Rabu, 06 Juli 2011

Perbaiki Niat Kamu (Pesan Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad)

Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad berkata :

Bekerjalah kamu sebesar kemauan kerasmu dan niatmu karena sesungguhnya besarnya pahala itu diberikan sebesar kemauan keras dan niat, bukan dilihat dari besarnya amal. Kalau seandainya khazanah pemberian Allah itu cuman dipenuhi oleh amalan ibadah, dan jika diambil satu saja dari Malaikat yang amalannya selalu bersujud (kepada Allah) semenjak dunia ini tercipta sampai hari kiamat, bahkan Malaikat yang lain (berbuat seperti itu) dalam satu rekaat, sedangkan Allah memberikan karunia kepada mereka para Malaikat untuk selalu mengingat-Nya sebagaimana yang telah dimaklumi dari keadaan-keadaan para Malaikat tersebut, maka sebesar apakahamalmu (dibandingkan mereka)?. Oleh karenanya, be ar tidaknya suatu pahala hanya dapat diukur dengan seberapa besar niatnya itu.

Adakalanya suatu
amalan yang kecil dapat bernilai besar karena niatnya
Adakalanya suatu
amalan yang besar dapat bernilai kecil karena niatnya

Barangsiapa yang mengaku bahwa niatnya itu baik, maka seharusnya ia melihat kepada amalnya, karena setiap amalan pasti akan merujuk kepada niatnya. Jika amalnya baik, maka hal itu menunjukkan bahwa niatnya juga baik. Jika amalnya jelek, maka hal itu menunjukkan bahwa niatnya juga jelek.

Jika kamu berbuat suatu kebaikan, maka niatkanlah untuk bisa berbuat lagi seperti itu. Jikapun kamu tidak bisa berbuat lagi seperti itu, maka kamu sudah diganjar atas niatmu. Begitu juga jika kamu tidak bisa berbuat (suatu kebaikan), maka niatkanlah (untuk bisa berbuat}...

semoga bermanfaat amin

Minggu, 05 Juni 2011

Pesan Habib Ali Al Habsyi Shahib Maulid Simthud Durar

Perhatikanlah ibadah-ibadah sunnah, peliharalah ia dengan sempurna, dan berpegang teguhlah dengan sekuat kuatnya, terutama yang berupa ratib-ratib.  Berhati-hatilah, jangan sampai anda meninggalkan hal itu.

Hidupkanlah malam anda dengan bangun malam, hidupkanlah siang anda dengan berpuasa, dan perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah dengan sebanyak banyaknya, karena ia merupakan jaringan kecintaan, berdasarkan sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits qudsi, `Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya, (Di akhir hadits itu dikatakan, `Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya dimana ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya dimana ia melihat dengannya-dan seterusnya hingga akhir hadits tersebut).

Maka hiruplah dari sumber yang jernih.  Jadilah anda termasuk orang yang berlomba-lomba dalam hal itu sehingga memperoleh kedudukan tersebut, dan teguklah air hujannya.  Berjuanglah dengan sungguh sungguh untuk menolak keinginan keinginan lain yang datang di dalamnya dan kotoran kotorannya yang mencegah masuknya anda dalam lembaran lembaran penerimaan, dan berjalanlah menuju Tuhanmu dengan perasaan hina dan kurang, tanpa melihat amal amal yang telah dilakukan, dan berlepas dirilah dari perbudakan kotoran kotoran dan keinginan keinginan lain itu dengan berkata melalui lisan dan hati anda “Bukan diriku, bukan pula perbuatanku” (Maksudnya, semuanya itu berkat anugerah Allah, bukan karena kemampuan diri sendiri)

Barang siapa masuk pada wilayah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat “dan tidaklah ia melainkan seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya”, ia akan selamat dari keinginan keinginan itu, akan beristirahat dari dorongan dorongan tersebut, dan akan mengetahu bahwa, seandainya tidak ada limpahan kemurahan dari Allah, seseorang tidak akan mendapatkan tujuannya.  Amal amal yang dilakukan seseorang hanyalah untuk menunjukkan ubudiyyah (penghambaan), sedangkan pemberian pemberian dan anugerah itu semata mata merupakan pemberian dan kemurahan dari Allah SWT.

