Kamis, 04 Juni 2015

Sejarah Wahabi

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 4:115).

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam.  Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.
Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan).

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.
=====================================================================
Demikianlah sejarah wahabi yang bersumber dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005 M. Sejarah diatas merujuk kepada kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain.

Ketika sebuah kelompok ditentang olah satu atau dua ulama, kita masih bisa mengatakan bahwa mungkin ulama tersebut sentiment atau iri kepada kelompok yg ditentangnya, namun jika ratusan ulama menentang sebuah kelompok maka ini menjadi tanda bahwa ada yang salah dari kelompok tersebut. Ratusan ulama dari berbagai masa dan mazhab menentang Muhammad bin Abdul Wahab (pelopor gerakan wahabi) dan ajarannya, termasuk  yang menentang beliau yaitu bapak dan saudara kandungnya sendiri. Mengenai penolakan ratusan ulama tersebut silahkan lihat disini — > https://www.facebook.com/notes/aqidah-ahlussunnah-allah-ada-tanpa-tempat/para-ulama-telah-membantah-muhammad-ibn-abd-al-wahhab-perintis-gerakan-wahhabi/112485828768335

Perlu diketahui bahwa untuk menutupi sejarah hitam mereka, wahabi memalsukan kitab Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain karya ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi yaitu al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki. Beliau berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).
“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin SEBAGAIMANA YANG TERJADI DEWASA INI PADA GOLONGAN MEREKA, YAITU KELOMPOK DI NEGERI HIJAZ YANG DISEBUT DENGAN ALIRAN WAHHABIYAH, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Silahkan lihat bukti kecurangan wahabi menghilangkan perkataan al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki diatas  —-> http://www.facebook.com/note.php?note_id=153873444629573
Keterangan al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki diatas senada dengan apa yang dikatakan oleh ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin. Beliau berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِ وَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, KAUM KHAWARIJ PADA MASA KITA. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Perubahan kitab oleh wahabi bukan hanya terhadap kitab karya al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki diatas, namun terjadi juga terhadap puluhan kitab ulama lainnya, silahkan lihat disini . Terhadap fenomena ini Syaikh Idahram telah menulis sebuah buku yang berjudul “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik” , dan sampai saat ini wahabi tidak mampu membantah buku ini, justru menuduh penulisnya sebagai syiah dan menyebut buku syaikh idahram sebagai buku fitnah.

Jika memang buku Syaikh idahram adalah fitnah tentulah mereka akan mampu membantahnya dengan mengeluarkan buku bantahan, bahkan  harusnya mereka hadir dalam Halaqah Nasional Kyai Pondok Pesantren Ahlussunnah Wal Jama’ah I di Ponpes Al-Qur’an Al Falah Bandung Jawa Barat, 30 Muharram - 01 Shafar 1434 H/14-15 Desember 2012 silam yang salah satu temanya membahas perubahan kitab ulama klasik, faktanya mereka tidak hadir pada acara tersebut.

Bukan hanya dengan merubah kitab wahabi ingin menyembunyikan sejarah hitam mereka, namun juga dengan menciptakan dongeng yang mengisahkan bahwa yang dimaksud wahabi adalah ajaran seorang yang bernama Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum.  Tentulah ini menjadi pertanyaan bagi kita, jika yang dimaksud wahabi adalah ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum  mengapa wahabi repot-repot merubah kitab Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain diatas?, untuk mengetahui dongeng wahabi tersebut sekaligus bantahannya silahkan baca “Dongeng Popular Wahhabiyah rustumiyyah”.

Saya akhiri tulisan ini dengan kisah Imam Ash-shon’aani al-Yamani yang menarik kembali pujian beliau kepada Muhammad bin Abdul wahhab setelah beliau mengetahui hakikat ajarannya.
Awalnya Imam Ash-shon’aani al-Yamani sempat memuji dakwah Muhammad bin Abdul wahhab, sehingga belaiu membuat syair pujian berikut :
سلام على نجد ومن حل في نجد : وإن كان تسليمي على البعد لا يجدي
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya.
Lama tak mendapat jawaban, hingga beberapa orang dari ulama Najd mendatangi beliau dan menceritakan hakekat ajaran Muhammad bin Abdul wahhab, maka beliau meruju’ / mencabut kembali pujiannya itu. Padahal qosidah beliau telah menyebar ke sluruh negri.
Akhirnya beliau mencabut pujianya itu dan membuat pujian tentang ruju’nya beliau dr pujian kpd Muhammad bin Abdul wahhab. Dan membuat syarahnya di dalam kitabnya “ Irsyadu Dzail albab ila haqiqati aqwal Ibn Abdil Wahhab “.

Qosdidah ruju’ beliau sangat terkenal di kalangan santri Yaman, di antra bait ruju’ beliau adalah :
رجعت عن القول الذي قلت في النجدي :::::: فقد صح لي فيه خلاف الذي عندي
ظننت به خيرا وقلت عسى عسى ::::::::: نجد ناصحا يهدي الأنام ويستهدي
فقد خاب فيه الظن لا خاب نصحنا ::::::::: وما كل ظن للحقائق لي مهدي
وقد جاءنا من أرضه الشيخ مربد :::::::::: فحقق من أحواله كل ما يبدي
وقد جاء من تأليفه برسائل :::::::::::::: يكفر أهل الأرض فيها على عمد
ولفق في تكفيرهم كل حجة :::::::::::::: تراها كبيت العنكبوت لمن يهدي
تجارى على إجرا دما كل مسلم ::::::::::::: مصل مزك لا يحول عن العهد
وقد جاءنا عن ربنا في ( براءة ) ::::::::::::: براءتهم عن كل كفر وعن جحد
وإخواننا سماهم الله فاستمع :::::::::::::: لقول الإله الواحد الصمد الفرد
وقد قال خير المرسلين نهيت عن ::::::::::::: فما باله لا ينتهي الرجل النجدي
وقال لهم : لا ما أقاموا الصلاة في ::::::::::::: أناس أتوا كل القبائح عن قصد
أبن لي ، أبن لي لم سفكت دماءهم ؟ :::::::: ولم ذا نهبت المال قصدا على عمد ؟
وقد عصموا هذا وهذا بقول لا :::::::::::::: إله سوى الله المهيمن ذي المجد

“ Aku menarik kembali pujianku terhadap Muhammad bin Abdul wahhab An-Najdi
Sungguh telah benar kekliruan pujiannku terhdapnya.
Aku mnyangkka baik padanya, dan aku berdoa semoga, semoga Najd kita member petunjuk pada manusia.
Tapi persangkaanku salah, bukan nasehatku yg salah. Telah dating kepadaku dari Najd syaikh Marbad.
Dan mnjlskan hakekat ajaran muhammad An-Najdi.
Di dalm kitab-kitabnya ia telah banyak emgkafirkan penduduk bumi dengan sengaja.
Dan seterusnya……

Sabtu, 06 Desember 2014

Jangan Serahkan Kepemimpinan Kita Kepada Orang-orang Non-Muslim!


 Kemajuan negara dan kemakmuran rakyat memang tidak ditentukan oleh faktor agama pemimpinnya. Negara akan tetap maju dan rakyat akan tetap makmur bila pemimpinnya adil meskipun pemimpin tersebut bukan seorang Muslim. Begitu pula, negara akan hancur dan rakyat akan sengsara jika pemimpinnya zalim, meskipun dia seorang Muslim. Raja Najasyi, raja Abbesinia yang akhirnya memeluk Islam pada masa Rasulullah , menyatakan:

المُلْكُ يَبْقَى مَعَ الكُفْرِ وَلاَ يَبْقَى مَعَ الظُّلْمِ
Negara bisa berjalan bersama dengan kekafiran, tapi tidak bisa berjalan bersama dengan kezaliman. 

 
Meskipun demikian, Islam tetap melarang umatnya mengangkat pemimpin dari kalangan non Muslim. Sebab, ajaran Islam tidak hanya berbicara mengenai kemakmuran dan kesejahteraan. Ada yang lebih inti dari kemakmuran dan kesejahteraan, yaitu tegaknya kebenaran dan tercapainya keselamatan akhirat. 

