Jumat, 27 Januari 2012

Guru Sesungguhnya

Semasa hidup gus dur pernah bercerita dalam sebuah acara di Pondok al Hikam Malang, tentangseorang santri yang hobinya mencuri celana dalam santri putri. Begitu ketahuan, pengurus pondok memutuskan untuk mengeluarkan oknum itu dari pesantren. Mendengar ini, Kyai Abdul Fatah malah melarang dan bahkan malah memberi kamar khusus untuk oknum santri itu di ndalemnya. Kyai Fatah beralasan mereka datang ke pesantren untuk diperbaiki akhlaknya. Kalau sudah baik akhlaknya nda perlu lagi di pesantren.

Di Pesantren HM Lirboyo, suatu hari pengurus pondok memutuskan mengeluarkan  seorang santri yang ketahuan mencuri harta benda santri-santri lain. santri itu bahkan menyemir rambutnya dengan warna merah, dan berpenampilan layaknya seorang preman. Saat keputusan mengeluarkan itu didengar oleh Kyai Kafabihi, kyai menangisinya, seperti kyai fatah, kyai kafabihi menanyakan bagaimana kalau anak itu dikeluarkan dan menjadikannya berperilaku lebih parah? tapi berbeda dengan kyai fatah, kyai Kafabihi menghormati putusan pengurus pondok, "meski pengurus pondok itu santri2 kyai kafa sendiri".

Saat abah jalannya belum tertatih seperti sekarang ini, beliau dengan sabar setiap pagi membangunkan santri2 untuk bershalat subuh. suatu hari ada seorang santri yang tidak menyadari kalau yang membangunkan subuh itu abah, dia menarik tongkat abah... hingga hampir terjengkang. abah tertawa... besok harinya...santri yang sama yang memang sulit dibangunkan... saat dibangunkan abah, dia malah nungging dan mengentuti abah... abah tak pernah sakit hati

Lelah... sepulang kuliah dulu, membuat saya seringkali tertidur saat ngaji didepan Habib Shaleh Ibn Ahmad Ibn Salim Alaydrus... suatu hari saat terkantuk-kantuk, tiba-tiba Habib berkata: "wahai para ustadz, ketahuilah janganlah engkau mentang-mentang menjadi guru; jangan tergesa-gesa memvonis muridmu jelek saat mereka melakukan kesalahan, meski kesalahan sekecil apapun itu. termasuk juga saat muridmu mengantuk... sadarlah dan pikirkanlah, jangan-jangan mereka itu digerakkan oleh Allah untuk mengingatkanmu, karena kamu para ustadz lalai terhadap Allah."

Ustadz Ali Haidar yang pada waktu itu menjadi sekretaris Rabithah Maahidil Islam, dalam sebuah seminar dikritik oleh kalangan akademisi tentang kurikulum pesantren yang tidak mencerdaskan. Ustadz Ali Haidar menjawab: "pesantren memang tidak sedang mencetak orang pintar, tapi pesantren mencetak orang benar... orang yang berakhlak."

Saat pertama kali sowan kepada kyai Luthfi Ghozali, beliau berkali-kali menyitir al baqarah 134 "wa-aafi aninnaas" dan berpesan kepada saya bahwa seorang muttaqien, adalah seorang yang pemaaf. Orang-orang yang menyakiti itu pada hakekatnya diutus Allah untuk menguji seberapa pantas seseorang menyandang derajat ketaqwaan, atau bahkan sedang membuka hijab kita dengan Allah. "karenanya jangan terlalu membenci seorang yang berbuat buruk kepada kita." begitu pesan beliau.

Guru di pesantren... tidak seringan beban guru di dunia pendidikan formal, apalagi yang hanya mengedepankan parameter sukses pada angka-angka raport. Guru di pesantren lebih sebagai sosok yang merawat ruh muridnya, mengajarkan bagaimana mengenali kehidupan dengan sentuhan hati. Sentuhan hati yang dekat dengan RABB. karenanya pantaskah kita menyebut diri sebagai seorang guru saat memperlakukan murid-murid dengan hanya melihat fisik jasmani saja? mungkin mengeluarkan murid yang bermasalah bukan suatu problem didunia pendidikan umum, tapi bagi orang-orang pesantren, mengeluarkan murid bermasalah hanyalah menunjukkan ego dan ketidak sadaran "guru" bahwa dia telah menunjukkan kegagalannya dalam merawat ruh santri dan kedangkalan hubungannya dengan Allah....

waLLahu a'lam bissowab. mbuh bener mbuh ora... mung Pengeran sing Pirso.


Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150513038682899

Senin, 05 September 2011

LEBARAN DUA VERSI, MUHAMMADIYAH "BIANG KEKACAUAN" ?

Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli Hadis dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto. Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumm ighfir lahum.  

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain : Pertama, shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya. Kedua, talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?). Ketiga, baca doa qunut Shubuh. Keempat, sama-sama gemar membaca shalawat (diba'an).

Kelima, dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha. Keenam, tiga kali takbir, "Allah Akbar", dalam takbiran. Ketujuh, kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali, dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitaf Fikih Muhammadiayah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh : Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343an H.  Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya " harus beda " dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadis-hadis yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah : bahwa mayoritas Hadis-Hadis yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma'in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha'if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha'il al-a'mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Ygyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir, bagaimana praktiknya ?.

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk tarawih. Dan tiga rakaat untuk witir. Model witir tiga sekaligus ini vrsi madzahab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir. Ini versi al-Syafi'ie.

Tapi pada tahun 1987, praktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadis dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi  dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu pakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama  mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal.  

Oleh karena itu, tahun 90an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang  Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode  "wujud al-hilal". Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadis yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan " taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr " dibuang dan arergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.     

Populerkah metode "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuwan falak ?. Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.
Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah  hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya tak kan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?. 

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong moderen sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelamahan akademik pasti ada. Minal aidin al-faizin, mohon maaf lahir dan batin.


Oleh : Ahmad Musta'in Syafi'ie
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150268506916712


Catatan:
Penulis adalah Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Senin, 29 Agustus 2011

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

Oleh: Thomas Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi -Astrofisika, LAPAN
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan ) dan rukyat (pengamatan) , tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan.  Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010 . Idul Fitri 1432/ 2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012 , 1434/ 2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati” . Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.


Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/ 2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/ 2006 dan 1428/2007 , laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal . Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke- 26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’ i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog saya http:/ /tdjamaluddin. wordpress.com /2011/ 07/28/ hisab- dan-rukyat -setara -astronomi- menguak-isyarat-lengkap- dalam-al -quran-tentang -penentuan- awal-ramadhan- syawal-dan -dzulhijjah/ ). Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapakelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern) . Lalu berkembang hisab imkan rukyat (visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan ) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya.  Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurub dan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya . Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal , kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan ) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub , imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.

Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU , Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata dikalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan ) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.

Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang” . Semoga Muhammadiyah mau berubah!

Minggu, 14 Agustus 2011

Sudah Berapa Juz Alqur`an yang dibaca...???

Pahala mengamalkan satu sunnah pada bulan Ramadhan sama dengan pahala beramal wajib di luar Ramadhan. Dan pahala menunaikan satu amalan wajib pada bulan Ramadhan sama dengan pahala menunaikan tujuh puluh amalan wajib di luar bulan Ramadhan. Berkenaan dengan hal ini, kita hendaknya memikirkan keadaan ibadah kita. Dalam bulan keberkahan ini hendaknya kita berpikir, sejauh manakah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan suhnah. Perhatian kita terhadap amalan fardhu pada saat ini adalah demikian : Kebanyakan di antara kita meneruskan tidur setelah sahur, sehIngga mengqadha’ shalat Shubuh, setidak-tidaknya tertinggal shalat berjamaah. Seolah-olah inilah syukur kita, ibadah wajib yang sangat perlu diperhatikan malah kita qadha’ atau paling tidak kita menguranginya.

Padahal, para ahi ushul berpendapat bahwa shalat tanpa berjamaah adalah suatu kekurangan, bahkan Nabi saw. bersabda bahwa seolah-olah tidak sah shalat mereka yang tinggal di sekitar masjid, kecuali di masjid. Tertulis di dalam Mazhahiril-Haq bahwa barangsiapa shalat tanpa berjamaah tanpa udzur, maka kewajiban shalatnya sudah terpenuhi, namun pahala shalatnya tidak ia dapatkan. Demikian juga dengan shalat Maghrib. Biasanya, ketika itu orang sedang sibuk berbuka puasa, sehingga tidak perlu dibicarakan lagi tentang orang-orang yang tertinggal rakaat pertama atau takbir pertama. Mengenai shalat Isya, karena beranggapan untuk mengganti kebaikan-kebaikan pada shalat Tarawih, banyak yang shalat Isya sebelum waktunya.