Wahai pecintaku, perhatikanlah kekurangan dalam  hal ihwal anda yang tertinggi, dan senantiasalah berbuat pengakuan.  Jadilah anda hamba bagi Allah, bukan bagi keuntungan keuntungan, dan perbanyaklah wirid wirid bacaan Al qur`an, wirid para salaf dan amalan hati.  Karena, anugerah yang datang dari Allah tergantung wirid yang dilakukan

Tidak melalaikan kematian (Pesan Imam Ali bin Abi Thalib)

Saya menasehatimu wahai manusia untuk bertakwa kepada Allah dan memujiNya sebanyak banyakNya karena nikmat nikmatNya kepadamu dan ganjaranNya bagimu serta hak-haknya atasmu.  Lihatlah betapa banyak Dia (Allah) telah memilihmu untuk nikmatNya dan memperlakukanmu dengan belas kasihan.  Kamu berbuat dosa secara terbuka, Dia terus menutupimu.  Kamu melakukan perbuatan yang mengundang hukumanNya, tetapi dia memberikan banyak waktu kepadamu untuk bertobat

Saya menasehatimu juga agar mengingat kematian dan mengurangi kelalaianmu atasnya.  Bagaimana kamu mengabaikan Dia yang tidak mengabaikanmu? Mengapa mengharapkan dari dia (malaikat pencabut nyawa) yang tidak akan memberi kesempatan kepadamu? Orang mati yang kamu lihat cukuplah sebagai penasehat.

Mereka dibawa ke kuburnya, tidak menunggang sendiri, dan di tempatkan kedalamnnya, tetapi bukan atas kemauan mereka sendiri.  Seakan-akan mereka tidak pernah hidup di dunia ini dan seakan akan akhirat telah merupakan kediaman mereka.  Mereka telah membuat sunyi tempat dimana mereka dulu hidup dan sekarang sedang hidup dimana dahulu mereka merasa sunyi.

Mereka dulu sibuk tentang apa yang mereka akan tinggalkan dan tidak peduli kemana mereka harus pergi.  Sekarang mereka tidak dapat melepaskan diri dari keburukan, tidak dapat pula menambah kebajikan mereka.  Mereka dilalaikan oleh dunia dan dunia itu menipunya.  Mereka mempercayainya dan menjungkirkan mereka

Semoga Allah menaruh belas kasihan kepadamu.  Maka dari itu, kamu harus bersegera kearah untuk mempersiapkan rumahmu, yang telah diperintahkan untuk diisi dan kemana kamu telah dipanggil dan diundang.  Carilah penyempurnaan nikmat Allah atasmu dengan sabar dengan ketaatan kepadaNya dan menahan diri dari pelanggaran karena hari besok dekat pada hari ini.  Begitu cepatnya saat-saat hari, begitu cepatnya hari-harinya bulan, betapa cepatnya bulan-bulannya tahun, dan betapa cepatnya tahun-tahunnya kehidupan.

Rabu, 29 Desember 2010

Membedah Kedok Hadits Sekularisme

oleh : A. Dairobi Naji

Anas ra bercerita: Rasulullah pernah lewat di antara orang-orang yang sedang menyerbukkan kurma. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak melakukan hal itu, niscaya baik”. Kemudian keluarlah buah-buah kurma yang tidak baik. Suatu ketika Rasulullah kembali lewat di antara mereka. “Ada apa dengan kurma kalian,” tanya beliau. “Engkau mengatakan begini dan begini,” jawab mereka. “Antum a’lam bi amri dunyakum (Kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian),” sabda Rasulullah. (HR. Muslim).


Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan hadits tersebut muncul sebagai wacana yang teramat penting. Sabda beliau ini berimplika­si fatal jika dipahami dengan mentah-mentah. Mungkin saat beliau bersabda, tidak ada sahabat yang mempermasalahkan. Namun, sampai saat ini hadits tersebut menyisakan tanda tanya besar tentang sikap Islam terhadap urusan-urusan duniawi.