Adanya pemimpin dari kalangan non Muslim sangat mengganggu bagi misi penegakan kebenaran. Sebab, agama dan pandangan hidup seorang pemimpin sangat mudah menjalar kepada rakyatnya. Ketika Dinasti Umayah berkuasa di ujung Abad Pertama Hijriah dengan beranekaragam kecenderungan penguasanya, di Arab lahir sebuah pepatah yang sangat masyhur:

النَّاسُ عَلَى دِيْنِ مُلُوْكِهِمْ
Masyarakat sangat bergantung kepada agama (kecenderungan) para penguasanya.
 
Itulah salah satu alasan utama, kenapa hampir semua ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa umat Islam dilarang mengangkat (memilih) pemimpin dari kalangan non Muslim. Landasan dasar para ulama tersebut rata-rata merujuk kepada QS Ali Imran ayat 28 tentang larangan Allah menjadikan orang-orang kafir sebagai auliyâ’ (pemimpin, kekasih, orang dekat dan semacamnya).

Syekh Syatha al-Bakri ad-Dimyathi (ulama mazhab Syafii) menyatakan, “Sultan (penguasa) disyaratkan harus Muslim. Sedangkan orang kafir tidak sah menjadi penguasa, dan tidak sah kepemimpinannya.” (lihat I‘ânatuth-Thâlibîn: IV/246)

Imam Ibnu Jamaah, salah satu pemuka mazhab Syafii, menyatakan, “Tidak diperbolehkan mengangkat seorang dzimmi (non Muslim) untuk menjadi pejabat yang mengurus kaum Muslimin, kecuali sebagai petugas pengumpul pajak dari sesama kafir dzimmi atau pengumpul pajak dari perdagangan yang dilakukan oleh non Muslim.” (Tahrîrul-Ahkâm: 147).
 

Imam Ibnu al-Arabi, pemuka ulama mazhab Maliki, menyatakan bahwa Sayidina Umar bin al-Khatthab melarang Abu Musa al-Asy’ari mengangkat pejabat dari kafir dzimmi. Umar memerintahkan agar Abu Musa memecat pejabat yang dia angkat dari kalangan kafir dzimmi di Yaman. Hal senada dinyatakan oleh Abu Bakar al-Jasshash, pakar fikih dan usul fikih mazhab Hanafi. Beliau menyatakan, bahwa tidak ada wilâyah (kekuasaan) bagi orang kafir untuk orang Islam. (Rawâ’i‘ul-Bayân: I/403).

Syekh asy-Syanqithi (ulama mazhab Hanbali) menyatakan, “Hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah menunjukkan bahwa beliau tidak pernah menyerahkan satu urusan kaum Muslimin kepada orang kafir, sama sekali. Beliau mematuhi ajaran Allah untuk menjaga kaum Muslimin dari penguasaan orang kafir. (Syarh Zâdul-Mustaqni‘: III/268).

Intinya, ajaran Islam sangat tegas melarang pemeluknya untuk memilih pemimpin dari kalangan non Muslim. Sayangnya, kita kalah opini, sehingga dalam kasus Pilgub DKI Jakarta misalnya, tokoh-tokoh Muslim justru ‘mengutuk’ orang Islam yang bersuara lantang untuk tidak memilih pemimpin dari kalangan non Muslim. Mereka menganggap hal tersebut sebagai fanatisme golongan. Padahal, semua fanatisme itu tercela, kecuali fanatisme kita terhadap kebenaran. Dan, kebenaran tertinggi itu ada pada agama!
 


Dikutip dari Topik Utama Buletin SIDOGIRI, Edisi 95, Dzul Qa'dah 1435 H


Sumber :  Buletin Sidogiri

Sabtu, 05 April 2014

Nasehat untuk Istri

Wanita sebagai istri, memiliki pintu di rumahnya. Pintu itu bisa mengantarkan dia ke surga atau melemparkannya menuju ke neraka. Pintu itu hanya satu, SUAMI. Istri yang taat kepada suaminya, kelak memiliki kedudukan seperti lelaki yang mati syahid dalam peperangan di jalan Allah.

Setiap istri melayani suaminya, maka perbuatannya akan meninggikan derajatnya di sisi Allah.  Amal ibadah yang paling utama bagi seorang istri adalah melayani suami dan anak2nya.  Lebih utama dari ibadah sunnah apa pun.  Sebab itu merugi sekali wanita yang sibuk dengan zikir, tetapi suaminya terlantar tak dipikir.
 

Sibuk dengan al-Quran tapi suaminya tak pernah disediakan makan.
Sibuk dengan majelis maulud, tapi dengan suaminya selalu perang mulut.
Mendebat, bicara kasar, menyakitinya, memandangnya dengan pandangan rendah, meninggikan suara .....
Laa haula wa laa quwwata illa billaaaah
 

Wahai para istri .....
Tiada guna shalatmu
Tiada guna majelis yang kau hadiri
Tiada guna puasamu
Tiada guna zikirmu
Tiada guna hajimu
Tiada guna bacaan al-Quranmu
Tiada guna sedekahmu
Sebelum kau meminta maaf kepada suamimu
 

Jangan sakiti dia.  Walaupun terkadang dia memiliki kelemahan di sana-sini. Nabi telah menjelaskan, wanita yang menjadikan wajah suaminya berubah, maka tak akan diterima shalatnya walau sejengkal.
 

Dalam riwayat, wanita yang tak mau melayani suaminya di malam hari, dilaknat malaikat hingga pagi hari.  Selagi ada kesempatan, rubahlah sikap menjadi baik.  Selagi ada kesempatan minta maaf
 

Jadilah istri yang baik.  Tak perlu banyak ibadah selain itu.  Jika memang yg kau tuju surga.  Itulah jalannya
 

Carilah ridha suamimu.  Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari perbuatan yang bisa mendatangkan murka-Nya. Baik yang kita sadari atau tidak kita sadari.





By Habib Husin Nabil

Selasa, 18 Februari 2014

Bacaan untuk Ibu Hamil

Kepada anda yang mendapatkan kabar gembira karena istri sedang hamil. Ini kami ijazahkan doa kepada anda.

Dibaca oleh suami.

1. الفَاتحة الى حضرة النبي المصطفى محمد صلى الله عليه وسلم وعلى اله واصحابه والتابعين وتابع التابعين لهم باحسان الى يوم الدين والى من اجازني هذه الورد الفاتحة ............
2. الفاتحة الي هذا الحمل الفاتحة ............
3. صلوات × 100
4. رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارْ × 3 (بلا تنفس)

يقرأ كل ليلة الجمعة عند زوجة الحاملة ويوضع مصبحت الزوج (القارئ) في سرة الزوجة
(اجازنا حضرة الشيخ كياهي أنوار منصور الحاج)

1. 
alfaatihah ilaa hadlrotin nabiyyil mushthofaa muhammadin shollallohu 'alaihi wasallam  wa 'ala aalihi wa ashhaabihi wat taabi'iina wa taabi'it taabi'iina lahum bi ihsanin ilaa yaumid diin wa ilaa man ajaazanii haadzihil al faatihah....

    al-Fatihah ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta segenap  keluarganya dan segenap sahabat serta para tabi’in dan para pengikut tabi’in juga kepada orang-orang yang mengijazahkan doa berikut ini, al-Fatihah….

2. 
al faatihah ilaa haadzal hamli. al faatihah

    al-Faatihah ditujukan kepada kandungan ini, al-Faatihah

3. Baca sholawat 100 x (terserah sholawat apa saja)

4. Rabbanaa maa kholaqta haadza baathilaa sub-haanaka faqinaa ‘adzaabannaar……. 3 x 

    tanpa nafas

Dibaca setiap malam jum’at dengan cara menaruh jari telunjuk suami di pusar istri. Semoga bermanfaat.