Demikianlah amalan kita pada bulan Ramadhan. Karena ingin menunaikan satu amalan wajib, tiga amalan wajib lainnya dilalaikan. Inilah yang paling sering terjadi. Sedangkan shalat Zhuhur, karena tidur sebelum Zhuhur (qailulah), kita tertinggal shalat berjamaah Zhuhur. Begitu juga dengan shalat Ashar. Karena sibuk mempersiapkan makanan ifthar, maka tertinggallah shalat berjamaah Ashar.

Itulah yang semestinya kita pikirkan, sejauh manakah kita menunaikan kewajiban-kewajiban pada buan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika yang wajib saja begitu sulit untuk diamalkan, bagaimana dapat mengamalkan yang sunnah? Shalat Isyraq dan Dhuha pada bulan Ramadhan sering kita tinggalkan karena tidur. Apalagi shalat Awwabin, karena sibuk berbuka dan khawatir dengan shalat Tarawih yang panjang, akhirnya shalat Awwabin ditinggalkan, dan waktu shalat Tahajjud kita juga habis karena digunakan untuk sahur. Apabila demikian, kapankah ada kesempatan untuk melakukan shalat sunnah. Semua ini terjadi karena orang-orang tidak memperhatikan atau tidak ingin mengamalkannya.

Sebuah syair berbunyi:
Jika tidak ada kemauan, beribu-ribu alasan dapat engkau kemukakan.

Namun demikian, betapa banyak hamba Allah yang sempat memanfaatkan kesempatan yang sangat bernilai ini. Saya melihat sendiri guru saya, Syaikh Khalil Ahmad (nawwarallahu marqadahu) dalam beberapa bulan Ramadhan, dalam keadaan lemah dan lanjut usia, ia biasa membaca dan memperdengarkan satu seperempat juz Al-Qur’an dalam shalat nafil setelah Maghrib. Kemudian selama setengah jam ia makan dan menunaikan beberapa keperluan. Biasanya ia shalat Tarawih dan Isya kurang Iebih dua atau dua seperempat jam ketika di India, dan tiga jam ketika tinggal di Madinah. Lalu ia tidur selama dua atau tiga jam, sesuai dengan musimnya. Setelah itu ia membaca Al-Qur’an di dalam Tahajjud. Setengah jam sebelum shalat Shubuh, ia akan makan sahur, kemudian sibuk membaca hafalan Al-Qur’an atau wirid hingga Shubuh. Setelah shalat Shubuh dilanjutkan dengan muraqabah sampai Isyraq. Setelah itu, ia beristirahat lebih kurang satu jam, lalu sibuk menulis Badzlul-Majhud dalam bahasa Arab (sebuah kitab syarah hadits Abu Dawud) sampai tengah hari. Setelah itu ia membaca surat-surat dan mendiktekan balasannya (jika musim panas) hingga pukul 13.00. Kemudian Ia beristirahat kembali hingga tiba shalat Zhuhur dan membaca Al-Qur’an dan Zhuhur sampai Ashar. Dan dari Ashar sampai Maghrib, ia sibuk bertasbih dan berbincang-bincang dengan tamu-tamunya.

Ketika penulisan Badzlul-Majhud selesai, ia mengisi waktunya dengan menelaah kitab-kitab agama dan membaca Al-Qur’an. Ketika itu ia sangat berkonsentrasi terhadap Badzlul-Majhud dan Wafaul- Wafa. Demikianlah kegiatan tetap kesehariannya pada bulan Ramadhan tanpa ada perubahan. Dan shalat-shalat sunnah tersebut adalah amal harian yang biasa ia kerjakan, namun pada bulan Ramadhan rakaatnya lebih diperpanjang.