Bisa jadi, hadits ini diartikan sebagai pembenaran Rasulullah bahwa urusan dunia sepenuhnya diatur menurut selera masing-masing. Agama tidak turut campur dalam masalah-masalah itu. Pemahaman semacam ini adalah sekularisme tulen. Kalau begitu, apa Rasulullah mengakui sekularisme?

Dalam akselerasi pemikiran, kita bisa menemukan dua arah tinjauan dalam hadits ini. Tinjauan dalam wilayah  teologi (akidah) dan wilayah ideologi (baca: pijakan dasar kehidupan).

Wilayah Teologis

Cuplikan kisah di atas menggambarkan ketidaktepatan sabda Rasu­lullah dengan kenyataan. Beliau mengatakan, “Jika kalian tidak melakukan hal itu (penyerbukan), niscaya baik”. Nyatanya, setelah mereka meninggalkan penyerbukan itu, keluarlah buah kurma jelek, kering dan jatuh. Apakah Rasulullah keliru?

Inilah yang menyebabkan hadits di atas terbawa ke dalam perdeba­tan di wilayah akidah. “Ada kelompok yang menggunakan riwayat ini sebagai dalil bahwa Rasulullah tidak ma’shum (terjaga dari keke­liruan) dalam urusan-urusan dunia,” tulis an-Najdi dalam Muskilat al-Ahadits.

Tak pelak, terjadi beberapa penafsiran mengenai hal ini. Soalnya, jika Rasulullah tidak ma’shum, berarti beliau bisa bohong dalam penyampaiannya, padahal seperti yang telah masyhur dalam akidah Ahlussunnah, bahwa berbohong merupakan hal yang mustahil bagi utusan Allah.

Syekh Ibrahim al-Baijuri, teolog terkemuka Ahlussunnah, menolak dengan tegas pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah dalam hal ini tidak ma’shum (keliru). Menurutnya, apa yang telah diucapkan beliau dalam hadits di atas adalah harapan (insya’). Logikanya, bagaimanapun harapan tidak bisa divonis benar atau keliru. Rasu­lullah berharap kurma itu baik. Kalaupun harapan itu tidak menja­di kenyataan, tidak bisa dikatakan beliau keliru, tidak ma’shum. (Jauharah at-Tauhid).

Dalam pandangan al-Qurthubi, Rasulullah tidak berkata keliru dalam hal tersebut. Sebab, beliau bukan seorang yang menekuni pertanian, sehingga dalam menyikapi penyerbukan itu, Rasulullah berpedoman kepada kaidah umum bahwa tidak ada yang bisa men-ta’tsir (memberi pengaruh) kecuali Allah, seperti yang tertera dalam riwayat Thalhah, Rasulullah bersabda: “Menurut dugaanku, hal itu (penyerbukan) tidak berguna apa-apa.

Wilayah Ideologis

“Hadits ini betul-betul rancu,” komentar an-Najdi. Sebab, seperti yang ia tuturkan dalam Muskilat al-Ahadits an-Nabawiyah, urusan dunia itu mencakup mu’amalat, tindak kriminal, peperangan, medis dan berita tentang umat masa silam dan yang akan datang. Bisakah Rasulullah dikatakan berbohong dalam hal-hal tersebut, sehingga tidak wajib diikuti dan dibenarkan? Pemahaman semacam ini jelas sudah keluar dari agama.

Lantas, bagaimana semestinya kita menafsiri hadits ini? Yang jelas, hadits antum a’lam bi amri dunyakum bukan pembenaran Rasulullah terhadap pemilahan urusan dunia dan agama. Selain terkait dengan asbabul wurud-nya, terlalu berani jika hadits ini digunakan untuk merevisi ketentuan-ketentuan Islam yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman secara proporsional. Sangat naif, jika hadits ini digunakan sebagai dalil untuk mengabaikan hadits-hadits lain yang berbicara tentang urusan duniawi. Apakah itu tidak mirip —kalau tidak boleh dika­takan sama— dengan sikap orang-orang kafir terhadap al-Qur’an, mengambil yang sesuai dengan selera dan menolak ayat yang tidak mereka sukai?