Saya dapatkan ijiazah doa ini dari Hadratus Syekh KH. Anwar Manshur Lirboyo




From : Nur Hasyim S. Anam
 
Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)
 

Kamis, 03 Mei 2012

Keharmonisan Hubungan Antara Sahabat Dan Ahlul Bait Nabi

Syubhat 

Dalam Syiah, Sahabat dan Ahlul Bait Nabi digambarkan sebagai dua pihak yang saling memusuhi. Sahabat Nabi digambarkan sebagai penindas hak-hak Ahlul Bait, mereka selalu berbuat  dzalim pada Ahlul Bait, merampas hak kekhalifahan, merampas harta waris, bahkan berusaha membakar Rumah Keluarga Nabi. Sedangkan Ahlul Bait hanya bisa bertaqiyah (menyembunyikan kebencian mereka) sambil sesekali memprotes walau tidak ditanggapi. Benarkah demikian hubungan antara mereka ?

Kami Menjawab

Setiap orang bebas untuk berpendapat dan mereka-reka sejarah, tetapi kenyataan yang akan menilai apakah pendapat itu benar atau salah. Fakta yang tertera dalam literatur-literatur sejarah menunjukkan hubungan yang sangat harmonis antara Sahabat dan Ahlul Bait, sesekali memang terdapat perselisihan, dan itu adalah hal yang wajar, sebab persahabatan yang paling akrab sekalipun pasti sesekali diwarnai bumbu perselisihan. Tetapi secara garis besar hubungan mereka sangat akrab, harmonis dan saling memberi. Mereka saling memberi nama putra-putri mereka, dan saling menikahkan keturunan–keturunan mereka. Marilah kita lihat fakta berbicara.

Masalah Nama

Dalam Islam Nama merupakan hal yang urgen, Nama mengandung doa, harapan, dan wujud kecintaan orang tua atas anaknya. Seorang muslim yang baik akan menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang paling baik, dan tidak mungkin merelakan anaknya untuk memiliki nama yang sama dengan nama musuh-musuh Islam.

Jika kita melihat nama-nama keturunan Ahlul Bait, jangan heran jika disitu terdapat nama-nama sahabat yang “konon” adalah musuh-musuh islam menurut Syiah. Sebab sebenarnya tidak ada permusuhan antara para Ahlul Bait dan sahabat Nabi.

Mari kita perhatikan sejenak sebagian nama-nama keturunan Ahlul Bait Nabi

Ahlul Bait yang bernama Abu Bakar :

Abu Bakar Bin Ali Bin Abi Thalib (1)
Abu Bakar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib(2)
Abu Bakar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(3)
Abu Bakar Bin Abdullah Bin ja`far Bin Abu Thalib(4)
Abu Bakar juga adalah salah satu Nama Kunyah (Panggilan), Ali Bin Musa Al Kadzim(5)

Ahlul Bait yang bernama Umar :

Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib (6)
Umar Bin Muhammad bin Umar Al Athraf Bin Ali Bin Abi Thalib(7)
Umar Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (8)
Umar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib  (9)
Umar Bin Ali Ashghor bin Umar Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (10)
Umar Bin Hasan Al Aqthos Bin Ali Ashghor Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (11)
Umar Bin Husain Bin Zaid Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib
Umar Bin Yahya Bin Husain Bin Zaid Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(12)
Umar Bin Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq

Ahlul Bait Yang bernama Utsman :

Utsman Bin Ali Bin Abi Thalib (13)
Utsman Bin Aqil Bin Abi Thalib (14)

Ahlul Bait yang bernama Aisyah :

Aisyah Binti Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq (15)
Aisyah Binti Ja`far Bin Musa Al Kadzim Bin Ja`far Ashadiq (16)
Aisyah Binti Ali Ridha Bin Musa AL Kadzim (17)
Aisyah Binti Ali Al Hadi Bin Muhammad Al Jawad Bin Ali Ridha (18)

Ahlul Bait yang bernama Thalhah

Thalhah Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. (19)

Penamaan keturunan Ahlul Bait dengan Nama-nama ini tentu bukan tanpa dasar dan tanpa makna. Tetapi Ini Adalah Bukti keharmonisan yang terjadi antara Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi. Telah biasa seorang menamakan keturunannya dengan tokoh yang mereka kagumi atau cintai. Jika Ahlul Bait memusuhi Para sahabat tidak mungkin mereka menamai anak-anak mereka dengan nama musuh-musuhnya sebagaimana kita lihat kaum Syiah sekarang yang sangat jarang menamai putra-putrinya dengan nama sahabat di atas.
Mungkin sebagian kaum Syiah akan berusaha menyangkal hal ini dan berkata, Nama Abu, Bakar, Utsman dan Umar adalah nama umum, jadi tidak bisa langsung direpresentasikan sebagai Abu Bakar Ashidiq, Umar Bin khatab atau Utsman Bin Affan.

Untuk menjawab hal ini perhatikanlah kisah berikut :

أبي سعيد قال مررت بغلام له ذؤابة وجمة إلى جنب علي بن أبي طالب فقلت ما هذا الصبي إلى جانبك قال هذا عثمان بن علي سميته بعثمان بن عفان وقد سميته بعمر بن الخطاب وسميت بعباس عم النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وسميت بخير البرية محمد ( صلى الله عليه وسلم ) فأما حسن وحسين ومحسن فإنما سماهم رسول الله
Dari Abu Said, beliau berkata “ Aku melewati seorang anak kecil yang rambutnya diikat sampai pundak berada di samping Ali bin Abi Thalib, Aku bertanya, “Siapa anak yang ada di sampingmu ?”, Dia (Ali bin Abi Thalib) menjawab, “ Ini adalah Utsman, aku menamainya (sama) dengan nama Utsman bin Affan, dan aku juga menamai (anak yang lain) dengan Umar bin Khathab, aku menamai (anak yang lain) dengan Abbas paman Nabi saw, dan Aku juga menamai (anak yang lain)  dengan nama makhluk terbaik Muhammad saw..” (20)

Jika Hal ini masih belum cukup untuk meyakinkan kita mengenai cinta-kasih yang ada di antara mereka, ada bukti lain yang sangat jelas dan tak dapat lagi dibantah, yaitu hubungan pernikahan antara Ahlul Bait dan keturunan para Sahabat.

Sekarang marilah kita simak hubungan perbesanan antara Rasulullah, ahlul baitnya dan para sahabat :

Pernikahan Rasulullah

Rasulullah menikahi Aisyah putri Abu Bakar, dan juga Hafshah Putri Umar(21). Keduanya termasuk putri-putri yang mulia. Sebagian kaum syiah sering menuduh yang bukan-bukan kepada keduanya tetapi, cukuplah ayat ini sebagai bukti kekeliruan mereka  :

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ [النور: 3[
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin (QS An Nur : 3)
Jadi, Menuduh yang tidak-tidak pada salah satu dari keduanya sama dengan tuduhan serius kepada kesucian Rasulullah.

Sebagian ulama syiah mempertanyakan nasab Umar dengan berita-berita yang tidak dapat bertanggung jawab, mereka tidak sadar, bahwa tuduhan ini sama dengan menuduh Rasulullah menikah dengan wanita yang keturunannya tidak jelas.

Ada pula yang menyamakan Aisyah dan Hafshah dengan istri Nabi luth yang kafir, tetapi mereka lupa bahwa Allah telah berfirman pada Nabi Muhammad :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ يَتَذَكَّرُونَ [البقرة : 221[

 “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu (Al Baqarah : 221)
Apakah Rasulullah melanggar perintah Allah dengan menikahi keduanya ?

Pernikahan Putri-Putri Rasulullah 

Rasulullah menikahkan dua putrinya Ruqoyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan(22), sehingga Utsman diberi julukan Dzu Nur`aini (pemilik dua cahaya). Dan Rasulullah menikahkan FatimahAli bin Abi Thalib(23). kepada

Mereka yang menuduh Utsman atau Ali sebagai seorang fasiq pada dasarnya menuduh Rasulullah memutus tali silaturahmi dengan putri-putrinya. Menikahkan putri dengan orang fasiq bukanlah sikap yang patut bagi seorang lelaki muslim biasa apalagi bagi seorang panutan kaum muslimin.