Para masyaikh lainnya juga sangat memperhatikan bulan Ramadhan, bahkan lebih hebat lagi, sehingga kita sulit meneladaninya. Syaikhul-Hindi (Syaikh Mahmudul-Hasan rah.a.) biasa mengenjakan shalat nafil setelah shalat Tarawih hingga fajar dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beberapa orang hafidz secara bergantian. Syaikh Abdurrahim Raipuri sibuk membaca Al-Qur’an siang dan malam selama bulan Ramadhan, sehingga ia tidak sempat melakukan surat menyurat atau menerima tamu. Para khadim dekatnya saja yang diizinkan sejenak menemuinya, yaitu setelah shalat Tarawih pada waktu minum satu dua cangkir teh.

Maksud saya menceritakan amalan para masyaikh dalam menghabiskan bulan Ramadhan ini bukan sekadar untuk bahan bacaan atau menyebarkan pemikiran, tetapi bertujuan untuk mendorong kita agar mengikuti mereka sesuai kemampuan yang ada. Betapa beruntung orang yang tidak bergantung pada kesibukan dunia dan berusaha memperbaiki kehidupannya dalam bulan ini, setelah melewati sebelas bulan lainnya dengan sia-sia.

Bagi orang yang biasa bekerja dan jam 08.00 hingga 16.00, tentu tidak memberatkan jika pada bulan Ramadhan dari Shubuh sampai jam kerja waktunya digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Meskipun sibuk dengan urusan dunia, kita tetap memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an, bahkan pada jam kerja sekalipun. Bagi yang sibuk di pertanian yang tidak bekerja atas perintah orang lain, jelas tidak ada penghalang untuk membaca membaca Al Qur’an ketika bekerja di sawah. Ia bebas menggunakan waktu kerjanya. Sambil duduk-duduk, ia dapat membaca Al-Qur’an. Demikian pula dengan pedagang; pada bulan Ramadhan, setidaknya mereka dapat mempersingkat jam kerjanya atau paling tidak menunggu dagangannya sambil membaca Al-Qur’an. Bagaimanapun, ada hubungan yang erat antara Ramadhan dengan Al-Quran.

Oleh sebab itu, hampir semua Kitabullah diturunkan pada bulan ini. Begitu pula Al-Qur’an telah diturunkan dari Lauhul-Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan. Lalu diturunkan berangsur-angsur menurut kejadiannya dalam masa kurang lebih 23 tahun. Selain itu, Ibrahim a.s. telah menerima shuhufnya (kitab suci) pada tanggal 1 atau 3 Ramadhan. Dawud a.s. menerima Zabur pada tanggal 18 atau 12 Ramadhan. Musa as. menerima Taurat pada hari ke-6, Isa a.s. menerima Injil pada hari ke-13. Dari sini dapat diketahui adanya hubungan yang erat antara kitab Allah dengan Ramadhan. Oleh karena itu, hendaknya kita membaca Al-Qur’an sebanyak mungkin pada bulan ini. Demikianlah kebiasaa waliyullah. Jibril a.s. pun membacakan seluruh Al-Qur’an kepada Muhammad saw. pada bulan Ramadhan. Riwayat lain menyatakan Nabi saw. yang membaca dan Jibril a.s. mendengarkannya.

Dengan menggabungkan riwayat-riwayat tersebut, para ulama menyatakan bahwa mustahab (sangat dianjurkan) membaca Al dengan cara seperti itu (seorang membaca, yang lain mendengarkan secara bergantian). Bacalah Al-Qur’an kapan saja ada kesempatan, dan waktu yang lain jangan disia-siakan.

(Kitab "Fadhillah Amal" Fadhillah Ramadhan yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandalawi RA)

Jumat, 29 Juli 2011

Andai ini Ramadhan terakhir

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu. ..kepada- NYA Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih.. .berqiamullail. ..bertahajjud. ..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong redha Ar-Rahman

Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia ...meminta belas-NYA


wahai tuhan ku tak layak kesyurgamu ... namun tak pula aku sanggup ke Nerakamu ...
kami lah hamba yang mengharap belas darimu
"ya allah jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa..
ampunkan dosa2 kami kedua ibubapa kami, dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia" Amin.....

"Andai benar ini Ramadhan terakhir buat saya
MAAFKAN SEMUA KESALAHAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN"




Sumber : http://mmczone.multiply.com/