dan itu makin menambah kegersangan spiritual kita.  Kegersangan spirituallah yang mengakibatkan munculnya sifat munafik, dzalim, rakus, serakah, suka menindas dan sifat-sifat tercela lainnya.  sifat-sifat tercela ini merupakan bencana moral bagi kita, bencana moral yang akan mengakibatkan timbulnya bencana alam.”

"Negeri ini memang menyimpan 1001 masalah di berbagai sektor, mana ada sich urusan yang lancar tanpa uang pelicin di negeri ini," ibu berjilbab merah jambu yang duduk di depan  Joko juga ikut bicara.  Selanjutnya diikuti oleh seisi angkot (kecuali anak berseragam SMP yang duduk di dekat pintu keluar), masing-masing dari mereka mengeluarkan keluh kesah mengenai kondisi negeri ini.  Ada yang mengeluh mengenai mahalnya biaya pendidikan, mahalnya harga barang kebutuhan pokok, Ada yang mengeluh mengenai sikap elit politik yang saling menjatuhkan, Ada yang mengeluh mengenai  aset-aset negara yang dijual ke asing dan berbagai macam keluhan lainnya.

Suasana diatas angkot itu kini berubah menjadi ajang keluh kesah terhadap negeri yang mereka diami, mereka bangga dan tak mau kalah dengan keluhannya masing-masing.  "Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu” anak berseragam SMP yang duduk di dekat pintu keluar itu buka suara, "saya juga prihatin dengan kondisi negeri ini, tapi apakah dengan mengeluhkannya permasalahan negeri ini akan selesai?.  Seandainya mengeluh itu menyelesaikan masalah, maka marilah kita mengeluh berjamaah.  Permasalahan bangsa ini akan teratasi jika kita masing-masing memperbaiki diri, setelah itu memperbaiki keluarga kita, selanjutnya masyarakat kita dan negeri yang kita cintai ini.  Sebagaimana yang pernah dikatakan Syaikh Abdul-Qadir Al-­Jailani Wahai ghulam, nasihatilah dirimu terlebih dahulu, barulah kemudian menasihati orang lain. Engkau harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah engkau menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Celaka Engkau. Engkau ingin menyelamatkan orang lain sedangkan dirimu sendiri dalam keadaan buta. Bagaimana orang buta dapat menuntun orang lain? Yang bisa menuntun manusia hanyalah orang yang dapat melihat. Yang bisa menolong mereka dari tenggelam di lautan hanyalah orang yang tangkas berenang.”

Semua penumpang diatas angkot itu terdiam, anak berseragam SMP itu telah menampar kesadaran mereka bahwa keluhan-keluhan yang mereka muntahkan itu  sungguh tidak akan menyelesaikan masalah.
"Turun, turuuun..., tiba-tiba sekelompok orang menghadang angkot yang mereka tumpangi.  "Ada apa,” tanya pak sopir kepada salah seorang diantara mereka.  Begini pak, mulai pukul 12.00 siang ini, seluruh angkot di kota ini harus berhenti beroperasi, ini sebagai protes agar  tarif angkutan umum harus segera dinaikkan menyusul kenaikan harga BBM.  Maka dengan berat hati pak sopir menyuruh penumpangnya turun.  Kini tak pun satu angkot beroperasi, Joko melanjutkan perjalananya dengan berjalan kaki, selama dalam perjalanan ia selalu terngiang-ngiang dengan perkataan anak berseragam SMP di angkot yang ia tumpangi tadi.  Sebenarnya ia agak gengsi juga dinasehati oleh seorang pelajar SMP, tapi ia teringat nasehat Imam Ali Bin Abi Thalib "Usahlah kau lihat dari mana datangnya, tapi lihatlah apa yang ia katakan.”