Pernikahan yang dilakukan Rasulullah dan putri-putrinya merupakan bukti eratnya hubungan cinta dan kekerabatan antara Rasulullah dan sahabatnya khususnya Khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar , Utsman dan Ali.

Hubungan baik itu tidak terputus sampai disini, banyak dari keturunan mereka yang mengikuti jejak leluhurnya melalui hubungan pernikahan antara anak cucu mereka.
Berikut sebagian dari hubungan pernikahan antara Ahlul Bait dan keturunan sahabat yang tercatat dalam sejarah :

Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Abu Bakar dan Keturunannya
  1. Aisyah putri Abu Bakar menikah dengan Rasulullah SAW
  2. Hafshah putri Abdurrahman Bin Abu Bakar Menikah dengan Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (24)
  3. Ummu Hakim Putri Al Qasim Bin Muhammad Bin Abu Bakar menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib (25)
  4. Ummu Farwah menikah dengan Muhammad Al Baqir Bin Ali bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (26)
  5. Ummu Salamah putri Muhammad Bin Thalhah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar menikah dengan Musa Bin Abdullah Bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (27)
  6. Kaltsam putri Ismail Bin Abdurrahman Bin Al Qasim Bin Muhammad Bin Abi Bakar menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(28)
Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Umar dan Keturunannya
  1. Hafshah putri Umar Bin Khathab menikah dengan Rasulullah saw
  2. Ummu Kultsum putri Ali menikah dengan Umar Bin Khathab(29)
Pernikahan antara Ummu Kultsum dan Umar, membuktikan hubungan yang baik antara Ali dan Umar. Adalah tidak mungkin Ali memberikan putri Fatimah kepada musuh Allah, tentu Beliau akan memberikannya kepada orang shaleh dari keturunan baik-baik. Sebab putri merupakan amanah Allah dan memberikannya kepada orang fasik sama dengan memutus tali silaturahmi dengan putrinya.

Sebagian orang syiah karena tidak rela dengan kejadian ini, mengemukakan alasan yang menggelikan. Mereka mengatakan Ummi Kultsum yang diberikan kepada Umar adalah Syaithan yang menyamar, tak perlu kita dengarkan alasan mereka yang kehabisan hujjah sehingga melontarkan tuduhan menggelikan ini.
Ada juga yang berkata bahwa itu bentuk taqiyah, lalu kemanakah keberanian Ali yang terkenal itu, bagaimana mungkin dia merelakan putrinya dinikahi seorang fasik hanya untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya.
  1. Juwairiyah putri Khalid Bin Abu bakar Bin Abdullah Bin Umar menikah dengan Hasan bin Ali bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (30)
  2. Ummu Hakim Putri Muhammad Bin `Ashim Bin Umar Bin Khathab menikah dengan Yahya Bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (31)
  3. Aminah putri Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Abdullah bin Umar Bin Khathab menikah dengan Abdullah Bin Muhammad Bin Ali Bin Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib(32)
Hubungan Pernikahan Antara Ahlul Bait Dengan Sahabat Utsman dan Keturunannya
  1. Utsman Menikah dengan Ruqoyah dan Ummu Kultsum kedua putri Nabi
  2. Abban Bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum putri Abdullah Bin Ja`far Bin Abi Thalib(33)
  3. Marwan Bin Abban Bin Utsman menikah dengan Ummu Qosim putri Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib (34)
  4. Zaid Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Sukainah Putri Husain Ali Bin Abi Thalib (35)
  5. Abdullah Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Fatimah putri Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (36)
  6. Ruqoyyah putri Muhammad Bin Abdullah Bin Amr Bin Utsman menikah dengan Ibrohim Bin Abdullah Bin Hasan Bin Hasan bin Ali Bin Abi Thalib(37)
  7. Aisyah putri Umar Bin `Ashim Bin Umar Bin Utsman menikah dengan Ishaq Bin Abdullah Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(38)
Sebagian Pernikahan Antara Ahlul Bait Dan keturunan Sahabat Zubair Bin Awwam
  1. Abdullah bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Ummu Hasan Putri Hasan Bin Ali Bin Abu Thalib (39)
  2. Amr Bin Zubair Bin Awwam Menikah dengan Ruqoyah putri Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib
  3. Ummu Khalid putri Hamzah Bin Mus`ab Bin Zubair Menikah dengan Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (40)
  4. Mush`ab Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Sukainah putri Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (41)
  5. Ubaidah Putri Zubair Bin Hisyam Bin Urwah Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Musa Bin Umar Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (42)
  6. Ummu Amr Putri Amr Bin Zubair bin Amr Bin Amr Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Abdullah bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin ABi Thalib (43)
  7. Fatimah Putri Urwah Bin Hisyam Bin Urwah Bin Zubair menikah dengan Ja`far Bin Umar Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (44)
  8. Barikah Putri Ubaidillah Bin Muhammad Bin Mundzir Bin Zubair Bin Awwam menikah dengan Ibrahim bin Husain Bin Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (45)
Sebagian Pernikahan Antara Ahlul Bait Dan keturunan Sahabat Thahlhah Bin Ubaidillah
  1. Ummu Ishaq Putri Thalhah bin Ubaidillah menikah dengan Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib, kemudian setelah Hasan wafat menikah dengan Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (46)
  2. Nuh Bin Ibrahim Bin Muhammad bin Thalhah Bin Ubaidillah menikah dengan Abidah putri Ali Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib(47)
Demikianlah sebagian dari hubungan pernikahan yang terjadi di antara Ahlul Bait dan keturunan sahabat, dalam Al Qur`an Allah SWT berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang". ( QS Ar Rum : 21).

Tujuan pernikahan adalah untuk memupuk kasih sayang, Rasulullah telah mencontohkan hal itu dengan menikahi putri sebagian dari sahabat-sahabat yang dicintainya dan menikahkan putrinya kepada sahabat yang beliau cintai. Dan Para Ahlul Bait mengikuti jejak Rasulullah dengan menikahkan putra-putrinya kepada keturunan orang-orang yang mereka cintai.

Tidaklah mungkin mereka menikahkan putra-putri mereka tanpa alasan yang jelas, atau mengorbankan putra-putri mereka dengan alasan taqiyah, itu hanya khayalan orang yang tak dapat menerima kenyataan sejarah dengan mata terbuka dan berusaha untuk mereka-rekanya. Perhatikanlah bagaimana Al Imam Ja`far As Shadiq menunjukkan dengan tegas siapa kakeknya, beliau berkata  :

ولدني أبو بكر الصديق مرتين
Aku dilahirkan Abu Bakar dua kali

Hal ini karena ibu beliau bernama Ummu Farwah putri Qosim Bin Muhammad Bin Abu Bakar dan ibu dari ibu beliau bernama Asma` putri Abdurrahman Bin Abu Bakar. (48)
Setelah melihat semua fakta ini, masihkah kita menganggap ada permusuhan di antara mereka ?