Hadits ini sama sekali bukan pembenaran terhadap sekularisme. Pemahaman bahwa hadits ini sebagai penyerahan urusan dunia kepada masing-masing individu bermula dari pemahaman yang terpotong. Memahami keseluruhan hadits tersebut hanya dari potongan kalimat antum a’lam bi amri dunyakum merupakan pelanggaran terhadap etika berpikir. Tidak etis, jika kita memahami pernyataan seseorang, apalagi sabda Nabi, tidak dari konteksnya. Soalnya, konteks merupakan qarinah yang menuntun kepada apa sebenarnya yang dimak­sudkan oleh qail-nya.

Melihat konteks kalimat, posisi antum a’lam bi amri dunyakum dalam hadits tersebut bukan sebagai tasyri’, tapi i‘tidzar (dalih) Rasulullah atas ketidaksesuaian pandangan beliau dengan kenyataan. Indikasi i’tidzar itu juga didukung oleh riwayat-riwayat lain.

Diriwayatkan oleh Thalhah dari ayahnya: “Bersama Rasulullah aku lewat di antara orang-orang yang sedang memanjat pohon kurma. “Apa yang mereka lakukan?” tanya Rasul. “Menyerbukkan kurma,” jawab sahabat. Rasulullah bersabda: “Menurut dugaanku, itu tidak memberi pengaruh apa-apa”. Sahabat memberitahukan sabda Rasul tersebut kepada para pemanjat. Mereka meninggalkan pekerjaan itu. Lalu sahabat memberitahukan hal tersebut kepada Rasul. Rasulullah bersabda: “Jika hal itu berguna, maka lakukanlah. Aku hanya berpraduga. Jangan kau memegang pradugaku, tapi jika aku menyam­paikan sesuatu dari Allah, maka ambillah. Sesungguhnya aku takkan berdusta atas Allah.” (HR. Muslim)

Riwayat ‘Ikrimah, dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Aku ini seorang manusia. Jika aku memerintahkan urusan agama kepada kalian, maka kerjakanlah. Bila aku memerintahkan sesuatu dari pendapatku, maka aku ini adalah manusia.”

Dalam Ikmal al-Mu’allim, al-Ubayy mengemukakan bahwa sabda Rasu­lullah dalam menanggapi ketidaksesuaian pendapat beliau dengan kenyataan ini adalah murni sebagai i’tidzar. Beliau mengungkapkan i’tidzar itu karena khawatir terjadi salah persepsi dari orang-orang yang berpikir dangkal bahwa dalam hal ini beliau berbohong. “Kalau tidak karena kekhawatiran itu, tidak perlu beliau mengung­kapkan alasan-alasan tersebut,” kata al-Ubayy. Soalnya, dalam hal ini beliau bukan memberitahu, tapi hanya sekedar mengungkapkan dugaan beliau tentang hal tersebut.

Nah, hadits Antum a’lam bi amri dunyakum, menurut al-Ubayy, merupakan puncak dari i’tidzar beliau yang berupa dugaan (dhann), pandangan (ra’yu) ataupun kalimat “Aku adalah manusia”. (Ikmal Ikmal al-Mu’allimin, 8:111-114)

Abdullah an-Najdi menolak pemahaman sekularistik terhadap hadits riwayat Anas tersebut dengan klasifikasi umur ad-dunya. Menurut­nya sabda Rasulullah yang menyangkut urusan dunia ada dua macam. Pertama, sabda beliau yang didasarkan pada wahyu dari Allah. Hal ini tidak bisa diganggu gugat, ma’shum dan tak mungkin keliru. Kedua, sabda beliau yang merupakan hasil pemikiran beliau sen­diri. Yang kedua ini dimungkinkan terjadi keliru.

Dalam klasifikasi itu, an-Najdi memberi catatan penting bahwa hal-hal yang sudah tegas dikemukakan Rasul, tidak pernah diralat sampai beliau wafat, tidak mungkin keluar dari pemikiran dan dugaan beliau sendiri. Sebab, Allah berfirman: “Sesungguhnya dugaan itu tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran” (QS. Yunus:36). Semua yang beliau sabdakan dengan mantap adalah berdasarkan wahyu dari Allah SWT.