Makassar, 19 Juni 2008

Selasa, 19 Oktober 2010

Seharusnya Merekalah yang Kita Jadikan Idola

Ada seorang ulama yang berjalan kaki sejauh 30 km dari kotanya menuju kota lain untuk mencari fakir miskin, setiap fakir miskin yang beliau temui ia berikan uang dan ketika seluruh uangnya habis untuk beliau sedekahkan, barulah beliau pulang ke rumahnya dan itu beliau secara istiqamah setiap hari Jum`at sampai beliau meninggal, terus bagaimana dengan kita? yang ketika seorang peminta-minta datang ke rumah kita (tanpa kita perlu bersusah payah mencarinya), kita katakan besok, besok dan tanpa malu-malu di dalam setiap munajat kita selalu berdoa Ya Allah tambahkan dan luaskanlah rezkiku. dan Allah juga akan mengatakan besok,besok (ALANGKAH BAIKNYA KALAU ORANG SEPERTI BELIAU INI KITA JADIKAN IDOLA, SEHINGGA MUNCULLAH SEMANGAT UNTUK BERSEDEKAH, DAN KALAU SELURUH RAKYAT INDONESIA MEMPUNYAI IDOLA SEPERTI INI, MAKA YANG NAMANYA PEMINTA MINTA SUDAH TIDAK ADA DI BUMI INDONESIA INI)

Ada seorang lelaki yang datang dari madinah menuju damsyik menemui Abu Darda hanya untuk mendengarkan satu hadits. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu darda, aku datang dari Madinah untuk mempelajari satu hadits darimu, karena aku diberitahu bahwa engkau adalah orang yang mendengar langsung dari Rasulullah SAW…”
Abu Darda berkata, “Apakah kamu mempunyai tujuan lain ke Damsyik?”
Orang itu menjawab, “tidak”

Abu Darda bertanya lagi,”Apakah kamu yakin bahwa kamu tidak mempunyai tujuan lain selain dari itu untuk pergi ke Damsyik?” 

Orang itu menjawab, “Aku datang ke tempat ini semata-mata untuk mempelajari hadits ini.”

Abu Darda berkata, “Dengarlah, aku telah mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, ‘Allah akan memudahkan jalan ke surga kepada seseorang yang berjalan beberapa jauh untuk mencari ilmu pengetahuan. Para malaikat pun akan menghamparkan sayap-sayap mereka di bawah kakinya dan semua mahluk yang berada di langit dan di bumi akan mendoakan agar di memperoleh ampunan. Kelebihan seseorang yang berpengetahuan daripada seorang yang hanya beribadat adalah seperti kelebihan bulan dari bintang-bintang. Para ulama adalah sebagai pewaris rasulullah dan warisan Rasulullah bukanlah Dinar (uang emas) ataupun Dirham (uang perak) tetapi ilmu pengetahuan. Barang siapa mengambilnya, berarti ia memperoleh kekayaan yang tidak ternilai banyaknya.” (Ibnu Majah)

Sya`bi rah.a adalah seorang muhaddits yang terkenal dari kufah. Suatu ketika beliau pernah meriwayatkan satu hadits kepada salah seorang muridnya dan berkata, “Sekarang dengan duduk di tempat tinggal kalian sendiri, kalian dapat mendengarkan dan mempelajari satu hadits. Padahal dahulu untuk mempelajarinya dari segenap pelosok dunia mereka terpaksa pergi ke Madinah, karena ketika itu Madinah adalah satu-satunya tempat untuk belajar.”