Referensi 

 (1)مقاتل الطالبيين (ص: 23، بترقيم الشاملة آليا) 
أبو بكر بن علي بن أبي طالب لم يعرف اسمه؛ وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم، وأم ليلى بنت مسعود عميرة بنت قيس بن عاصم بن سنان بن خالد بن منقر سيد أهل الوبر بن عبيد بن الحارث، وهو مقاعس؛ وأمها عناق بنت عصام بن سنان بن خالد بين منقر؛ وأمها بنت أعبد بن أسعد بن منقر، وأمها بنت سفيان بن خالد بن عبيد بن مقاعس بن عمرو بن كعب بن سعد، بن زيد مناة بن تميم.
 (2)مقاتل الطالبيين (ص: 23، بترقيم الشاملة آليا)
أبو بكر بن الحسن بن علي بن أبي طالب وأمه أم ولد، ولا تعرف أمه. ذكر المدائني في إسنادنا عنه، عن أبي مخنف، عن سليمان بن أبي راشد أن عبد الله بن عقبة الغنوي قتله. وفي حديث عمرو بن شمر عن جابر عن أبي جعفر: أن عقبة الغنوي قتله.
 (3)التنبيه والإشراف - المسعودي - الصفحة ٢٦٣
وقتل معه من ولد أبيه ستة وهم العباس وجعفر وعثمان ومحمد الأصغر وعبد الله وأبو بكر ومن ولده ثلاثة على الأكبر وعبد الله صبي وأبو بكر بنو الحسين بن علي، ومن ولد الحسن بن علي عبد الله  والقاسم، ومن ولد عبد الله بن جعفر بن أبي طالب عون ومحمد ومن ولد عقيل بن طالب خمسة مسلم وجعفر وعبد الرحمن وعبد الله بنو عقيل ومحمد بن أبي سعيد بن عقيل.
 (4)أنساب الأشراف (1/  271(
حدثني محمد زياد الأعرابي قال: ولد عبد الله بن جعفر: محمداً وبه كان يكنى، وأمه محشية من بني أسد. وعلياً، وعون الأكبر، وجعفر الأصغر، وعباساً، وأم كلثوم؛ أمهم زينب بنت علي بن أبي طالب، وأمها فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم. ومحمداً، وعبيد الله، وأبا بكر، قتل مع الحسين عليهم السلام، وأمهم الخوصاء من ربيعة، .....
 (5)مقاتل الطالبيين (ص: 146(
قال أبو الفرج: حدثني الحسن بن علي الخفاف، قال: حدثنا عيسى بن مهران، قال: حدثنا أبو الصلت الهروي، قال: سألني المأمون يوماً عن مسألة فقلت: قال فيها أبو بكر كذا وكذا. فقال: من هو أبو بكر؟ أبو بكرنا أو أبو بكر العامة. قلت: أبو بكرنا. قال عيسى: قلت لأبي الصلت: من أبو بكركم؟ فقال: علي بن موسى الرضا، كان يكنى بها، وأمه أم ولد.
 (6)الشجرة المباركة في الأنساب الطالبية (ص: 1(
بسم الله الرحمن الرحيم هذا مختصر في علم الأنساب المعقبون من أولاد أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ( خمسة: الحسن، والحسينمحمد وأمه خولة بنت قيس الحنفية، والعباس. المشهور بالسقاء وأمه أم البنين بنت حزام العامرية وعمر الأطرف وأمه الصهباء التغلبية. وأمهما فاطمة بنت رسول الله ، و
  (7)مقاتل الطالبيين (ص: 173)
أحمد بن الحسن وأحمد بن الحسن بن علي بن إبراهيم بن عمر بن محمد بن عمر بن علي بن أبي طالب.
 (8)تاريخ اليعقوبي - اليعقوبي - ج ٢ - الصفحة ٢٢٨
وكان للحسن من الولد ثمانية ذكور، وهم: الحسن بن الحسن، وأمه خولة بنت منظور الفزارية، وزيد بن الحسن، وأمه أم بشير بنت أبي مسعود الأنصاري الخزرجي، وعمر والقاسم وأبو بكر وعبد الرحمن لأمهات أولاد شتى، وطلحة وعبيد الله.
 (9)الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ١٥٥
باب ذكر أولاد علي بن الحسين عليهما السلام وولد علي بن الحسين عليهما السلام خمسة عشر ولدا: محمد المكنى أبا جعفر الباقر عليه السلام، أمه أم عبد الله بنت الحسن بن علي بن أبي طالب عليهم السلام. و عبد الله والحسن والحسين، أمهم أم ولد. وزيد وعمر، لأم ولد. والحسين الأصغر و عبد الرحمن وسليمان، لأم ولد. وعلي - وكان أصغر ولد علي بن الحسين - وخديجة، أمهما أم ولد. ومحمد الأصغر، أمه أم ولد. وفاطمة وعلية وأم كلثوم، أمهن أم ولد.
 (10)الفخري في أنساب الطالبيين (ص: 31)
من هذه الألقاب المنسوب إليها ما اشترك بين القبائل المشهورة وأنا أذكر هاهنا ستة من الاشهرين: منهم: الموسوية، هذه النسبة مشتركة بين بني الكاظم من الحسينيين، وبين موسى الثاني من الحسنيين.
والسيلقية الحسينيون، وهم ولد محمد السيلق ابن عبد الله بن الحسن الدكة ابن الحسين الأصغر. والحسنيون هم بنوا الحسن السيلق ابن علي بن محمد بن الحسين بن جعفر الخطيب. والشجرية من الحسينيين بنو محمد الأكبر بن عمر بن علي بن عمر الأشرف.
 (11)الفخري في أنساب الطالبيين (ص: 28)
بيت علي الأصغر بن علي زين العابدين عليه السلام وهم يعرفون بالافطسيين، منهم: بنو زبارة، وهو أبو جعفر أحمد بن محمد ابن عبد الله المفقود ابن الحسن بن الحسن الافطس. وبنو تزلج، وهو الحسين بن علي بن الحسن بن الحسن الافطس، وهو أبو عبد الله الأحول الشاعر. والخزريون، وهم بنو علي بن الحسن الافطس، وسبطه أبو جعفر محمد ابن علي بن علي الحوري يعرف بالخزري أيضا، واليه انتهى عقبه الصحيح. ومنهم بنو القصي، وهو أبو محمد الحسن بن زيد القصي ابن محمد بن علي ابن محمد الخزري. والسكران، وهو محمد بن عبد الله بن الحسين بن الحسن الافطس. بنو برطلة، وهو علي بن عمر بن الحسن الافطس، وهؤلاء مشاهير الحسينية الذين ينتسب أولادهم إليهم.
 (12)الشجرة المباركة في الأنساب الطالبية (ص: 36)
أما يحيى بن الحسين هذا، فله ابنان معقبان: عمر أبو علي الرئيس النقيب بالكوفة، وكان أمير الحاج. والحسن أبو محمد الفارس النقيب بالكوفة. أما عمر النقيب هذا فله من الأبناء المعقبين الذين لا خلاف فيهم ثمانية:
 (13) كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٢ - الصفحة ٦٧
ذكر أولاده الذكور والإناث عليه وعليهم السلام قال المفيد رحمه الله أولاد أمير المؤمنين عليه السلام سبعة وعشرون ولدا ذكرا وأنثى الحسن والحسين وزينب الكبرى وزينب الصغرى المكناة أم كلثوم أمهم فاطمة البتول سيدة نساء العالمين بنت سيد المرسلين محمد خاتم النبيين صلى الله عليه وآله وعليهم أجمعين ومحمد المكنى أبا القاسم أمه خولة بنت جعفر بن قيس الحنفية وعمر ورقية كانا توأمين وأمهما أم حبيبة بنت ربيعة والعباس وجعفر وعثمان وعبد الله الشهداء مع أخيهم الحسين صلوات الله عليه وعليهم السلام بطف كربلا أمهم أم البنين بنت حزام بن خالد بن دارم ومحمد الأصغر المكنى أبا بكر وعبيد الله الشهيدان مع أخيهما الحسين عليه السلام بالطف أمهما ليلى بنت مسعود الدارمية ويحيى وعون أمهما أسماء بنت عميس الخثعمية رضي الله عنها وأم الحسن ورملة أمهما أم مسعود بن عروة بن مسعود الثقفي ونفيسة وزينب الصغرى ورقية الصغرى وأم هاني وأم الكرام وجمانة المكناة بأم جعفر وأمامة وأم سلمة وميمونة وخديجة وفاطمة رحمة الله عليهن لأمهات أولاد شتى..