Dalam penafsiran lain, Imam an-Nawawi mengkhususkan hadits ini hanya dalam urusan duniawi dan mata pencaharian, sebagaimana yang tertera dalam teksnya. Tapi, urusan duniawi dimaksud, hanya berkisar hal-hal yang disabdakan beliau tidak dalam konteks tayri’ (menjadikan peraturan). Sedang ijtihad beliau mengenai urusan duniawi dalam konteks tasyri’, wajib dijadikan sebagai pedoman. Sedang dalam pandangan Ibnu Taimiyah, semua Qaul ar-Rasul adalah syari’at. Dalam hadits penyerbukan kurma ini Rasu­lullah tidak melarang untuk melakukan penyerbukan. Mereka salah paham bahwa Rasulullah melarang mereka melakukan penyerbukan.

Al-Hasil, semuanya sepakat bahwa hadits ini tidak bisa dipahami hanya pada potongan kalimat antum a’lam bi amri dun’yakum. Tapi, harus dipahami sesuai konteks kalimat. Baik, secara lafdhiyah  maupun haliyah, terdapat qarinah yang mengindikasikan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan dalil pemasrahan urusan dunia kepada masing-masing orang.


Sumber  :  www.sidogiri.net

Penyakit suka bicara

Kalam Al-Imam Al-Hafidz Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad
Berkata sebagian ulama terdahulu,
“Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka dibukakan baginya amalan, dan ditutup baginya pintu perdebatan. Dan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan keburukan bagi seseorang, maka ditutup baginya amalan, dan dibukakan baginya pintu perdebatan.”
Sering pula Imam Malik ra mencela seseorang yang memperbanyak omongan dan mudah berfatwa. Beliau ra pernah berkata, “Seseorang diantara mereka berbicara bagaikan unta. Ia gampang menyatakan, ‘Hal ini begini dan hal itu begitu.’ “
Beliau ra juga berkata, “Berbantah-bantahan dalam masalah ilmu dapat mengeraskan hati dan membuahkan kebencian.” Bila ditanyakan kepada beliau tentang suatu masalah, beliau sering menjawab, “Aku tidak tahu.” Demikian juga Imam Ahmad ra, beliau melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Imam Malik ra.
Dan telah diriwayatkan adanya larangan memperbanyak pertanyaan dan mereka-reka persoalan, serta menanyakan sesuatu yang belum terjadi, yang bila hal tersebut ditelusuri, maka akan jadi berkepanjangan. Seiring dengan apa yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya pada perkataan ulama terdahulu dan para imam, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan lain-lain, terdapat penegasan terhadap sumber hukum dan dasar-dasar hukum dalam perkataan yang ringkas dan dapat dipahami maksudnya tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Dan bahkan perkataan yang panjang lebar dari orang-orang yang mudah bicara dengan akalnya itu, tidak mengandung kebenaran seperti yang terdapat pada perkataan para ulama terdahulu dan para imam meskipun perkataan para ulama dan imam itu ringkas.
Ulama terdahulu yang lebih suka berdiam diri dan tidak mengubris perselisihan dan perdebatan, bukan berarti mereka bodoh dan tidak mampu dalam hal itu, tetapi mereka sengaja berdiam diri karena kapasitas ilmu yang mereka miliki, serta rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang-orang yang datang sesudahnya, mereka lebih suka mencari-cari persoalan, bukan karena mereka memiliki kelebihan ilmu dibandingkan orang lain, akan tetapi mereka melakukan hal itu karena rasa senang mereka terhadap bicara dan kurangnya rasa wara’. Seperti yang telah dikatakan oleh Al-Imam Al-Hasan ketika beliau mendengar orang-orang yang suka berselisih,
“Mereka adalah kaum yang sudah bosan beribadah dan menganggap remeh suatu perkataan, serta telah berkurangnya rasa wara’ mereka sehingga mereka tidak segan-segan untuk berbicara.”
[Disarikan dari Fadhl Al-Ilm As-Salaf 'ala Al-Khalaf  Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hanbaly]