Sa`id bin al Musayyab adalah Tabiin yang termahsyur, ia berkata, “Untuk mempelajari satu hadits saja, terpaksa aku mengembara dengan berjalan kaki selama beberapa hari lamanya”. Imam Abdullah Bin Alwi Al Haddad mengatakan “Tidaklah ilmu yang aku miliki ini datang begitu saja, tetapi aku menghadiri majelis ulama dimana dalam sehari tidak kurang dari 16 majelis ilmu aku datangi”. Lihatlah Imam Abdullah Bin Alwi Al Haddad seorang ulama besar yang mana kedua mata beliau buta menghadiri 16 majelis ilmu setiap harinya, terus bagaimana dengan kita? Yang di daerah kita mungkin ada majelis ilmu (apalagi kalau kita mempunyai kendaraan sendiri), kita masih malas mengunjunginya?. (ALANGKAH BAIKNYA KALAU ORANG SEPERTI MEREKA KITA JADIKAN IDOLA, SEHINGGA MUNCULLAH SEMANGAT UNTUK MENUNTUT ILMU, DAN KALAU SELURUH MUSLIMIN INDONESIA MEMPUNYAI IDOLA SEPERTI MEREKA, MAKA INSYA ALLAH KITA MEMPOREH PEMAHAMAN KEAGAMAN YANG CUKUP SEHINGGA YANG NAMANYA ALIRAN SESAT MUNGKIN SUDAH TIDAK ADALAGI DI BUMI INDONESIA INI)

Marilah saudaraku kita bersama-sama mengidolakan Sayyidina Muhammad Saw, para sahabat beliau, para ulama dan shalihin, bukan artis, artis itu belum jelas, apakah wajah mereka sering terkena air wudhu atau tidak, apakah mereka sering bersujud kepada Allah atau tidak. Salah satu cara agar kita mengidolakan Sayyidina Muhammad Saw, para sahabat beliau, para ulama dan shalihin adalah dengan sering membaca biografi mereka.

Barang siapa memperhatikan sejarah hidup para Salaf (orang-orang saleh terdahulu), maka dia akan menyadari kekurangan pada dirinya serta akan mengetahui betapa rendahnya kedudukan dirinya di Sisi Allah dibandingkan pangkat dan derajat mereka”
( Asy-Syaikh Abu Hamdun Al-Qashar An-Naisaburi)

Senin, 18 Oktober 2010

Merasa rugi

Sudah tiga tahun kubiarkan begitu saja radioku yang rusak berada di dalam kamarku, radio yang dulunya kugunakan untuk mendengarkan tausiyahnya Aa Gym , radio yang dulunya kugunakan untuk mendengarkan esainya Asdar Muis RMS dan radio yang dulunya kugunakan untuk mendengarkan tausiyahnya ustad Das`ad Latief menjelang adzan Maghrib.  Radio itu kubiarkan begitu saja tanpa ada perasaan rugi sama sekali. Rugi tidak lagi mendengarkan Tausiahnya Aa gym dan Das`ad Latief, rugi tidak lagi mendengarkan esainya Asdar Muis RMS.  

Suatu waktu aku membaca majalah Cahaya Sufi (www.sufinews.com), seseorang yang bernama Prie GS begitu mengagumkanku.  Seorang budayawan yang berbicara mengenai dunia sufi dengan ulasan yang sangat sufistik.  Menurutku,  kalau yang berbicara para Ulama maupun Mursyid Tarekat itu sih biasa, tapi kalau seorang budayawan, itu baru benar-benar mengagumkan.  

Hari demi hari terus kulalui, perasaan kagum terhadap sosok yang bernama Prie GS masih terpatri di dalam dadaku, suatu hari kulihat beliau ada di Indosiar dalam sebuah acara pukul 6 pagi WITA (saya lupa nama acaranya), beliau membawakan refleksi yang makin menambah kekagumanku padanya, sayang acara itu hanya bertahan sekitar 1 atau 2 bulan, itupun tiap hari selasa dan dibawakan oleh beberapa orang, hari ini mas Prie bawakan, besok yang lainnya.  

Rasa kagum sekaligus penasaran terhadap mas Prie GS kutindak lanjuti dengan berselancar di dunia maya, apalagi saudaraku mengatakan bahwa beliaulah yang membawakan ”sketsa indonesia” di Smart FM, sungguh semakin menambah rasa kagumku. Menggunakan paman Google kuketik Prie GS+mp3 dan berbagai variasi keyword lainnya dengan harapan mendapatkan web/blog pribadinya maupun koleksi file mp3 di Smart FM, namun hasilnya nihil, tak kutemukan web/blog pribadinya maupun koleksi file mp3nya(kejadian terjadi sekitar 1-2 tahun lalu).  