  (14)أنساب الأشراف (1/  272)
وأما عقيل بن أبي طالب ابن عبد المطلب فكان يكنى أبا يزيد - باسم ابن له - وكان من نساب قريش وعلمائها بها، وكان سريع الجواب لا يبالي من بده به. وأسر يوم بدر مع قريش، ففداه عمّه العباس بأربعة آلاف درهم. وكان إسلامه بعد الفتح. وولد عقيل: مسلماً، وعبد الله الأصغر، وعبيد الله وأم عبد الله ومحمداً، ورملة لأم ولد يقال لها: حُليّة. وعبد الرحمن، وحمزة، وعلياً وجعفر الأصغر، وعثمان، وزينب، وفاطمة، تزوجها علي بن يزيد بن ركانة من بني عبد المطلب بن عبد مناف.
 (15)كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٣ - الصفحة ٢٩
وكان لأبي الحسن عليه السلام سبعه وثلاثون ولدا ذكرا وأنثى منهم الإمام علي بن موسى الرضا عليه السلام وإبراهيم والعباس والقاسم لأمهات أولاد شتى وإسماعيل وجعفر وهارون والحسن لام ولد واحمد ومحمد وحمزة لام ولد عبد الله وإسحاق وعبيد الله وزيد والحسن والفضل وسليمان لأمهات أولاد وفاطمة الكبرى وفاطمة الصغرى ورقية وحكيمة وأم أبيها ورقية الصغرى وكلثوم وأم جعفر ولبابة وزينب وخديجة وعلية وآمنة وحسنة وبريهة وعايشة وأم سلمة وميمونة وأم كلثوم.
 (16)سر السلسلة العلوية ص 41 الهامش الذي كتبه المحقق
ولد جعفر بن موسى الكاظم بن جعفر الصادق يقال له الخواري، وهو لأم ولد ثماني نسوة وهي: حسنة وعباسة و عائشة وفاطمة الكبرى وفاطمة ( أي الصغرى ) وأسماء وزينب وأم جعفر....
 (17)كشف الغمة - ابن أبي الفتح الإربلي - ج ٣ - الصفحة ٦٠
واما أولاده فكانوا ستة خمسة ذكور وبنت واحدة وأسماء أولاده محمد القانع الحسن جعفر إبراهيم الحسن (خ ل) وعايشة واما عمره فإنه مات في سنة مأتين وثلث وقيل مأتين وسنتين من الهجرة في خلافة المأمون وقد تقدم ذكر مولده في سنة ثلاث وخمسين ومأة فيكون عمرة تسعا وأربعين سنة وقبره بطوس من خراسان بالمشهد المعروف به عليه السلام وكانت مدة أبيه موسى عليه السلام أربعا وعشرين سنة وأشهرا وبقائه بعد أبيه خمسا وعشرين سنه آخر كلامه.
 (18)الإرشاد - الشيخ المفيد - ج ٢ - الصفحة ٣١١
وتوفي أبو الحسن عليه السلام في رجب سنة أربع وخمسين ومائتين، ودفن في داره بسر من رأى، وخلف من الولد أبا محمد الحسن ابنه وهو الإمام من بعده، والحسين، ومحمدا، وجعفرا، وابنته عائشة.
 (19)أنساب الأشراف (1/  391)
قال أبو اليقظان وغيره: ولد الحسن بن علي عليهما السلام: حسناً، ......وأبا بكر وعبد الرحمن. والقاسم، أمهم أم ولد ولا بقية لهم. وطلحة بن الحسن أمه أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله، وأمها ابنة قسامة طائية. وعمرو بن الحسن، أمه ثقفية، ويقال أم ولد. وأم عبد الله لأم ولد، تزوجها علي بن الحسين.
 (20)تاريخ دمشق (45/  304)
أخبرنا أبو عبد الله محمد بن إبراهيم النشابي أنا أبو الفضل أحمد بن عبد المنعم بن أحمد بن بندار أنا أبو الحسن العتيقي أنا أبو الحسن الدارقطني نا أبو بكر الشافعي نا عبد الله بن ناجية نا عباد بن أحمد العرزمي نا عمي عن أبيه عن عمرو بن قيس عن عطية عن أبي سعيد قال مررت بغلام له ذؤابة وجمة إلى جنب علي بن أبي طالب فقلت ما هذا الصبي إلى جانبك قال هذا عثمان بن علي سميته بعثمان بن عفان وقد سميته بعمر بن الخطاب وسميت بعباس عم النبي ( صلى الله عليه وسلم ) وسميت بخير البرية محمد ( صلى الله عليه وسلم ) فأما حسن وحسين ومحسن فإنما سماهم رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) ....
 (21)أنساب الأشراف (1/  181)
تزوج عائشة بنت أبي بكر الصديق رضي الله تعالى عنه. وأمها أم رُومان بنت عمير، من بني كنانة، وأمها كنانية أيضاً. وقال بعضهم: أم رومان بنت الحارث بن الحويرث. وذلك خطأ. وكانت عائشة مسماة لجبير بن مطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف، فسلها أبو بكر سلاّ وزوّجها رسولَ الله صلى الله عليه وسلم. والثبت أنها لم تُسَمَّ لأحد قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم. ولم يتزوّج رسولُ الله ببكر غيرها، وكان أبا عُذرها. وتزوّجها بمكة وهي ابنة ستّ، ويقال سبع. وابنى بها وهي ابنة تسع في شوال سنة إحدى من الهجرة. وكانت أحب نسائه إليه.
أنساب الأشراف (1/  187)
وتزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم حفصة بنت عمر بن الخطاب بن نُفيل بن عبيد العزى، رضي الله تعالى عنها في شعبان، سنة ثلاث قبل أحد بشهرين. وأم حفصة: زينب بنت مظعون بن حبيب بن وهب بن حذافة، أخت عثمان بن مظعون. وأمها خزاعية. وكانت حفصة عند هنيس بن حذافة بن قيس بن عدي بن سعد بن سهم بن عمرو بن هُصيص بن كعب بن لؤي، فمرض والنبي صلى الله عليه وسلم ببدر وهو معه. ومات مقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدر. فخلف عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك.
 (22)نسب قريش (ص: 35 )
هاجر عثمان بن عفان الهجرتين إلى أرض الحبشة، مع رقية بنت النبي صلى الله عليه وسلم. وخلفه رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابنته حين خرج إلى بدر؛ وكانت رقية مريضة؛ فماتت يوم قدم يوم زيد بن حارثة المدينة بشيراً بفتح بدر. وضرب له رسول الله صلى الله عليه وسلم بسهمه وأجره، وزوجه أم كلثوم بعد رقية، واستخلفه في غزوه إلى غطفان بذي أمر، بنجد.
 (23)الطبقات الكبرى لابن سعد (8/  22)
أخبرنا محمد بن عمر، حدثني عبد الله بن محمد بن عمر بن علي عن أبيه قال: تزوج علي بن أبي طالب فاطمة بنت رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في رجب بعد مقدم النبي، صلى الله عليه وسلم، المدينة بخمسة أشهر وبنى بها مرجعه من بدر، وفاطمة يوم بنى بها علي بنت ثماني عشر سنة.
 (24)مختصر تاريخ دمشق (ص: 3409)
تزوج الحسن بن علي حفصة ابنة عبد الرحمن بن أبي بكر وكان المنذر بن الزبير قد هو بها فأبلغ الحسن عنها شيئا فطلقها الحسن فخطبها المنذر فأبت أن تزوجه وقالت : شهر بي . فخطبها عاصم بن عمر بن الخطاب فتزوجها
الطبقات الكبرى (8/  468)
حفصة بنت عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق بن أبي قحافة بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم وأمها قرينة الصغرى بنت أبي أمية بن المغيرة بن عبد الله بن عمر بن مخزوم كانت عائشة أم المؤمنين زوجتها المنذر بن الزبير بن العوام وكان أبوها عبد الرحمن بن أبي بكر غائبا فلما قدم لم يجز ذلك ورده فلما صير الأمر إليه زوجها إياه فولدت له عبد الرحمن وإبراهيم وقرينة ثم خلف عليها بعد المنذر حسين بن علي بن أبي طالب وقد روت حفصة عن أبيها وعن عمتها عائشة وعن خالتها أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم سماعا
 (25)أنساب الأشراف (1/  272)
فولد إسحاق القاسم؛ أمه أم حكيم بن القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق، وأمها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر، وله عقب. وقال غير ابن الأعرابي: كان لعلي بن عبد الله بن جعفر عقب أيضاً.
 (26)الجوهرة في نسب النبي وأصحابه العشرة (ص: 288)
وولد محمد الباقر جعفرا وهو الصادق: ولده أبو بكر الصديق، رضي الله عنه مرتين. أمُّه أمُّ فروة بنت القاسم بن محمد بن أبي بكر، وأمُّها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر. وكان من ساكني المدينة. وبها مات في خلافة أبي جعفر في قول المدائني والواقدي. قال الواقديُّ: لمَّا خرج محمد بن عبد الله بن حسن بن حسن بالمدينة على أبي جعفر هرب جعفر بن محمد إلى ماله بالفُرُع. فلم يزل هنالك مقيما متنحِّيا عما كانوا فيه، حتى قُتل محمد فلما قُتل محمد واطمأنَّ الناس وأمِنوا رجع إلى المدينة، فلم يزل بها حتى تُوفي سنة ثمان وأربعين ومئة. وهو يومئذ ابن إحدى وسبعين سنة. وكان فاضلا، وتكذِب عليه الشيعة كثيرا، وكان من شيوخ مالك وسفيان الثوريِّ. ولمالك عنه في الموطأ تسعة أحاديث، منها خمسة متصلة مسندة، أصلها حديث واحد وهو حديث جابر الطويل في الحج، والأربعة منقطعة، وكان يُكنى أبا عبد الله.
 (27)نسب قريش (ص: 20)
وولد موسى بن عبد الله: عبد الله بن موسى، المتغيب اليوم بالمدينة؛ وأمه وإخوته: أم سلمة بنت محمد بن طلحة بن عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق.
 (28)نسب قريش (ص: 24، بترقيم الشاملة آليا)
وولد إسحاق بن عبد الله بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: يحيى، وأمه: عائشة بنت عمر بن عاصم بن عمر بن عثمان بن عفان، وأمها: كلثم بنت وهب بن عبد الرحمن بن وهب ابن عبد الله الأكبر بن زمعة بن الأسود، ولأم ولد؛ وخديجة بنت إسحاق، أمها: كلثم بنت إسماعيل بن عبد الرحمن بن القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق، وأخوها لأمها: القاسم بن إبراهيم بن الوليد بن محمد بن هشام بن إسماعيل المخزومي
 (29)جمهرة أنساب العرب (ص: 15)
وتزوج أم كلثوم بنت علي بن أبي طالب، بنت بنت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عمر بن الخطاب، فولدت له زيداً لم يعقب، ورقية؛ ثم خلف عليها بعد عمر - رضي الله عنه - عون بن جعفر بن أبي طالب؛ ثم خلف عليها بعده محمد بن جعفر بن أبي طالب؛ ثم خلف عليها بعده عبد الله بن جعفر ابن أبي طالب، بعد طلاقه لأختها زينب.
 (30)نسب قريش (ص: 25، بترقيم الشاملة آليا)
فولد الحسن، وهو الأفطس، ابن علي بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: زيداً؛ ومحمداً؛ وعلياً، كان يلقب " خزرى " ؛ وعمر؛ وحسناً؛ وحسنة؛ وكلثم: وخديجة؛ وفاطمة، لأم ولد؛ وحسيناً، وهو الذي غلب على مكة أيام أبي السرايا، حتى أخرجه منها ورقاء، وجهه إليه الجلودي، وأمه: جويرية بنت خالد بن أبي بكر بن عبيد الله بن عبد الله بن عمر بن الخطاب؛ وعبد الله، كان في سجن أمير المؤمنين هارون عند جعفر بن يحيى؛ فزعموا أن جعفر بن يحيى قتله بغير أمر هارون؛ وزينب، ابني حسن؛ أمهما: أم سعيد بنت سعيد بن محمد بن جبير بن مطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف.
 (31)نسب قريش (ص: 26 )
وولد يحيى بن الحسين بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: محمداً، درج؛ ومريم، أمهما: فاطمة بنت هشام بن إبراهيم بن إبراهيم بن عبد بن الأسود بن هشام بن عمرو، من عامر بن لؤي؛ وسليمان بن يحيى، لأم ولد؛ وعبدة بنت يحيى، أمها: أم حكيم بنت محمد بن سليمان بن عاصم بن عمر بن الخطاب.
 (32)نسب قريش (ص: 119، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت لعبد العزيز أيضاً بنت يقال لها: آمنة الكبرى، وتزوجها محمد بن عبد الله بن عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، ثم خلف عليها عبد الله أبو الكرام بن محمد بن علي بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب، وأمها: أم سلمة بنت معقل بن نوفل بن مساحق بن عبد الله بن مخرمة بن عبد العزى بن أبي قيس بن عبد ود بن نصر بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي بن كعب.
ومن ولد محمد بن عبد العزيز بن عبد الله بن عبد الله بن عمر: محمد...
 (33)الجوهرة في نسب النبي وأصحابه العشرة (ص: 274، بترقيم الشاملة آليا)
وأما أبان بن عثمان فهو من فقهاء التابعين وأفاضلهم. وروى عن أبيه عثمان وغيره من الصحابة. وحضر الجمل مع عائشة، وكان الثاني من المنهزمين وكانت أُمُّه وأمُّ عمرو أخيه أمُّ جنيدب بنت عمرو بن خممة الدَّوسيُّ.وكانت حمقاء تجعل الخنفساء في فمها، وتقول: حاجيتك ما في فمي. وكان أبان أبرص وأحول. يلقَّب نفيعا. وأصابه الفالج، وكانت عنده أمُّ كلثوم بنت عبد الله بن جعفر. وخلف عليها بعد الحجاج. وكان له عقب كثير منهم: عبد الرحمن بن أبان: كان عابدا مجتهدا. روي عنه الحديث.
موالي عثمان حمران وكيسان وذكوان.
 (34)نسب قريش (ص: 19، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت أم القاسم بنت الحسن عند مروان بن أبان بن عثمان بن عفان؛ فولدت له محمد بن مروان؛ ثم خلف عليها حسين بن عبد الله بن عبيد الله بن العباس بن عبد المطلب؛ فتوفيت عنده، وليس لها منه ولد.
جمهرة أنساب العرب (ص: 17، بترقيم الشاملة آليا)
وأم القاسم بنت الحسن بن الحسن، شقيقة مليكة، تزوجها مروان بن أبان بن عثمان بن عفان، فولدت له محمداً؛ ثم خلف عليها ابن عمها علي بن الحسين.
 (35)أنساب الأشراف (1/  297، بترقيم الشاملة آليا)
قال: فولدت المحياة لعلي أم يعلى، وكانت تخرج إلى المسجد في إزار فيقال: لها: من أخوالك؟ فتقول أو أو.
ولم تلد زينب للحسن، وولدت الرباب للحسين سكينة بنت الحسين تزوجها عبد الله بن الحسن بن علي بن أبي طالب وكان أبا عذرها فمات عنها؛ ثم خلّف عليها مصعب بن الزبير فولدت له فاطمة. ماتت صغيرة، وأرملتموني كبيرة. وَخطبها عبد الملك بن مَروان فأبته؛ فتزوجها عبد الله بن عثمان بن عبد الله بن حكيم بن حزام بن خويلد، ثم الأصبغ بن عبد العزيز بن مروان ففارقها ولم يدخل بها وذلك أن عبد الملك نهاه عنها. ويقال: بل حملت إلى مصر، فلما قدمتها وجدته قد مات، فتزوجها زيد بن عمرو بن عثمان، ثم إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، لم يدخل عليها ولم ترض به اختارت نفسها.