Beberapa minggu yang lalu kubuka website andrie wongso (yang juga didorong oleh rasa kagumku terhadap beliau), kutemai tulisan-tulisan mas Prie di sana, maka kugunakan lagi paman google, kuketik prie GS, setelah kutekan enter, Alhamdulillah disana muncul alamat website dan blognya mas Prie, kujelajahi website dan blognya, beberapa tulisan beliau saya copy, disana terpampang pula file audio dengan format mp3, kugunakan senjata andalanku untuk mendownloadnya, Internet Download Manager (senjata andalanku yang sudah 2-3 tahun menghiasi hari-hariku di dunia maya, menggatikan Internet Download Accelerator maupun Flashget).  Setelah semuanya beres, kuhentikan koneksi internetku dan menuju ke kasir membayar biaya internetku.

Ada perasaan kagum, menggelitik dan berbagai perasaan lainnya yang sulit kubahasakan setelah membaca artikel maupun mendengarkan file audionya, kesimpulannya beliau adalah penulis yang hebat, tiba-tiba muncul rasa merugi dalam diriku, selama 3 tahun radioku rusak selama itu pula aku tidak mendengarkan mas Prie di Smart FM dan perasaan merugi itu memuncak tadi pagi, ketika kubaca buku ”Aa Gym dan Fenomenia Daarut Tauhid” Aa Gym mengatakan ”...........jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya” aku seperti tersengat, sungguh kalimat ini menembus relung hatiku yang paling dalam.  Bagiku Aa gym adalah sosok yang luar biasa, dengan bahasa sederhana namun ia dapat menyentuh hati para pendengarnya (begitu juga ceramah Habib Munzir al Musawa, Buya Hamka dan Ustad Yusuf Mansur), sungguh sosok yang langka untuk ukuran zaman sekarang ini, zaman dimana makin ramainya pasar kemunafikan dan mall kedustaan. Aku merasa seperti kehilangan Aa gym, selama tiga tahun radioku rusak, selama itu pula aku aku tidak mendengarkan tausiyah beliau. Sungguh sebuah kerugian yang besar bagiku.  Hari ini aku bertekad memperbaiki radioku, agar tausiyah Aa gym yang menembus kedalaman jiwaku kembali terdengar, agar refleksinya mas Prie GS yang super renyah, kritis dan menggelitik yang dapat menampar kesadaran terdalam dari setiap manusia yang mengaku masih punya akal dan perasaan kembali mengalun di rumahku.    

Tamalanrea 2 Juni 2008                                                                                                         

Jumat, 15 Oktober 2010

Catatan menjelang Piala Eropa 2008

Tiga hari lagi perhelatan akbar Piala Eropa akan di gelar, para bola mania sudah tidak sabar lagi melihat penampilan tim kesayangan maupun bintang idolanya.  Italia, Jerman, Belanda, Spanyol dan Perancis merupakan tim unggulan di ajang terbesar di daratan Eropa itu (saya jadi teringat seseorang yang lebih  mendukung tim-tim dari Amerika Latin dibanding dari Eropa ketika Piala Dunia 1998 lalu, katanya bangsa Eropa adalah bangsa penjajah).   

Diantara bola mania itu ada yang rela begadang demi melihat aksi bintang pujaanya maupun melihat tim kesayangannya.  Bagi mereka yang tidak kuat begadang ya tinggal atur jam weker atau alarm di Handpone, mudah kan.    Begitulah kesungguhan para bola mania demi tim atau bintang idolanya, ada semacam kesedihan  ketika penampilan mereka terlewatkan. 

Adakah diantara kita yang menyetel jam weker untuk berduaan denganNya? 
Adakah diantara kita yang menyetel  alarm di Handpone untuk bermesraan dengan Sang Maha Raja Tunggal di langit dan bumi?
Adakah diantara kita yang sedih, ketika malam-malam kita terlewatkan tanpaNya?