 (36)أنساب الأشراف (1/  299، بترقيم الشاملة آليا)
وكانت فاطمة بنت الحسين عند الحسن بن الحسن، فولدت له عبد الله بن الحسن بن الحسن، وحسن بن حسن بن حسن، وإبراهيم بن الحسن بن الحسن، ثم خلّف عليها عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، وعبد الله هو المطرف، فولدت له محمداً -        
 (37)جمهرة أنساب العرب (ص: 36، بترقيم الشاملة آليا)
ومحمد الأصغر بن عبد الله بن عمرو بن عثمان بن عفان، وهو المعروف بالديباج، قتله " أبو جعفر " المنصور، والقاسم بن عبد الله، وأمهما فاطمة بنت الحسين ابن علي بن أبي طالب. فولد محمد الديباج، وهو الأصغر: عبد العزيز؛ وخالد، وله عقب؛ ورقية الكبرى أمهم أم كلثوم بنت إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله؛ وعبيد الله؛ وعبد الله؛ وعثمان؛ والقاسم، لأم ولد؛ ورقية الصغرى: أمها حفصة بنت عمران بن إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله. تزوج رقية الكبرى محمد بن هشام بن عبد الملك بن مروان، وتزوج رقية الصغرى إبراهيم ابن عبد الله بن الحسن " بن الحسن " بن علي بن أبي طالب، فقتل قبل أن يدخل بها؛ فحلف عليها محمد بن إبراهيم الإمام بن محمد بن علي بن عبد الله بن العباس.
 (38)نسب قريش (ص: 24)
وولد إسحاق بن عبد الله بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: يحيى، وأمه: عائشة بنت عمر بن عاصم بن عمر بن عثمان بن عفان، وأمها: كلثم بنت وهب بن عبد الرحمن بن وهب ابن عبد الله الأكبر بن زمعة بن الأسود
 (39)أنساب الأشراف (2/  421، بترقيم الشاملة آليا)
وتزوج عبد الله بن الزبير أم الحسن بنت الحسن بن علي وعائشة بنت عثمان بن عفان، فولدت بكرا؛ وتزوج قهطم بنت منظور فولدت حمزة، وخبيباً، والزبير، ومنذرا، وثابتا، وعبادا؛ ثم خلف على أختها أم هاشم؛ وتزوج ريطة بنت عبد الرحمن بن الحارث بن هشام، فولدت له عبد الرحمن؛ وتزوج حنتمة بنت عبد الرحمن بن الحارث بن هشام، فولدت له موسى، وعامرا. وسودت أم الحسن وجواريها على عبد الله حين قتل.
 (40)نسب قريش (ص: 25 )
ولد حسين بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: عبد الله؛ وعبيد الله؛ وعلياً؛ وأمينة الكبرى؛ أمهم: أم خالد بنت حمزة بن مصعب بن الزبير؛ ومحمداً؛ وحسناً، ابني حسين، لأم ولد؛ ويحيى؛ وسليمان، أمهما: عبدة بنت داود بن أبي أمامة بن سهل بن  (41)حنيف الأنصاري؛ وإبراهيم؛ وأمينة الصغرى، لأم ولد.
أنساب الأشراف (1/  297، بترقيم الشاملة آليا)
ولدت الرباب للحسين سكينة بنت الحسين تزوجها عبد الله بن الحسن بن علي بن أبي طالب وكان أبا عذرها فمات عنها؛ ثم خلّف عليها مصعب بن الزبير فولدت له فاطمة. ماتت صغيرة، وأرملتموني كبيرة. وَخطبها عبد الملك بن مَروان فأبته؛ فتزوجها عبد الله بن عثمان بن عبد الله بن حكيم بن حزام بن خويلد، ثم الأصبغ بن عبد العزيز بن مروان ففارقها ولم يدخل بها وذلك أن عبد الملك نهاه عنها. ويقال: بل حملت إلى مصر، فلما قدمتها وجدته قد مات، فتزوجها زيد بن عمرو بن عثمان، ثم إبراهيم بن عبد الرحمن بن عوف، لم يدخل عليها ولم ترض به اختارت نفسها.
 (42)نسب قريش (ص: 25)
فولد موسى بن عمر بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: عمر، درج؛ وصفية؛ وزينب؛ أمهم: عبيدة بنت الزبير بن هشام بن عروة بن الزبير بن العوام.
 (43)نسب قريش (ص: 25)
فولد عبد الله بن الحسين بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب: بكراً؛ وقاسماً؛ وأم سلمة؛ وزينب، وهي تزوجها أمير المؤمنين هارون؛ فباتت عنده ليلةً، ثم طلقها؛ فلقبها أهل المدينة " زينب ليلة " ؛ وهم لأم ولد نوبية؛ وجعفراً؛ وفاطمة، أمها: أم عمرو بنت عمرو بن الزبير بن عمرو بن عمرو بن الزبير؛ وعبد الله بن عبد الله، يلقب أبا صعارة، لأم ولد.
 (44)نسب قريش (ص: 25)
وولد جعفر الأكبر بن عمر: علياً، أمه: فاطمة بنت عروة بن هشام بن عروة بن الزبير.
 (45)نسب قريش (ص: 26)
وولد إبراهيم بن حسين بن علي بن حسين بن علي بن أبي طالب: حسيناً، درج؛ وعبد الله؛ وزينب؛ وفاطمة، أمهم: بريكة بنت عبيد الله بن محمد بن المنذر بن الزبير بن العوام.
 (46) جمهرة أنساب العرب (ص: 15)
ولد أمير المؤمنين الحسن علي - رضي الله عنه - الحسن بن الحسن، وفيه العدد والبيت، أمه " خولة " بنت منظور بن زبان الفزارية؛ وزيد بن الحسن، وله عقب كثير: أمه أم بشر بنت أبي مسعود الأنصاري البدري؛ وعمرو؛ والحسين؛ والقاسم؛ وأبو بكر؛ وطلحة؛ أمه أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله
جمهرة أنساب العرب (ص: 17)
ولد الحسن بن علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - : عبد الله، وفيه البيت والشرف والعدد؛ وإبراهيم، وله عدد جم؛ وجعفر؛ والحسن، وأمه وأم أخويه عبد الله وإبراهيم: فاطمة بنت الحسين بن علي بن أبي طالب، وأمها أم إسحاق بنت طلحة بن عبيد الله، خلف عليها الحسين بعد الحسن؛
 (47)جمهرة أنساب العرب (ص: 22)
فولد علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب ستة رجال، كلهم أعقب، وهم: محمد، أمه أم عبد الله بنت الحسن بن علي بن أبي طالب؛ وزيد، لأم ولد؛ وعلي؛ والحسين؛ وعبد الله، شقيق محمد؛ وعمر، لأمهات أولاد؛ وبنات، وهن: خديجة، تزوجها محمد بن عمر بن علي بن أبي طالب؛ وعبدة؛ تزوجها محمد بن معاوية بن عبد الله بن جعفر بن أبي طالب، ثم خلف عليها بعده علي بن الحسن بن الحسن بن الحسن بن علي بن أبي طالب، ثم خلف عليها بعده نوح بن إبراهيم بن محمد بن طلحة بن عبيد الله
 (48)أعيان الشيعة - السيد محسن الأمين - ج ١ - الصفحة ٦٥٩
أمه أم فروة وقيل أم القاسم واسمها قريبة أو فاطمة بنت القاسم بن محمد بن أبي بكر وأمها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر وهذا معنى قول الصادق ع ان أبا بكر ولدني مرتين،
تذكرة الحفاظ (1/  166(                                                       
162 - 9 / 5 م 4 - جعفر بن محمد بن على ابن الشهيد الحسين بن علي بن ابي طالب الهاشمي الامام أبو عبد الله العلوى المدني الصادق احد السادة الاعلام وابن بنت القاسم بن محمد وام امه هي اسماء بنت عبد الرحمن بن ابي بكر فلذلك كان يقول ولدني أبو بكر 
 الصديق مرتين حدث عن جده القاسم وعن ابيه ابي جعفر




Sumber : http://www.facebook.com/notes/muhammad-umar-alaydrus/keharmonisan-hubungan-antara-sahabat-dan-ahlul-bait-nabi/302513159823353