Fudhail ibn Iyadh berkata, “Aku telah mendengar kabar bahwa saat malam menjelang, Allah Ta`ala berfirman,”Mana orang-orang yang saat siang mengaku cinta kepadaKu.  Tidakkah setiap pecinta suka menyendiri bersama kekasihnya.  Inilah Aku, saat ini Aku mendatangi para kekasih-Ku, mereka berbincang dengan-Ku dalam hadir, dan mereka berkata-kata kepada-Ku dalam penyaksian.  Dan kelak, akan Kuperlihatkan sesuatu yang menyenagkan mata mereka di surga.”

Kita sering mengucapkan ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar), tetapi yang besar di hati kita adalah  harta, jabatan, wanita dan tentu saja tim maupun bintang idola kita yang sebentar lagi akan berlaga di Piala Eropa.
TANYA KENAPA……… hmmmmm….. KENAPA TANYA..??

Kamis, 23 September 2010

Semangat lagi

Tidak ada kesuksesan yang instant

Kesuksesan butuh “keringat”
Kesuksesan butuh belajar
Kesuksesan butuh perjuangan


Alhamdulillah saya sangat bersyukur menemukan majelis habaib di Makassar, yaitu  Majelis Haflah Dzikir Wa`Ta`lim Jamiatul Mubarak, berlokasi di Jl. Tinumbu Komp. UNHAS Baraya Blok Lama No. 19 yang diasuh oleh Habib Mahmud Bin Umar Al-Hamid.  Saya berkeinginan mengajak teman-teman saya ke majelis tersebut baik itu acara pekanan seperti pembacaan ratib al-haddad+pembacaan mauled diba/habsyi/burdah tiap malam jum`at maupun acara-acara besar seperti mauled, isra mi`raj, haul syeikh Abu Bakar Bin Salim dan acara-acara besar lainnya.

Teman dan keluarga yang saya ajak pada awalnya datang ke majelis habib Mahmud, tetapi lama kelamaan mereka sering menolak dan hanya menjanjikan akan datang, walaupun begitu saya tetap semangat, kenapa?

PERTAMA : Saya beberapa kali mengikuti pertemuan yang diadakan oleh sebuah MLM, mereka sangat bersemangat di dalam memperoleh passive income, mobil bmw, mercy dan lainnya, saya hanya berfikir, kalau mereka begitu semangat dan antusias dalam urusan seperti itu, kenapa saya tidak semangat dalam mendakwahkan agama ini?

KEDUA : Saya pernah mendengar ceramah habib Munzir (www.majelisrasulullah.org), beliau mengatakan : di dalam dakwah Allah tidak melihat hasil  yang kita capai, tetapi Allah melihat semangat dan kesungguhan kita

Dua point diatas memberikan semangat kepada saya untuk terus mengajak teman-teman dan keluarga walaupun ujung-ujungnya penolakan secara halus, lama kelamaan saya merasa patah semangat ketika ajakan saya sering ditolak, puncaknya ketika acara Maulid, orang-orang yang saya undang/ajak tidak ada satupun yang datang, saya makin tidak bersemangat untuk mengajak orang-orang ke majelis ini.

Suatu saat saya menonton televisi, disitu diceritakan kisah hidup Andrie Wongso, seorang yang yang tidak tamat SD yang kini menjadi pengusaha dan motivator nomor wahid di Indonesia, di akhir acara beliau mengatakan :

TIDAK ADA KESUKSESAN YANG INSTANT

Kesuksesan butuh “keringat”
Kesuksesan butuh belajar
Kesuksesan butuh perjuangan



Kata-kata beliau membangkitkan semangatku untuk mengajak lagi orang-orang ke majelis habib mahmud, apalagi setelah saya pikir-pikir, saya belum terlalu “berkeringat” , , saya belum banyak belajar, saya belum banyak berjuang  untuk mengajak orang-orang ke majelis Habib Mahmud.  Terima kasih mas Andrie Wongso, saya jadi semangat lagi.